Rabu, 18 April 2018

Pernikahan Dini, Salah Siapa?



Viral di media sosial, berita tentang pengajuan pernikahan oleh sepasang remaja berusia setingkat  pelajar SMP, dengan usia sekitar 13 tahun. Miris membaca berita ini, bila alasan hanya karena tidak berani tidur sendiri.



Ada yang membuat kita patut bertanya tentang hal ini? Kemana orangtua mereka? Membiarkan anak-anak berani mengambil keuputusan yang sangat penting dalam hidup. Ini tentang pernikahan, bukan permainan kanak-kanak, bila tidak suka, silakan pergi atau tinggalkan saja.

Ini tentang keinginqn para belia yang sewajarnya menyibukkan diri dengan mengisi hal-hal positif dalam masa perkembangan mereka. Saat yang seharusnya disibukkan dengan prestasi.

Rasanya teringat pada masa puluhan tahun silam, saat aku berada diusia seperti mereka. Jangankan memikirkan tentang menikah, memikirkan tugas dan pe-er dari sekolah saja sudah pusing. Jangankan memikirkan tentang pasangan hidup, memikirkan jerawat yang selalu muncul di wajah hingga kurangnya rasa percaya diri dengan kondisi tubuh yang gemuk, dan berpikiran bahwa tidak ada satupun cowok yang naksir saja, sudah membuat diri menjadi seorang yang introvert, lebih senang menyendiri.

Ini bukan kebohongan. Sungguh. Terlalu sibuk dengan diri sendiri membuat diri lupa bahwa masih banyak hal bermanfaat yang bisa dilakukan, daripada memikirkan tentang gebetan yang ternyata naksir teman sendiri #eh kok malah curhat.

Ingatan tentang masa remaja rasanya ada penyesalan. Bila ada kesempatan untuk mengisi hari dengan kegiatan positif, ingin rasanya saat itu mempunyai kesempatan untuk berkarya lebih banyak lagi, menjalin banyak peluang untuk bisa belajar dengan lebih banyak teman, memanfaatkan waktu dengan suilaturahmi ke rumah teman-teman, para guru juga saudara-saudara, lebih bisa menerima kondisi tubuh dan mencintai tanpa banyak mengeluh, meyakinkan diri bahwa tubuh yang gemuk bukan menjadi penghalang untuk berprestasi, dan yakin bahwa masih banyak hati yang tulus menerima tanpa melihat kondisi fisik.

Buatku, masa remaja justru menjadi peluang untuk bisa menunjukkan pada dunia, tentang prestasi yang bisa dibanggakan. Setidaknya berprestasi bagi keluarga. Menjadi kebanggaan. Bukan justru membuat sebuah langkah yang bisa jadi menorah luka.

Ingin rasanya mengingatkan pada para remaja. Jangan sia-siakan masa kalian dengan melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya. Manfaatkanlah waktu dengan sebaik mungkin. Berprestasilah. Jangan mengubur cita hanya karena sebuah keinginan yang tidak masuk akal.

Jadilah kids zaman now yang bisa membanggakan. Bukan melakukan pernikahan dini tapi sama sekali tidak tahu arti dari menikah yang sebenarnya. Pernikahan tidak untuk main-main. Perlu kedewasaan dalam menyikapi  setiap permasalahan didalamnya.

Lantas, bila ada ada pertanyaan, pernikahan dini, salah siapa?

Tidak perlu saling menyalahkan.  Langkah yang tepat adalah, remaja, orangtua juga pihak sekolah saling duduk bersama, mencari solusi terbaik bagi semua pihak. Selesaikan dengan kepala dingin. Saling menyalahkan tidak akan menyelesaikan masalah.

Remaja Indonesia, berprestasilah! Banggakan diri dengan karya mendunia!




#onedayonepost
#nonfiksi
#tantanganpekanketiga

6 komentar:

  1. Lagi viral banget ya ini, di desa2 banyak juga pernikahan dini, yg ga pernah ke-expose loh 😢 dan kebanyakan karna masalah ekonomi orang tua

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi pernikahan dini terlalu riskan juga :(

      Hapus
  2. Ehm
    Tetanggaku nikah usia 13 dan 14
    Kasihan karena menikahny terpaksa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menyedihkan memang bila remaja harus menikah diusia dini demi menuruti perintah orangtua :(

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...