Si Introvert Yang Telah Berubah



Si Introvert Yang Telah Berubah

pic by pixabay


Menjadi pribadi yang tertutup dan lebih senang menyendiri, itulah aku, Novarina Dian Wardani. Sagitarius yang lahir tanggal 23 November 1978, di Nganjuk, lebih dari 40 tahun yang lalu, dengan weton Kamis Pahing. Mungkin sebagian dari teman-teman ada yang tidak percaya, kalau aku seorang yang tertutup. Kenyatannya memang begitu. Beberapa tahun yang lau.


Menikmati kesendirian. Berkutat dengan buku, mendengarkan musik dan kadang menulis di buku harian, lebih sering kulakukan, daripada hangout bersama teman. Aku minder, tidak percaya diri, merasa tidak seorangpun mau berteman denganku.

Keadaan yang didukung dengan kondisi tubuh yang jauh dari ramping, tidak menarik dan mempunyai pemikiran bahwa tidak seorangpun mau berteman denganku, apalagi ada cowok yang naksir. Sungguh suatu pemikiran yang naïf sebenarnya.

pic by pixabay

Dengan tubuh yang gemuk, (bahkan ada yang menyebutku ‘bom’, saat sekolah dulu), tentu aku sering menjadi bahan bully teman-teman. Suatu penderitaan bagiku. Bertahun-tahun dalam kondisi seperti itu, membuatku semakin tenggelam bersama sepi.

Melewati masa remaja, aku semakin hobi berkirim surat atau korespondensi bersama teman-teman. Sengaja kupilih yang domisilinya jauh, bahkan diluar pulau, agar kesempatan untuk bertemu menjadi mustahil. Sekali lagi, suatu pikiran yang bodoh, bukan?

Seiring berjalannya waktu, meskipun belum sepenuhnya, aku mulai membuka diri. Menjalin pertemanan dengan siapapun. Mencoba menerima kekurangan diri, meskipun ragu sering menghinggapi.

Tetapi kegemaran menulis saat itu, meskipun belum seperti sekarang, tetap aku lakukan. Buku harian yang berisi curahan hati, sering berganti lembar demi lembar, hingga berganti buku. Mencoba menikmati aktivitas ini, meskipun belum terbersit bahwa hal ini kelak menjadi hal yang banyak mengubah hidupku.

Hingga awal tahun 2016, merasakan ada sesuatu yang begejolak saat diri ingin terus menggores pena. Ingin belajar menulis dan menjadi penulis. Tetapi ada aral dihadapan. Aku belum tahu arah, belum tahu harus berguru pada siapa.

Pada suatu saat, ketika sedang membuka akun pertemanan, yaitu facebook, aku menemukan tulisan seseorang, dengan, gaya tulisan agak nyleneh dan cenderung blak-blakan. Tapi aku suka. Lantas memberanikan diri untuk mengenalnya lebih dekat. Ternyata, dibalik tulisannya yang cenderung absurd, dia baik, mau berbagi ilmu dengan siapapun.

pic by pixabay

Suatu saat, dia mengadakan sebuah antologi dan diberitahukan bahwa naskah yang lolos seleksi, akan dijadikan buku. Wah… sebuah kesempatan yang tentu saja sangat menantang dan membuat senang. Sebuah mimpi akan segera terwujud. Nama tercantum di sebuah buku beserta tulisan didalamnya. Akupun teringat, pernah mempunyai sebuah naskah dalam bentuk cerpen. Lantas dengan sangat percaya diri, kukirim naskah tersebut. Hasilnya? Naskah tidak sesuai harapan penyelenggara antologi! Bahkan dari 6 lembar yang kukirim, terpangkas menjadi 3 lembar saja!

Sedih. Jelas. Sebagai penulis pemula, itu sungguh membuatku sangat sakit hati. Akupun berhenti menulis. Menangis tersedu di pojokan. Menyedihkan.

Tetapi penyelenggara antologi masih mau berbaik hati dan memberi kesempatan. Bagi yang mau memperbaiki naskah dan sesuai dengan tema, naskah tetap akan dijadikan buku. Tanpa ragu, kuambil kesempatan itu. Bertekad menjadikan tulisan lebih baik.

Setiap keberhasilan dan kesuksesan seringkali harus melalui perjuangan. Itu terjadi juga pada naskahku. Tidak mudah bagi seorang pemula seperti, bisa membuat naskah cerpen yang baik. Diksi yang lemah, alur kurang mengena, penggunaan EYD (sekarang EBI) yang tidak pas dan sebagainya, membuat naskahku termasuk kategori kurang.

Namun semua terbayarkan. Saat naskah bisa kuperbaiki dan lolos. Itulah antologi pertamaku.

Kenyataan saat diri bisa diterima, meskipun hanya melalui untaian kata, membuat rasa percaya diri menjadi tumbuh. Aku tidak lagi merasa sendiri.



Begitulah. Si introvert ini telah berubah. Melalui tulisan, semangat bertumbuh, terselip rasa bahagia. Menulis seolah menjadi bagian dari hidup, tidak sekadar kebutuhan belaka. Aku berharap, masih bisa terus menulis, menebar kebaikan dan ada manfaat yang bisa diambil orang lain. Adapun realita aku mendapat rejeki dari menulis, dalam bentuk apapun, kuanggap semua bonus dari Allah.



#KOPLING
#TantanganPerkenalanDiri




Post a Comment

12 Comments

  1. Saya pun introvert nih mbak, mau digimanain kok tetep sama ya 😣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cobalah untuk menyapa orang lain terlebih dulu. Keramahan, menyediakan diri untuk menjadi teman dan pendengar yang baik, semoga menjadi langkah awal yang baik, untuk kita membuka diri, mbak Kiky ^^

      Delete
  2. Iyakah? Belum percaya, wong ramah gini kok

    ReplyDelete
  3. Matur nuwun. Masih belajaran kok ^^

    ReplyDelete
  4. Weh. Bubuhan Kopling nih. Hehehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekaligus menguji diriku sendiri, bisa menulis sesuai tantangan atau tidak, mas Zen ^^

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^