Rabu, 17 Januari 2018

Warung Yu Mar




"Yu, aku seperti biasa ya," kata Kang Pardi.

Yu Mar yang sudah hafal dengan permintaan Kang Pardi langsung menjerang air. Siap menyediakan kopi pesanan.


Pagi itu, warung Yu Mar agak sepi. Hanya ada dua pelanggan. Kang Pardi dan Mas Wahyu yang sudah lebih dulu datang dan sedang menikmati teh hangat.


"Ndak ngopi, Mas? Kok tumben," tanya Kang Pardi pada Mas Wahyu.

"Lagi pengen nge-teh saja, Kang," jawab Mas Wahyu sambil tersenyum.

"Waahh … rugi kalau pagi-pagi tidak ngopi. Apalagi kopi di warung Yu Mar ini. Dijamin ketagihan deh. Dan yang jelas, bukan kopi sianida kayak berita di tivi itu lho, Mas. He ... He..." kelakar Kang Pardi.

"Halah … Kang Pardi. Emangnya tahu, kopi sianida itu apa?" tanya Yu Mar.

Kang Pardi kebingungan menjawab.

"Naahh … ya kan? Bingung! Makanya, kalau lihat berita itu didengerin benar, apa isi beritanya. Jangan cuma melihat yang baca berita, mbak-mbak yang cantik-cantik itu," goda Yu Mar.

Kang Pardi hanya senyum dikulum. Ketahuan deh, batinnya.


Untuk mengalihkan pembicaraan, diambilnya sepotong singkong rebus hangat di atas piring, lalu dilahapnya.

"Wuiihh … uenak, Yu. Teman ngopi yang cuocok nih. Ya, to Mas Wahyu?"

Yang ditanya cuma menganggukkan kepala karena sedang menyeruput teh hangat.

"Eh, Yu. Mana nih, kopiku?" tanya Kang Pardi mengingatkan Yu Mar.

Yu Mar buru-buru menyediakan kopi pesanan Kang Pardi.

"Nih … kopi spesial tanpa sianida," goda Yu Mar lagi pada Kang Pardi. Dia pura-pura tidak mendengar.


Mas Wahyu yang dari tadi diam saja tiba-tiba teringat sesuatu.

"Yu, bagaimana kabar Pras? Kok lama tidak pulang? Betah banget to di Kalimantan?" tanya Mas Wahyu.


Pras adalah anak sulung Yu Mar yang sedang merantau. Sudah 3 kali lebaran dia tidak pulang. Yu Mar tiba-tiba merasa sedih. Dia juga kangen anak sulungnya itu. Apalagi semenjak Bapaknya meninggal, Yu Mar hanya berdua saja dengan Prapti, anak keduanya yang masih duduk di bangku SMA. 

Untuk menyambung hidup, Yu Mar membuka warung kopi kecil-kecilan di rumah. Dia tidak bisa mengandalkan kiriman uang dari Pras yang tidak tentu datangnya. Tiba-tiba matanya berkaca-kaca.


"Maaf, Yu. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Hanya kangen aja sama Pras. Sudah lama tidak ngobrol," ungkap Mas Wahyu. 

Dia dan Pras sudah akrab sejak kecil. Mereka teman bermain dari dulu. Tak ingin Yu Mar makin sedih, Mas Wahyu berusaha menghibur.


"Sudah, Yu. Ndak usah sedih. Yang penting didoakan saja. Pras di sana sehat, kerjanya lancar," ujar Mas Wahyu.

"Iya, Mas. Aku cuma bisa doain anakku. Itu sudah wajibnya orangtua," jawab Yu Mar.


Ya, sebagai orangtua, Yu Mar hanya bisa mendoakan anak-anaknya. Seringkali, dengan berteman malam dan kelipnya bintang, doa tulus ikhlas terpanjatkan. Berharap Yang Maha Kuasa memberikan cahaya kehidupan bagi dia dan anak-anaknya serta keberkahan hidup di dunia.




#30harimenulis
#Hari3
#onedayonepost

8 komentar:

  1. Amin. Aku kira tadi pras itu suami nya ya hehehe.. ternyata anak nya. Semangat ODOP mba ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih supportnya mbak Asti. Iya nih, pingin bisa full #30harimenulis. Semoga bisa. Semangat hehe

      Hapus
  2. Wah pagi2 sudah setor rek mbak Nova, keren..

    BalasHapus
  3. semoga Yu Mar segera kete dengan Pras :")

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Soalnya susah 3 kali lebaran, Pras nggak pulang. Kayak Bang Toyib ^^

      Hapus
  4. Belum jadi Bang Toyib, baru tiga kali lebaran. Eh.. Galfok

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha ...
      Ojo suwi2 leh ne gak mudik, mbak Lisa

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...