Senja mulai turun menggantikan sore diiringi angin gunung yang sejuk semilir, mengelus permukaan bumi di lereng Pegunungan Wilis, termasuk menimpa rumah mungil kami di Desa Sawahan, Nganjuk. Kubiarkan jendela kamar terbuka lebar untuk merasakan sejuknya hawa pegunungan. Tangan pun bertumpu pada bingkainya. Mencoba menikmati segala yang bisa tertangkap dalam pandang mata, telinga dan seluruh bagian tubuhku yang lain. Lantas menghirup dalam aroma bunga kemuning yang menguar memenuhi rongga penciumanku. Alangkah harumnya, alangkah segarnya.






Malam itu, udara terasa agak panas. Musim kemarau kali ini memang tidak seperti biasanya. Lebih panjang dan angin sedang malas berhembus. Menambah gerah suasana di ruang keluarga itu. Ketegangan menghinggapi Bapak, Ibu dan Pandu. Arum memang tidak dilibatkan karena Bapak melarang.






Bagai langit runtuh menimpa Papa dan Mama kala mendengar kalimat yang keluar dari mulut Sekar. Bergetar tubuh mereka seolah tak percaya dengan apa yang didengar. Papa yang tak bisa menahan emosi pun menggelegarkan suaranya.






Hembusan angin kemarau di lereng Gunung Wilis yang kencang membuat gigil badan. Meski sudah berjaket tebal, tak pelak dingin dirasakan. Sekar pun semakin merapatkan tubuhnya di boncengan Pandu.

Pandu melajukan motor dengan hati-hati. Jalanan berkelok bahkan terkadang melewati turunan tajam membutuhkan kewaspadaan tinggi. Sekar yang baru pertama kali berkendara motor dengan Pandu merasakan sensasi tersendiri. Meski ada rasa khawatir, namun resah terobati kala memandang area persawahan membentang hijau. Sesekali aroma cengkeh menguar membuat Sekar berulangkali menghirup baunya. Sungguh suatu keadaan yang menakjubkan baginya.






“Kamu harus bisa menjaga diri, Pandu. Harus bisa menahan godaan apapun yang terjadi. Bapak merasa ada sesuatu antara kamu dengan Sekar,” urainya malam itu. Nalurinya mengatakan terjadi hubungan lebih dari sekadar pertemanan antara anak laki-lakinya dengan gadis muda itu, namun urung diutarakan.





Senja mulai menampakkan wajahnya. Semilir angin menyapa, hembusnya menyejukkan. Sekar dan Pandu duduk berdampingan di teras samping.

“Mas, aku ingin menyampaikan sesuatu, boleh?” pinta Sekar pelan.






“Mama sih, sibuk banget sama urusan kerjaan, sampai lalai ngurus anak. Papa kan sudah bilang, Sekar itu urusan Mama! Kalau sudah begini, bagaimana?” Papa bersungut menyalahkan Mama.

“Enak saja urusan Mama! Sekar kan juga anak Papa! Ya urusan Papa juga dong!” elak Mama.





“Silakan diminum, Nak Sekar, nanti keburu dingin,” Ibu menyilahkan Sekar minum secangkir teh hangat yang telah disuguhkan.

Injih (*), Bu,” jawab Sekar santun, lantas mengambil cangkir yang ada di depannya. Diteguknya pelan cairan itu sekadar membasahi tenggorokan.





Pandu menggeserkan jarinya di layar smartphone untuk menghubungi Sekar. Namun tiba-tiba ada panggilan masuk. Dari gadis yang sangat dirindunya. Langsung ditekannya sebuah ikon tanda menerima panggilan masuk.






“Tidak!!!”

“Jangan mati! Bangun, Mas!”

Berulangkali Sekar meneriakkan kalimat-kalimat yang sama. Dia berteriak histeris sambil memukulkan kedua tangan ke tanah. Terus meraung kala melihat tubuh sang pengendara digotong beberapa orang untuk dibawa ke rumah sakit.





Jujur dan terus terang deh. Aku sebenarnya ingin berhenti ikutan One Day One Post! Merasa tidak sanggup melanjutkan karena tantangan bulan ini termasuk berat buatku!

Lanjut Atau Tidak?

by on 17.00.00
Jujur dan terus terang deh. Aku sebenarnya ingin berhenti ikutan One Day One Post! Merasa tidak sanggup melanjutkan karena tantan...




Bagian 10

Keping-keping kenangan perjalanan cinta mereka membuat Sekar merindu hangatnya. Beberapa kali disekanya airmata yang meleleh di pipi bila teringat itu semua.






Sekar melajukan mobil dengan pikiran berkecamuk tak karuan. Konsentrasinya pecah. Hal ini bukan tak disadarinya. Ketidakberhasilan menghubungi Pandu sangat menggelisahkan hatinya.

Kemana gerangan Pandu? Apa dia akan menghilang dan tidak mau menemui Sekar lagi? Apakah Pandu akan meninggalkannya begitu saja? Ah … tidak! Dia sudah berjanji dan akan memenuhinya! Tapi …






“Duh … kenapa sih Mas Pandu hapenya off terus? Jadi sebel deh!” gerutu Sekar saat mencoba menghubungi Pandu namun tak kunjung berhasil.


Sekar mondar-mandir dalam kamar dengan gelisah. Berkali-kali memencet nomor Pandu namun kecewapun berulang. Sekar menjadi tidak sabar. Tiba-tiba sebuah rencana ada di kepalanya.





Bik Tun sudah kembali berada di dapur. Membuatkan minuman hangat untuk Sekar ketika gadis itu memintanya. Meski masih sedikit khawatir dengan kondisi Sekar yang gelisah karena mencoba menelpon seseorang namun tak kunjung berhasil, Bik Tun menuruti keinginan Sekar.







“Non …”

Bik Tun mencoba memanggil Sekar yang masih mengurung diri dalam kamar. Namun tak ada jawaban. Perempuan paruh baya itu mencoba mengetuk pintu dengan perlahan.




Oleh : Nova DW




Ibu masih duduk diam membisu. Sesekali disekanya airmata yang jatuh perlahan membasahi pipi. Semesta seolah membisu turut merasakan pilu perempuan ayu berambut sebahu ini.





Tantangan Program One Day One Post kali ini membuat cerita bersambung. Bisa satu cerita dibuat selama seminggu, atau dua minggu, bahkan satu bulan.




Huft … sudah hampir habis, pikir Pandu. Diamatinya sebatang Marlboro yang terjepit diantara ibu jari dan telunjuk. Lantas menjentikkan jari tengah untuk membuang bara yang semakin panjang ke dalam asbak, yang penuh batang rokok berserakan.






Pagi masih menampakkan remang, saat kulipat mukena dan sajadah setelah menunaikan kewajiban padaNya.

Aku beranjak dan melangkah ke ruang tamu yang letaknya tak jauh dari kamarku. Sebuah ruangan tak seberapa luas, bercat putih dengan satu set kursi sudut dari kayu jati berwarna coklat.







Pagi itu aku berangkat kerja dengan hati penuh tanya. Tentu saja tentang Mas Pandu. Aku memang berhasil membangunkannya, namun sebuah nama dari igauannya mengusik tanya di benak.







“Halah, kamu! Nggak usah lebay deh!” Ratna masih cemberut.

“Sudah … jangan cemberut terus. Aku janji deh, Istirahat makan siang nanti, aku bakalan cerita ke kamu. Sekarang, hamba persilahkan Tuan Putri kembali ke peraduan, eh singgasana, karena sebentar lagi Baginda Raja akan melakukan sidak ke ruangan ini!” kelakarku sambil menggerakkan kedua tangan dengan gaya mengusir.





Sebelum mengikuti Program One Day One Post Batch 3 ini, aku sudah menjadi pengikut di akun media social milik Bang Syaiha, yaitu lewat facebook dan blog pribadinya yang khas dengan judul “menulislah untuk keabadian.”




sumber foto : google
Hari ini sebetulnya saya galau. Eh … bukan sih, agak gelisah. Atau entahlah, kurang jelas juga apa yang saya rasakan.


Saya benar-benar kepikiran karena memang tidak seperti biasanya sampai malam belum posting tulisan sama sekali. Mungkin saya sedang terkena virus writer’s block, mungkin sedang lelah atau mungkin sedang malas menulis. Duh! Ini malah jadi beban saja jadinya.

Padahal, saya pernah bilang bahwa menulis merupakan salah satu jalan menggapai kebahagiaan.


Lantas, kalau saya tidak menulis, apa berarti saya tidak mau meraih kebahagiaan? Hmm …

Padahal saya masih diberi kesempatan untuk bisa menulis. Sesibuk dan selelah apapun, bila niat menulis hanya sekadar keinginan tanpa mau menjalankannya, tentu aktivitas menulis tak akan pernah saya lakukan.

Mungkin tulisan ini lebih pada curhatan belaka. Bagi saya tak mengapa dianggap begitu. Yang penting saya tetap menulis, menuangkan rasa dalam rangkaian aksara, mengeluarkan uneg-uneg dengan harap beban berkurang.


Ketika saya tetap menulis, meskipun mengalami kebuntuan ide, sebenarnya saya sedang berjuang mengatasi masalah yang ada dalam diri sendiri. Sekuat apa mempertahankan keinginan untuk menulis.

Padahal saya sedang tidak ikut berjuang bersama rombongan saudara-saudara kita yang hari ini, Jumat, 2 Desember 2016, melakukan aksi damai di Jakarta. Saya hanya turut membantu doa untuk kebaikan negeri dan agama. Tidak ada kontribusi berarti yang bisa saya berikan.

Seharusnya saya malu, bila tidak bisa berjuang melawan diri sendiri.


#OneDayOnePost
#Inspirasi















Melawan Diri Sendiri

by on 21.42.00
sumber foto : google Hari ini sebetulnya saya galau. Eh … bukan sih, agak gelisah. Atau entahlah, kurang jelas juga apa yang...


sumber foto : google


Beberapa hari yang lalu saya merasa rugi gara-gara lelah. Wah, ada apa ya? Begitu mungkin teman-teman bertanya. Kok jadi lelah yang disalahkan?

Ya, bagaimana tidak merasa rugi ketika diri didera rasa lelah yang amat sangat, saya kehilangan momen istimewa, yaitu tidak bisa mengikuti obrolan di grup ODOP karena ketiduran. Bukan sekadar obrolan, namun tema yang dibahas memang menarik.

Gara-gara Lelah

by on 03.45.00
sumber foto : google Beberapa hari yang lalu saya merasa rugi gara-gara lelah. Wah, ada apa ya? Begitu mungkin teman-teman bertany...