Minggu, 11 Februari 2018

(Pinginnya) Bisa Menulis Setiap Hari

sumber foto : pixabay


Kali ini boleh dong ya, saya menulis tentang kegalauan. Alias curhat. Eh, padahal kan sering curhat juga ya. Maaf deh.


Jadi ceritanya, saya ingin sekali bisa menyelesaikan Program #30harimenulis tanpa satu hari pun terlewati. Apalagi hari ini memasuki #hari27. Jadi tinggal 4 postingan lagi. Rasanya sayang bila saya lewatkan satu hari ada hutang tulisan di program ini. Tinggal sejengkal langkah, bukan?

Tapi bila boleh jujur, ingin hati ini mengungkapkan perasaan terdalam #apasih. Saya bingung mau menulis tentang apa. Apalagi hari ini saya mengikuti suami bersama rombongan untuk melakukan perjalanan ke Semarang, Jawa Tengah. Lho, apa hubungannya ya?


Jadi ceritanya, saya dan Rafa ikut ayahnya ke Semarang. Tentu saja saya harus mempersiapkan segala keperluan kami. Karena merasa bakalan repot nyiapin ini itu, ada beberapa kekhawatiran yang hinggap.


Apalagi ini perjalanan pertama Rafa ikut rombongan bersama para guru, di sekolah tempat ayahnya mengajar.


Saya merasa ada keraguan sebelum memastikan diri ikut dalam perjalanan ini. Khawatir Rafa rewel karena dalam rombongan tidak ada anak kecil, bisa-bisa nanti dia bete. Alasan lain adalah, saya nggak bisa menulis. Ini sih murni alasan ya.


Ternyata kekhawatiran bahwa tidak ada anak kecil dalam rombongan, sama sekali tidak terbukti. Bahkan Rafa sudah bertemu dengan teman baru, saling ngobrol, bermain dan sama-sama ramai, mulutnya tidak mau diam. Saya sampai bolak-balik mengingatkan pada Rafa. Tapi ayahnya membela. Kata beliau : "Biarkan saja. Namanya juga anak-anak. Mumpung ada temannya."


Akhirnya ya saya mengurangi saja peringatan-peringatan untuk Rafa. Meskipun dalam hati merasa tidak enak. Sungkan dengan anggota rombongan yang lain. Daripada bete, ya saya lanjutkan saja menulis, dalam perjalanan ini.


Aktivitas menulis memang bisa dilakukan kapan saja, disela waktu yang senggang. Bahkan bisa menulis selama melakukan perjalanan, dan dilakukan dari gawai. Jadi tidak ada alasan untuk tidak menulis.


Awalnya saya ingin menulis puisi untuk postingan hari ini. Tapi kok tidak ada ide sama sekali. Padahal suasana mendukung lho. Diluar gerimis mengundang. Eh, memangnya kalau lagi rintik hujan, lebih mudah bikin puisi? Nggak tahu juga sih. Hehe.


Dan begitulah. Akhirnya saya tetap menulis. Meskipun nggak jelas juga tulisan ini mau dibawa kemana.


Tulisan ini dibuat dalam perjalanan menuju penginapan di salah satu hotel di Semarang, Jawa Tengah.

#30harimenulis
#hari27
#onedayonepost



8 komentar:

  1. Hai, mba Nova.
    Aku baru main ke sini lagi.
    Setuju, mba.
    Menulis bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja.

    Hati-hati di jalan ya, mba.
    Baca nama Rafa jadi ingat sinetron Catatan Harian Aisha, hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah ... Rafa jadi bintang sinetron nih hehe.

      Iya mbak. Rasanya memang ada yang kurang kalo nggak nulis hihi

      Hapus
  2. Mbak novaa keeeerreeenn bgt, semoga bisa menuntuntaskan program ini yaa.. Di perjalnan menuju semarang aja bisa sambil nulis, produktif bgt kan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi malu nih aku. Padahal tulisanku ini curhatan nggak jelas lho mbak Ella #tutupmuka

      Hapus
  3. tulisannya walau sederhana...tapi berkesan sekali Mbak, sepertinya mengalir dari lubuk hati yg paling dalem. :) meresap seperti air. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari lubuk hati terdalam, meresap seperti air. Hehehe. Memang saya ingin bisa menulis setiap hari, meskipun itu hanya curhatan ala emak-emak ��

      Hapus
  4. Hmm.. inspiring.. bisa gak ya kaya mbak nova gitu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisaaaa ... Pasti bisaa. Ayo semangat :D

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...