Jumat, 26 Januari 2018

Biarkan Anak Berkreasi Sendiri




"Bun … aku gambar-gambar ya," pinta Rafa suatu hari di Minggu pagi.

"Ya, sayang. Menggambarlah sesukamu. " Jawab saya singkat. Lantas mengelus lembut kepalanya yang sedikit plontos. Bersyukur kali ini Rafa tidak asyik dengan gawai milik ayahnya untuk bermain game.

Terlihat Rafa asyik menyiapkan pensil warna dan kertas-kertas. Saya biarkan saja dia asyik dengan aktivitasnya. Saya kembali membaca buku yang tadi sempat dibaca. Kami berdua asyik dengan kegiatan masing-masing.

Tentu saja ada kesenangan tersendiri ketika bisa melakukan kegemaran, walaupun sambil menemani anak.

Setelah beberapa saat, Rafa menunjukkan hasil kreasinya.

"Bun, lihat. Aku bisa menggambar ini. Bagus nggak?"

Sejenak saya amati gambar-gambarnya. Ada gambar binatang, ada yang terlihat seperti robot. Menurut saya, yang tidak pandai menggambar ini, hasil kreasi Rafa lumayan juga. Permainan warnanya juga cukup bagus. Pujian pun meluncur untuk kesayangan.

"Bagus banget sayang. Wah … Rafa pintar deh. Bunda senang sekali melihat gambar-gambar ini."

Terlihat senyum malu-malu menggemaskan Rafa yang selalu bikin saya tertawa.

"Ayo, menggambar lagi yang banyak ya. Nanti Bunda lihat lagi. Bunda mau menjemur pakaian. Tuh, mesin cucinya udah berhenti bunyi," kata saya lantas beranjak meninggalkannya.

Rafa pun segera kembali dengan pensil warna dan kerta-kertas miliknya. Dan saya segera menjemur pakaian.

Ketika hampir semua baju telah terjemur, terdengar teriakan Rafa dari dalam rumah.

"Bun … cepat sini. Aku mau liatin ini. Cepet, Bun."

"Sebentar sayang. Tinggal dikit nih." Jawab saya.

Tak berapa lama, saya pun segera menghampirinya. Rafa menggamit tangan lantas berkata sambil menunjuk ke dinding.

"Lihat, Bun. Bagus kan?"

Matapun terbelalak. Mendapati salah satu sisi dinding ruang tengah hampir penuh dengan hasil karya si kecil. Kaget campur gemas dan sedikit kesal. Tapi amarah saya urungkan. Teringat Rafa sudah menunjukkan sikap manisnya, mau memanfaatkan waktu senggang dengan melakukan aktivitas positif dan menunjukkan kreativitas sendiri.

Pelukan hangat dan pujian saya lontarkan apdanya. Sebagai bentuk apreasiasi akan hal-hal yang dilakukan Rafa.

Well … begitulah sikap yang seharusnya dilakukan para orangtua saat anak menunjukkan kreativitas, hal-hal positif dan kebaikan. Suatu hal yang wajar, memang, Ketika ada rasa kesal mendapati rumah dalam keadaan berantakan, tidak rapi dan kurang bersih.

Namun saya memilih untuk bersikap positif. Membiarkan anak dengan kreativitas sendiri. Membiarkan dia melakukan apapun yang dia ingin, tetapi harus dalam pengawasan orangtua.

Tak mengapa rumah kami tidak sebersih rumah orang lain. Dinding yang penuh dengan coretan dan tempelan sticker, beragam mainan yang selalu berserakan kembali setelah dirapikan, kertas-kertas dan buku-buku bacaan ada dimana-mana. Biarlah.

Saya yakin, masa-masa ini akan berakhir. Dinikmati saja. Suatu saat Rafa beranjak besar dan mempunyai aktivitas lain yang lebih mengasyikkan baginya.

Saya tidak ingin mengekang kebebasannya dalam berkreasi. Asalkan yang dilakukannya tetap positif. Sebagai orangtua, kami hanya perlu memberi dukungan dan pengawasan.

Bagaimana menurut Anda?


#30harimenulis
#hari12
#onedayonepost

24 komentar:

  1. Nah, anakku tuh paling senang jika berkreasi sendiri mbaa. Benar banget kalau kita harus berikan dukungan dan pengawasan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan kita harus bebaskan mereka berekspresi ya mbak ^^

      Hapus
  2. Sama mbak, tembok rumah saya juga penuh hasil kreasi si kecil. Dinikmatin aja, sambil terus diarahkan ke jalan yang benar jiwa seninya hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, benar tuh mbak. Diarahkan jiwa seninya. Mantap ^^

      Hapus
  3. Dukungan dan pengawasan terhadap anak memang utama. Dan kalau ada sediakan juga fasiltas nya supaya si anak berkreasi tidak melenceng :) ga usah yg mewah, yg terjangkau saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak. Fasilitasi sesuai kemampuan kita saja ya mbak. Yang penting positif

      Hapus
  4. Belajar reframing banget ya mba kalo bocah udah kreatif gini makin hari. Belajar cara berpikir mereka dan memakluminya supaya ga dikit2 marah dikit2 emosi

    BalasHapus
  5. Kalo anakku di rumah ibuku, apa2 gak boleh haha. Tapi kalo udah di rumah sendiri di Gresik mau coret tembok, monggolaaah. Asal gak membahayakan dia. Sy sepakat siih. Masa usia dini gini sebentar huhu. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terlalu banyak melarang, bisa membuat anak jadi tidak pervaya diri

      Hapus
  6. Anakku Musa The Explorer Mbak Nov, apa aja dech dibuat mainan haha. Emaknya yg ikutan muter kayak setrikaan, berekspresi dg bebas yg terarah emang penting ya Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah ... Mbak muter-muter sekaligus olahraga nih mbak Dira hehe

      Hapus
  7. Saya juga termasuk orangtua yang membolehkan anak berekspresi di mana saja.
    Namun setelah beranjak besar, saya mengingatkan bahwa selalu ingat tempat dalam berekspresi.
    Meskipun itu bagus menurutmu, tapi belum tentu baik bagi orang lain.

    (( pesannya berbobot, semoga anak-anak paham. wkkwkk ))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pesannya oke banget. Meskipun butuh proses untuk memahami ya mvak Lendy ^^

      Hapus
  8. Biarkan anak berkreasi ya mba walau tembok dan lantai kadang menjadi korban :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah mbak Dila. Kadang pas ada acara di rumah ya malu juga, tembok kelihatan nggak bersih. Hanya berharap tamu-tamu maklum hehe

      Hapus
  9. berekspresi dengan mengijinkannya ikut kegiatan di sekolah, dengan pesan selama itu positif dan mampu melakukannya tapi tetap perhitungkan capability fisik. Krn anak yg nomer 2 saking semangatnya, maunya semua kegiatan diikuti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebaiknya tetap diarahkan agar anak tetap bisa menjaga kesehatannya.

      Hapus
  10. Iya gpp mba, dinding kotor bisa di cat ulang kok hehehe.. aku juga gitu waktu kecil nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu juga pemikiranku mbak Asti. Biar deh dinding masih penuh coretan dan gambar. Ntar bisa dicat lagi kan hehe

      Hapus
  11. Seneng loh liat gambar anak-anak, lucu-lucu gambarnya. Anak-anak waktu kecil suka coret-coret dinding, kubiarkan aja deh sampai mereka udah ABG baru cat ulang dindingnya haha

    BalasHapus
  12. Itu bagian dari eksplorasi jg ya mbak, kreasi2 itu.
    Asalkan enggak membahayakan kita dukung aja :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak April. Kita harus tetap mendukung kreativitas anak kan? ^^

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...