Hallo semua! Kali ini saya diberi kepercayaan dari teman-teman Komunitas One Day One Post dan Penerbit Embrio untuk membuat blogtour dan give away buku berjudul Nostalgia Biru, periode 2. Buku yang dikemas dalam bentuk antologi ini berisi 12 cerpen dari 12 penulis kece yang tergabung dalam One Day One Post.


Oiya, kalian bisa lho, mendapatkan buku ini secara gratis. Tapi sebelumnya, simak dulu reviewnya ya!

Judul buku : Nostalgia Biru
Penulis.     : Anggota Komunitas One Day One Post
Penerbit.    : Embrio Publisher
Tebal buku : 176 halaman
Cetakan.    : I (Pertama)
Tahun terbit : 2018


Sedikit saya singgung tentang isi beberapa cerpen dalam buku antologi ini ya.

Cerpen berjudul Reuni Biru karya Hikmah Ali ini dibuka dengan sepenggal puisi. Bercerita tentang luka, pengkhianatan juga ketegaran, saat realita mengatakan bahwa justru pedih ditoreh oleh orang-orang terdekat, dan sangat disayangi oleh sang tokoh utama. Takdir memang tak penah bisa ditebak oleh siapapun.

Tentang takdir, kau tak kan pernah bisa menebak
Ia rahasia-Nya, serupa kotak Pandora yang beraroma magis

Lihatlah aku yang terperangah bernanah di simpang jalan ini
Takjub bahwa aku bukan lagi diriku

Sebab sudah mengengkau. Maka menetap aku
Dengan darah, dengan airmata. Meski.

Maka duhai Tuhan, taatkan rasaku pada janji-Mu.
Bukan deramu atas nafsuku.

Hingga berakhir reuni biru ini.
Dan tak tercabik yang sudah utuh.

***
Ada juga kalimat yang membuat hati terhenyak, bahwa saat kita mengedepankan ego, saat itulah nurani mengabaikan logika. Tak peduli ada yang tersakiti dengan sikap tersebut.
Mengaitkan tali yang salah, mengabaikan nurani yang terkapar darah.

***

Hanya lima siang sejak reuni biru itu, Rara mengambil keputusan terbesar sekaligus terberat dalam hidupnya. Di tengah keletihan memungut puing-puing kekuatan setiap waktu, rona merah yang hilang, senyum yang duka, pelukan hampa untuk anak-anak mereka, bunda 2 anak itu merelakan semuanya. Membiarkan kekasih menemukan kehalalan bersama perempuan lain, sahabat terbaiknya.
Biarlah pernikahan mereka jauh lebih berharga ketimbang perasaannya yang kadung luka, ada sakinah yang harus diperjuangkannya. Agar tak tercabik-cabik yang sudah purna melampaui apapun, mitsaqan ghaliza dan jagoan kembar mereka.
Biarlah, mungkin saja reuni yang didambakan anak-anak mereka akan lebih meriah dengan banyak warna, sebab tak lagi hanya ada satu ayah satu bunda, tapi satu ayah dua bunda.

***
Cerpen selanjutnya yang cukup menarik berjudul Misteri Cinta karya Tita Dewi. Sebuah pernikahan, tidak cukup hanya bermodalkan cinta, tetapi juga kesiapan dalam menerima pasangan, termasuk soal kehadiran buah hati. Harus disadari, bahwa anak merupakan hak prerogatif Tuhan. Sebagai pasangan suami istri, ketidakhadiran anak seharusnya bukan satu-satunya alasan untuk mengkhianati cinta.

Berikut ini sedikit cuplikan isi dari cerpen tersebut.

"Setelah Radit tahu aku juga tidak bisa memberinya anak, dia juga pasti akan mencampakkan aku seperti Reno!" Ratih menangis. Tiba-tiba saja dia merasa benci denga Radit, benci dengan Reno, benci dengan dirinya dan benci dengan takdirnya.
Tiba-tiba Ratih merasakan belaian lembut pada lengannya. Tersentak, dirinya menoleh. Sesosok anak perempuan manis berambut sebahu tersenum padanya.
,Mama jangan menangis ya?" ujar anak itu sambil menghapus airmata di pipi Ratih. "Arina sayang mama," ucapnya sambil memeluk Ratih. Ratih balas mengecupnya dengan penuh kasih sayang.
Dia telah mendapatkan cinta yang tulus meski bukan dari para lelaki yang pernah hadir dalam hidupnya. Arina, seorang anak yatim piatu telah menemaninya setahun ini. Kini, dialah cinta yang mengobarkan semangat Ratih untuk menata masa depannya lagi.
***

Cerpen berjudul Kenangan Dulu karya Dyah Yukita ini menceritakan tentang sebuah kenangan yang tidak pernah tersampaikan dalam jujur. Ketika penyesalan tertinggal, semua tak akan bisa kembali terulang. Beberapa dialog dalam cerpen ini saya sertakan.

"Begitukah sikapmu terhadap orang yang kau kenal?" Tiba-tiba terdengar suara khas dari belakang, mengaburkan kenikmatan yang sedang kupendar.
Aku menoleh dan sejurus kemudian aku terdiam,
"Ah, bukan begitu. Aku hanya mengingat pesanmu waktu itu."

Sudah cukup dengan pemberian pedih yang kamu beri. Cukup mengganggu hidupku yang damai saat aku mulai meyakini kamu tidak ada di sampingku lagi. Cukup merasakan betapa bahagianya aku bertemu kamu setelah kita saling mengucap rindu. Kali ini biarkan aku melupakanmu dan mengubur masa lalu kita.

Penulis berusaha menyampaikan tentang sebuah keputusan hati, bahwa mengubur dan memaafkan kenangan masa lalu adalah jalan terbaik, meskipun tak akan bisa melupakan sepenuhnya.
***

Dendam, luka, sakit hati yang tercabik-cabik, dikemas apik dalam sebuah cerpen berjudul Sebuah Pilihan karya Nuha. Sebuah ending yang membuat kita semakin merenung, tentang keikhlasan menerima takdir.

Percayakah bahwa adakalanya memutuskan sesuatu itu begitu berat, seberat memanggul kebencian dalam karung dendam?
***
"Heri teman kami memang ada kelainan jiwa, Fan. Tapi justru dialah yang selalu datang setiap reuni sekolah. Uniknya dia selalu ingat tanggal kesepakatan reuni kami. Pernah pihak rumah sakit melarang Heri datang, tapi itu justru berdampak buruk. Heri ngamuk di rumah sakit. Jadi kami semua ke rumah sakit kali ini untuk memberi spirit padanya, barangkali ini bisa membantu kesembuhannya."
"Apakah Bapak Heri yang Ibu maksud adalah Bapak yang tadi dijemput petugas rumah sakit itu?"
"Nah. Iya, betul."
***
Tidak mudah ketika mencoba tetap memanggul segala rasa. Menggali lahat sedalam mungkin, untuk kemudian memilih, mengebumikan dendam ataukah menyampaikan rasa yang tersirat. Meskipun harus mengorbankan perasaan orang-orang tercinta.
***

Pertemuan kembali dengan orang-orang yang pernah hadir dalam kehidupan kita, terkadang membuat rasa bahagia membuncah. Kenangan bersama kembali teringat. Gelak canda mewarnai kala duduk bersama sambil bernostalgia. Namun tak jarang kembalinya masa lalu dalam kehidupan justru menyisakan tangis bahkan derita.

Lantas, apakah kita akan terus berkubang dalam lara ataukah tetap tegar melangkah demi masa depan yang lebih indah? Pilihan ada di tangan kita semua.

Beragam kisah yang tersaji indah dan cukup mengaduk emosi pembaca dalam antologi dengan judul Nostalgia Biru ini akan membuat kita merenung, bahwa setiap langkah yang meninggalkan sejarah kehidupan, tak selamanya membirukan hati, tetapi akan selalu ada hikmah dibalik setiap kisah.

Ingin mendapatkan buku ini secara gratis? Yuk ikuti blog tour dan give away yang diadakan untuk kalian semua. Simak syaratnya berikut  ini :

  1. Berdomisili atau alamat pengiriman di Indonesia;
  2. Like fanspage One Day One Post dan follow instagram di @komunitas.odop;
  3. Like fanspage Penerbit Embrio dan follow instagram di @penerbitembrio
  4. Follow blog ini (www.nodiwa.com);
  5. Share postingan ini ke akun media sosial kalian, seperti Facebook, instagram maupun twitter dan beri hastag #blogtour&giveawaynostalgiabiru;
  6. Jawab pertanyaan ini :
Kalau ada reuni, baik reuni sekolah maupun keluarga, apa yang kalian harapkan?
Tulis dalam 2 paragraf dan posting di kolom komentar postingan blogtour dan giveaway ini;
  1. Sertakan nama, alamat email yang bisa dihubungi serta cantumkan akun media sosial kalian seperti Facebook, instagram dan twitter.

BLOGTOUR DAN GIVEAWAY INI BERLAKU DARI 18 – 23 FEBRUARI 2018.