Rabu, 02 Mei 2018

Tidak Semudah Menyampaikan


sumber foto : pixabay.com


Akhir-akhir ini saya jarang sekali membuat sebuah tulisan untuk di posting di blog pribadi. Rasa bersalah selalu menghinggap. Teringat akan suatu hal yang seringkali tersampaikan pada teman-teman agar rajin untuk menulis. Tetapi pada kenyataannya, justru saya yang jadi jarang menulis. Sungguh menyedihkan.


Begitulah. Terkadang kita eh saya memang menjadi seseorang yang begitu mudahnya memberikan semacam peringatan, selfreminder pada orang lain, tetapi diri sendiri tidak mau bercermin, apakah yang telah disampaikan benar-benar sudah diterapkan pada diri sendiri apa belum.

Hal-hal semacam ini seringkali terjadi. Begitu mudahnya menyampaikan sesuatu agar orang lain bisa menerima saran, tetapi justru tidak mau melakukan hal tersebut.

Sebagai salah satu  contoh adalah tentang sikap untuk menjaga kekonsistenan dalam menulis seperti yang tersampaikan di awal tulisan ini.

Seringkali saya memberi semangat pada teman-teman agar terus berusaha untuk tetap menulis dalam keadaan apapun. Meskipun hanya beberapa kalimat, syukur-syukur tulisan tersebut cukup (pantas) untuk diposting di media sosial yang dimiliki, bahkan di blog pribadi.

Bahkan tak cukup sekali memberikan dorongan agar kita #eh saya tidak bingung untuk mencari ide menulis, karena banyak sekali ide bertebaran disekitar, bahkan bisa dimulai dari hal-hal sederhana, juga berdasar pengalaman pribadi.

Lantas, apakah hanya sesederhana itu dan menjadikan menulis sebagai salah satu aktivitas yang muddah untuk dikerjakan?

Ternyata tidak semudah angan saat berusaha tetap memberikan semangat pada diri sendiri. Bahkan sudah tidak lagi seperti beberapa saat yang lalu, saat masih terpatri untuk membuat dan memposting satu tulisan setiap hari di blog pribadi.

Ya, tidak semudah menyampaikan pada orang lain agar tetap konsisten menulis.

Lagi-lagi alasan fisik yang lelah setelah seharian beraktivitas diluar rumah, tak jarang ide yang melintas yang tidak bisa segera dieksekusi, menjadi penghambat untuk menulis. Suatu sikap yang tidak patut ditiru. Begitu mudahnya menyalahkan keadaan.

Padahal seharusnya saya lebih pandai lagi memanajemen, baik tentang diri sendiri maupun hal-hal lain.
Hal yang pasti adalah karena hingga saat ini saya masih belum pandai mengatur waktu antara kewajiban sebagai ibu, seorang istri, juga aktivitas sebagai seorang perempuan yang berpenghasilan diluar rumah.

Ternyata memang lebih mudah memberikan kata-kata secara lisan atau memengaruhi orang lain agar mengikuti keinginan kita, daripada melakukan sendiri hal tersebut.

Teringat istilah Jawa yang berbunyi : “wani ujar ora iso nglakoni”, yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia yaitu berani bicara tapi tidak bisa menjalani. Dengan kata lain, kita cenderung lebih mudah bicara tapi tidak berani menjalani apa yang disampaikan pada orang lain.

Sungguh. Dalam diri masih berharap, agar tidak hanya mempunyai niat untuk tetap menulis tetapi tidak benar-benar melakukan.

Saya masih ingin menulis. Sampai kapanpun. Semoga bisa konsisten. Aamiin.


#pengingatdiri



 



12 komentar:

  1. Akhirnya pecah telur juga 😃

    BalasHapus
  2. Duh, ikut tutup muka aku.

    BalasHapus
  3. Aku itu mba Nova. Maksud hati pengen rutin ngeblog minimal 2 kali seminggu, eh minggu lalu cuma publish 1 tulisan. Alasannya karena capek hingga ngedrop apalagi kalau banyak keluar kota. Tapi niat konsisten tetap ada, hihi...

    BalasHapus
  4. Semangat Mbaaaa...kamu pasti bisa...hehe he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.

      Biar bisa sekeren mbak Denik :-D

      Hapus
  5. Mank semangat it wajib kak..

    BalasHapus
  6. memulai mudah, istiqmahnya susah hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu juga jadi penghambat untuk terus bisa menulis. tetap semangat hehe

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...