Teruslah Sibuk Memperbaiki Diri

 Teruslah Sibuk Memperbaiki Diri

 

design by Canva

Setiap kita tahu, bahwa tidak ada satupun manusia di dunia ini yang mendapat predikat terbaik, tanpa ada satupun dosa pada diri. Tidak ada satupun insan yang luput dari segala kekhilafan, apapun bentuknya.


Begitupun dengan saya. Seorang perempuan dengan segala keterbatasan. Mungkin bagi teman-teman yang pernah, atau masih sudi mengenal saya, baik secara pribadi maupun sambil lalu, sedikit tidak percaya, bahwa saya sejatinya bukanlah sebaik yang dipikirkan.

Ya... orang lain hanya melihat saya dari luar saja. Mungkin sebagian mengira, diri ini sebagai sosok pendiam, lemah lembut, dan penyayang. Waduh, kok jadi memuji diri sendiri, ya. Sungguh, saya bukanlah tipe perempuan seperti yang diduga.

Semua karena Allah Swt telah menutup segala aib saya

Sejujurnya, sayapun seringkali tidak bisa menahan emosi kala berhadapan dengan hal-hal yang bertentangan dengan hati dan pikiran. Seringkali mengeluarkan pendapat, bahkan menimbulkan perdebatan dengan orang lain, apabila belum menemukan sepakat. Meskipun pada akhirnya memilih bersikap diam karena tak ingin memperpanjang masalah.

Betul, saya memilih bersikap diam, apalagi beberapa tahun belakangan, mengalami beberapa peristiwa yang membuat diri ini tersadar, bahwa tidak semua ekpektasi menjadi senyatanya, bahwa tidak semua harap akan terwujud, tak hanya belaka.

Hal ini dilatari karena saya pernah mengalami beberapa luka tak berdarah yang hingga kini, mungkin masih belum betul-betul menemukan penyembuh. Bisa jadi karena saya terlalu memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi, akibat overthingking, hingga menyebabkan krisis kepercayaan diri.

Terus berproses menjadi pilihan

Sengaja saya menulis tentang ini, agar kelak jejak-jejak yang tertinggal dalam tulisan ini bisa menjadi pengingat diri, bahwa berproses untuk terus belajar memperbaiki diri sangatlah penting.

Meskipun sempat mengira bahwa semua akan cepat berlalu, dan saya bisa sembuh secepat membalik telapak tangan.

Nyatanya, proses untuk sembuh memerlukan waktu yang sangat panjang. Beberapa kali saya terjatuh, dan terseok-seok untuk bangkit. Beberapa kali hampir putus asa, dan merasa tak sanggup menghadapi segala permasalahan menghadang.

Saya lelah.

Saya sudah tidak menginginkan apapun.

Menyedihkan sekali, saat menyadari, bahwa hal tersebut merupakan sebuah kesalahan. Hal itu sama saja menunjukkan, akan kurangnya rasa syukur yang telah Allah Swt karuniakan.

Sama juga menganggap bahwa setiap ujian merupakan salah satu bentuk sayang-Nya yang tak terhingga pada saya.

Saya lupa bahwa rencana saya bukanlah rencana yang baik, tetapi setiap rencana-Nya, itu pasti yang terbaik.

Diripun seolah melupa makna, bahwa dibalik setiap ujian, apabila mau bersabar, maka akan hadir kemuliaan. Allah Swt yang akan memberikan kebahagiaan dari arah atau bentuk yang tidak akan pernah saya tahu.

Langkah yang perlu diambil adalah saya harus terus memperbaiki diri. Melakukan hal-hal baik, dalam segala bentuk. Tidak usah berharap apapun atas kebaikan-kebaikan tersebut. Apalagi berharap akan mendapatkan pujian dari manusia.

Lakukan saja, semua demi Allah Swt.

Begitu hati ini berkata.

Begitulah. Saya hanya perlu untuk terus memperbaiki diri. Apapun bentuk dan prosesnya, yang harus dinikmati. Salah satunya, dengan menulis apapun, yang baik-baik. Semoga ini menjadi salah satu jalan meraih rida-Nya. Aamiin.

 

#inspirasi

 

 

 

Post a Comment

0 Comments