Senin, 05 Februari 2018

Mau Jadi Penulis Kok Malas Membaca?



Tulisan kali ini terinspirasi dari gambar di atas. Lupa kapan dan dimana mendapatkan gambar itu. Sepertinya di salah satu grup menulis. Karena tertarik, saya bagikan saja di akun media sosial.



Anda tahu reaksi teman-teman saya?

Beberapa langsung melakukan japri melalui whatsapp. Rata-rata mereka merasa tersindir dengan kata-kata yang ada dalam gambar tersebut yaitu Lucu deh. Mau jadi penulis, tapi malas baca. Teko kosong mana bisa ngisi gelas (Asa Muslchias).

Jujur saja. Saya tidak tahu siapa itu Asa Muslchias. Mungkin ini nama samaran dari seseorang. Yang lebih menarik adalah kata-kata dari gambar tersebut.

Satu hal yang pasti, saya tidak bermaksud menyindir siapapun.

Tapi, bila kita eh saya lebih mau lagi untuk merenungkan, ada benarnya juga kata-kata dalam gambar tersebut. Rasanya aneh dan lucu ya, kalau seseorang atau siapapun yang ingin menulis, menjadi penulis, tapi malas membaca. Padahal, apa sih, susahnya membaca. Tinggal melihat tulisan saja, bukan?

Tapi memang sih ya, membaca itu tidak semudah yag dibayangkan. Ada saja alasan untuk tidak atau belum bisa meluangkan waktu untuk membaca.

Siapapun yang bisa dan suka membaca, belum tentu suka menulis. Tetapi, bagi seorang penulis, membaca merupakan salah satu nutrisi. Bisa menjadi sarana untuk mendapatkan ide menulis.

Bilapun tidak bisa meluangkan waktu untuk membaca buku-buku dengan ribuan lembar, bisa dengan membaca buku-buku yang halamannya tidak lebih dari 500 lembar, atau hanya sekitar 200 halaman. Masih terasa berat? Bisa juga dengan membaca selembar setiap hari. Apapun jenis bacaan itu.

Masih juga belum bisa meluangkan waktu? Bisa juga kok dengan membaca update status orang lain dari akun media sosial mereka. Tentu hal ini masih sempat, bukan? Hayo, ngaku saja! Kalau saya, ngaku deh! Masih lebih sering membaca update status daripada membaca buku yang tebalnya lebih dari 200 halaman. Duh! Sebuah perbuatan yang tidak patut untuk ditiru.

Membaca itu tidak harus berhadapan dengan teks dan tulisan. Kita bisa kok membaca dalam arti lain. Coba saja perhatrikan lingkungan sekitar. Saat bisa bertemu dan saling menyapa dengan tetangga, saat sedang melakukan perjalanan lantas menemukan hal-hal yang menarik, dan sebagainya. Kita bisa membaca sisi lain kehidupan manusia. Hal-hal tersebut bisa menjadi sebuah langkah bagi kita untuk menggerakkan jemari dan menggores pena.

Namun sebaiknya, seorang penulis itu ya harus banyak membaca. Agar pikiran lebih terbuka. Bisa menemukan banyak hal menarik diluar hidup yang dijalani. Terlebih lagi, hati jadi tergerak untuk berbagi dengan orang lain, saat merasa bahwa dari bacaan tersebut bisa membawa manfaat. Nah bisa jadi tabungan amal kan?

Bacaan yang positif dan membuat kita jadi lebih baik, tentu akan menyehatkan jiwa. Yuk, budayakan membaca!


#30harimenulis
#hari22
#onedayonepost





16 komentar:

  1. pagi mbak nova :).
    hahaha . biarin aj mereka tersengat mbak. berarti mereka hanya berangan angan jadi penulis, tanpa banyak membaca buku atau menambah bahan ide tulisan.

    mereka, sama dengan saya 3 tahun dulu. sejalan waktu, mereka akan mengerti kalimat di foto tersebut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pagi mas Fajar ^^

      Postingan ini reminder banget buatku yang termasuk malas membaca hehe

      Tetap semangat ya mas

      Hapus
    2. sama sama, saling mengingati dan mendukung semangat ngeblognya mbak.

      Hapus
  2. Syemangat ayok syemangat.. Mari budayakan membaca meski hanya satu dua halaman dalam sehati eh sehari maksudnya :D

    BalasHapus
  3. Aku bulan kemarin abis ngomong hal yang serupa ini ke diri sendiri, "blogger kok males blog walking" hehehehe...
    Alhamdulillah kalau baca buku aku masih rajin. Tapi dua bulan terakhir aku males blog walking. Padahal sebagai blogger berkunjung ke blog teman-teman kan penting ya, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Blogwalking juga penting mbak Dian. Salah satu cara agar kita berinteraksi dengan blogger lain, juga meningkatkan DA PA. Ya kan hehe

      Hapus
  4. Dulu seneng banget baca buku..sekarang malah lari ke digital...he2

    Kalo jadi penulis kudu banyak baca..biar referensi banyak dan kosa kata jadi nambah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dunia digital mengalihkan perhatian kita ya mbak Nova

      Hapus
  5. Setuju mba,budaya membaca negeri ini sangat memprihatinkan. Sy jg sedang menumbuhkan kecintaan membaca ke anak2, buku yes gadget no ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat mbak Monique. Budaya membaca harus kita tumbuhkan.

      Hapus
  6. Aku baca judul blogpost ini aja lgsung merasa jleb kok. Tp bukan jleb kesindir yg sampe merasa kesel atau gimana gimana sih, woles haha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi... Asal nggak 'jatuh' ya. Tulisan ini juga pengingat diriku kok mbak ^^

      Hapus
  7. Wah gerakan literasi banget ini. Aku sekarang bacanya status sosmed sama postingan blog ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga menjadi penyemangat teman-teman untuk selalu menggiatkan literasi ^^

      Hapus
  8. Saya menyadarinya setelah kuliah karena dulu mondok gk bisa pegang hp jadi cukup kenyang dengan tumpukan buku yang saya temuakan dimanapun Alhasil saya produktif dalam menulis kala itu, Tapi sekarang Kala Android menyapa, saya sadar daya baca saya anjok, yang dulu mampu menghabiskan 2 novel yang lbh 200 lembar dalam sehari. kini terkadang butuh 3 bulan bahkan untuk satu buku. Akhirnya saya buat target dalam sebulan harus baca minimal 15 buku, Dan ternyata ini kembali membangkitkan minat nulis saya ketika baca cerita ins
    inspiratif orang

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...