Minggu, 08 April 2018

Free atau Diskon

Free Atau Diskon






Mau dong, bukunya. Diskon yang gede ya. Kan sama teman sendiri. Eh, udah kayak sodara lho. Syukur-syukur malah dapat free. Mau banget. Ya?



Begitulah respon beberapa teman dan saudara saat buku solo terbit. Buku yang sangat diharapkan kelahirannya, penuh perjuangan saat membuat (menulis), butuh waktu yang tidak pendek untuk menyelesaikan karena hampir 1 tahun mengendap di file komputer.

Kejenuhan, kebosanan, lelah fisik, buntunya ide, merasa tidak sanggup menyelesaikan bahkan mengalami sakit secara fisik saat proyek pembuatan buku, merupakan hal-hal yang saya alami.

Sungguh. Rasanya ada yang membuat dada ini sedikit sesak saat ada respon seperti di atas.

Tentang apresiasi. Penghargaan. Empati pada diri pribadi. Itu sangat saya rasakan.

Mungkin yang mempunyai pendapat atau keinginan di atas, tidak atau kurang memahami, bahwa menulis berlembar-lembar, hingga berjumlah ratusan dalam target waktu yang telah ditentukan, juga mengalami tekanan pikiran hingga melemahnya fisik, itu sungguh tidak mudah. Apalagi bagi penulis pemula seperti saya.

Perjuangan cukup berat saat harus bisa menyelesaikan tulisan sebanyak minimal 100 halaman dalam waktu 1 bulan.

Mungkin hal ini mudah bagi para penulis yang sudah mahir, tapi tidak bagi saya.

Ya kalau aktivitas harian murni menulis saja. Saya juga beraktivitas di luar rumah yang membutuhkan perhatian ekstra. Juga melakukan kewajiban-kewajiban sebagai istri dan ibu rumah tangga, yang pastinya tidak sedikit.

Bukan mengeluh tentang kewajiban-kewajiban. Sama sekali tidak. Hanya sekadar memberi sedikit wawasan berkaitan dengan aktivitas sebagai seseorang yang belajar menulis, bahwa tidak mudah mengkondisikan semua.

Pada intinya adalah, saya sekadar menghimbau pada teman-teman, tolong hargai jerih payah kami sebagai penulis, apalagi yang masih pemula. Memang sangat membahagiakan bagi seorang penulis, bahwa tulisan ada yang membaca. Tetapi, saat buku solo terbit, tentunya penulis pemula ini sangat mengharapkan apresiasi pada banyak orang.

Tidakkah teman-teman bisa merasakan, bila ada manfaat dari buku yang dibeli, itu akan menjadi bagian dari hidup selamanya? Apalah arti harga buku, dibanding ilmu yang bermanfaat? InsyaAllah buku saya tidak mahal kok.

Sekali lagi, tolong hargai profesi kami. Hargai juga olah pikir dan rasa kami. Doakan juga agar suatu saat saya lebih bisa berbagi dalam hal apapun, termasuk berbagi buku secara gratis. Aamiin.




#onedayonepost
#nonfiksi
#pekanpertama

4 komentar:

  1. 😌 orang hanya tau hasil, tanpa melihat prosesnya ya mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah mas Lutfi. Kadang nyesek kalo ads yang bersikap begitu. Sukanya gratisan

      Hapus
  2. Wah selamat ya, Mbak..

    Semoga saya bisa menyusul nerbitin buku solo..

    Sabar sabar ..untuk perjuangan berdarah darah yg kurang dihargai

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mbak Wid. Tetap semangat ya ^^

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...