Jadilah Pemenang Di Setiap Tantangan

Jadilah Pemenang Di Setiap Tantangan

       

sumber : pixabay.com


                       
Melihat salah satu acara favorit yang tayang sore ini (Minggu, 10 Maret 2019), di salah satu televisi swasta, membuat aku mempunyai ide untuk menulis. Tentang tantangan. Tentang kompetisi. Tentang percaya pada kemampuan diri sendiri.


Acara yang kumaksud adalah Masterchef Indonesia. Suka banget dengan acara ini. Meskipun aku tidak begitu pandai memasak, tetapi yang membuat kontestan harus pandai berkreasi dengan bahan-bahan yang sudah disiapkan menjadi olahan hingga siap disajikan untuk dicicipi para juri, menjadi poin tersendiri bagiku. Apalagi kalau ada chef Juna dengan gayanya yang sok cool banget (maaf ya, chef, hihi). Bikin gemes deh.

 
sumber : google.com

Ceritanya, pada tayangan kali ini, aku menemukan hal yang cukup menarik. Seperti pada judul di atas, tentang menjadi pemenang di setiap tantangan. Saat itu, para kontestan diberi kesempatan untuk membuat olahan yang akan dinilai para juri. Bahan utamanya adalah ikan barramundi.

Ikan barramundi atau kakap putih adalah suatu jenis ikan berpindah dalam keluarga Latidae dari ordo Perciformes. Jenis ikan ini tersebar luas di wilayah Hindia-Pasifik Barat mulai dari Asia Tenggara sampai Papua Nugini dan Australia Utara. Ikan ini dikenal dengan nama Pla kapong di Thailand dan Barramundi di Australia. Oleh komunitas ilmiah internasional, ikan ini disebut sebagai Asian see bass (kakap laut Asia) atau Australian sea bass (kakap laut Australia). Ikan ini merupakan salah satu komoditas budidaya laut unggulan di Indonesia (Wikipedia.com).

Aku tidak akan membahas lebih lanjut tentang ikan barramundi, tetapi tentang bagaimana perjuangan para kontestan untuk membuat olahan berbahan ikan tersebut serta reaksi para juri. Terbatasnya waktu, membuat para kontestan harus bisa berpikir cepat dan menggunakan kreasi semenarik mungkin, tentu dengan taste (rasa) yang diharapkan serta sajian sesuai harapan para juri, agar mereka bisa lolos di babak berikutnya.

Tidak sedikit kontestan yang merasa bingung mau diapakan ikan barramundi tersebut, sampai ada yang hampir kehabisan waktu hingga membuat olahan yang sekadarnya. Tentu saja ini membuat para juri kecewa. Apalagi ada yang menamakan olahan dengan sekadar nama begitu saja. Sontak membuat chef Juna (lagi-lagi dia!) tidak bisa meredam amarah dan memberitahukan para kontestan, bahwa acara tersebut merupakan kompetisi dan bukan ajang untuk main-main. Sudah seharusnya peserta bersungguh-sungguh.

Sebuah kompetisi, tentu ada yang menang, juga ada yang kalah. Ada yang masih bisa bertahan dan diberi kesempatan untuk memperoleh banyak hal baru, tetapi ada juga yang harus (bahkan terpaksa) berhenti melanjutkan langkah untuk berkompetisi dengan kontestan lain.

Begitulah yang terjadi. Saat acara tersebut, ada salah satu kontestan yang dianggap harus keluar karena dianggap kurang mampu menghasilkan masakan yang sesuai keinginan juri, tetapi pada kenyataannya malah bisa melanjutkan langkah ke babak selanjutnya. Sebaliknya, ada kontestan yang diyakini bisa meneruskan perjuangan, malah harus berhenti berkompetisi.

Ketika kenyataan tidak sesuai harapan, pasti ada sedih, airmata dan kehilangan. Begitulah. Beberapa peserta yang menginginkan temannya yang gagal tadi terus membersamai selama berkompetisi, tetapi pada kenyataannya harus menerima kegagalan, merasakan kekecewaan dan kehilangan teramat sangat. Namun keputusan sudah dibuat dan harus dijalankan.

Pada sesi penutupan, chef Juna dan juri lain menyampaikan, agar semua kontestan tidak menggantungkan nasib pada juri, sebab ini adalah sebuah kompetisi. Semua harus bisa menjadi pemenang pada setiap tantangan yang diberikan.

Serangkaian kata yang menjadi diriku sejenak bermuhasabah, mengintrospeksi diri sendiri. Sudahkah aku menjadi pemenang dari tantangan demi tantangan yang kuhadapi dalam hidup ini? Atau aku lebih sering berkeluh kesah dan mudah menyerah begitu saja?

 
sumber : google.com

Bisa jadi tidak hanya aku, mungkin juga Anda. Merasa menjadi manusia paling malang di dunia ini, ketika menghadapi suatu permasalahan, padahal diri sebenarnya tahu, bahwa hidup memang harus berhadapan dengan serangkaian permasalahan, baik kecil maupun besar, mudah diatasi maupun sulit, dan sebagainya.

Hidup ini sebuah kompetisi. Sudahkah kita siap menghadapi dan menjadi pemenang dari setiap tantangan hidup? Diri sendirilah yang bisa menjawabnya.


4 komentar:

  1. Harus banyak persiapan untuk menghadapi tantangan hidup ya mba? Harus banyak belajar nih, biar ga gagap.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hidup itu memang harus mau belajar. Bukankah begitu, mbak Ciani? ^^

      Hapus
  2. Terkadang kita sudah merasa kalah sebelum berusaha. Karena takut untuk menghadapi tantangan...😊😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu artinya tidak percaya pada kemampuan diri sendiri ya, mbak Elin ^^

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^