Selasa, 30 Januari 2018

Ketika Kehilangan Tetap Membuat Tegar




Dik, nanti aku ke ruangan sampeyan (1) lagi ya. Mau ngasi surat kematian anakku. Tadi mau bawa kok ya lupa. Duh, sesal seorang teman pagi itu pada saya.

Aku mau mengurus untuk tunjangannya, sambungnya.

Tidak apa-apa, Mbak. Masih ada waktu kok. Jawabku singkat.

Nggak apa-apa ya, Dik. Soalnya ini akau mau izin dulu. Mau meriksakan kakaknya. Tadi kok badannya panas. Aku takut dia kenapa-kenapa. Tampak raut kesedihan di wajah teman saya ini.

Tenang saja, Mbak. Dicukupkan dulu semua urusan. Bila sudah selesai, mbak bisa kembali ke kantor. Semoga si kakak lekas sembuh ya. Mencoba menenangkannya sambil mengelus punggung. Kasihan sekali, hati saya berkata.

Terima kasih ya, Dik. Mohon doanya, semoga urusanku hari ini lancar. Sampeyan tahu kan, aku sedang menghadapi cobaan yang sangat berat. Duh Gusti, paringono kuat (2). Terasa sekali aura kesedihan.

Dia merasa sangat berat menanggung kehilangan.Sedikit isak terdengar darinya. Lantas saya mencoba menenangkan, memeluk sebagai ungkapan empati, juga menyamapaikan agar dia senantiasa bersabar menghadapi cobaan.
Kemudian dia pamit dan segera beranjak, lantas menuju sepeda motornya yang terparkir di depan ruangan tempat saya bekerja. Dalam hati teriring doa agar Allah memudahkan segala urusannya.

Teringat peristiwa beberapa minggu yang lalu. Saat apel pagi, mendapat sebuah berita duka, bahwa putra bungsu teman tersebut meninggal dunia. Sontak hampir semua teman kerja kaget mendegar berita duka tersebut. Anak teman saya masih kelas 5 SD, umur kira-kira 10 tahun. Satu-satunya anak laki-laki di keluarga teman saya.

Menjadi anak emas dan kebanggaan keluarga. Wajar bila aura sangat kehilangan terasa. Dia meninggal kemungkinan karena demam berdarah. Awalnya badannya panas, dan diagnosa dokter karena amandel. Tetapi setelah diobati ternyata tidak kunjung sembuh, lantas dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Namun Allah berkehendak lain.

Masih teringat saat kami taziyah ke rumah duka. Pilu rasanya ketika melihat teman saya dalam kondisi mengenaskan. Pandangannya kosong. Sering berbicara sendiri. Menyalahkan diri dan menganggap tidak becus sebagai orangtua. Sungguh menyedihkan.

Saat itu saya hanya berdoa agar Allah senantiasa memberi kekuatan padanya. Bisa melewati segala cobaan dan ujianNya.

Sebab selang beberapa hari setelah kematian si bungsu, teman saya mendapat kabar bahwa adiknya meninggal dunia karena sakit. Padahal masih sempat bertemu saat di rumah duka.
Bisa dibayangkan betapa berat beban yang ditanggung. Cobaan bertubi-tubi seolah menghimpit. Wajar bila teman saya merasakan kehilangan mendalam.

Tapi pagi itu saya dapati, dia berusaha tegar, meskipun rona kesedihan masih tampak di wajah. Dia sampaikan bahwa dirinya harus kuat menghadapi segala cobaan. Masih ada anak-anak yang lain membutuhkan perhatian dan kasih sayangnya.

Begitulah. Hidup ini memang pilihan. Termasuk memilih untuk tetap berdiri tegak saat cobaan menerpa.

Kehilangan bukanlah akhir dari segalanya. Memang semua membutuhkan proses untuk menyembuhkan luka.

Tapi hendaknya tetap kita ingat. Masih banyak kebaikan yang bisa kita lakukan, dengan kesempatan yang ada. Hidup belum berakhir hanya karena kita kehilangan orang-orang yang kita kasihi. Bangkit dan tegarkan diri. Jangan memendam pilu terlalu lama. Sesedih apapun, tidak akan membuat mereka kembali. Bukankah lebih baik berdoa agar mereka mendapat tempat terbaik di sisiNya, dan juga mendoakan diri sendiri agar senantiasa diberi kekuatan menghadapi cobaan?

Yakinlah bahwa Allah tidak akan menguji diluar batas kemampuan hambaNya.


Catatan :
  1. Sampeyan : Kamu (Jawa)
  2. Duh Gusti paringono kuat : Duh Gusti, berilah kekuatan (Jawa)


#30harimenulis
#hari16
#onedayonepost

24 komentar:

  1. Saya merasa kagum dengan orang yang kehilangan seseorang yang dicintainya tapi tetap tegar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Meski butuh waktu dan proses, kita harus kuat menghadapi cobaan, mbak Anis

      Hapus
  2. Sekarang kok makin banyak anak sakit panas, terus meninggal ya. Sediih banget dengernya. :( Semoga kita semua sehat2 selalu ya, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sakit panas memang tidak boleh dianggap enteng ya mbak

      Hapus
  3. Kalau ada anak kecil yg meninggal itu entaj kenapa rasanya ikutan sedihhh gt. Karena tak jarang ingat anak di rumah. Hikz.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama mbak, aku juga merasa sedih bila ada anak kecil yang meninggal terutama karena sakit

      Hapus
  4. Dulu saya sangat takut kehilangan mama karena kematian.. Tapi kita tak bisa menolak takdir.. Begitu mama saya berpulang hanya bisa ikhlas..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Butuh keihlasan dan kerelaan saat kita ditinggalkan orang-orang terkasih

      Hapus
  5. Banyak istiqfar untuk hilangkan sedih. Alfatiah buat yg meninggal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Al Fatihah ...

      Istighfar yang banyak, membantu menghilangkan rasa sedih

      Hapus
  6. Kehilangan bagian hidup yang harus kita lakukan dan lalui . Bersabarlah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setiap yang hidup pasti akan meninggal atau mati ya mbak. Kita harus bersabar menghadapi

      Hapus
  7. Cobaan hidup pastiya selalu diberikan buat kita, cuma hanua bisa berdoa. Allah, tolong kuatkan punggung ino untuk selalu luat menghadapi cobaanMu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Doa yang sama buatku mbak, agar selalu dikuatkan menghadapi cobaan. Aamiin

      Hapus
  8. kadang malah belum berasa kehilangan ketika masih dekat2 hari
    lama2 baru kerasa ada yang hilang
    hmmm

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rasa kehilangan baru terasa ketika dia sudah tiada

      Hapus
  9. Namanya hidup tidak ada yang kekal ya
    Disitu kita harus siap

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak Okti. Etiap saat kita juga harus siap kehilangan. Semua milik Allah

      Hapus
  10. Duh jadi teringat anakku dulu kena DB dan masuk RS trombositnya sudah sangat rendah. Untunglah beberapa hari kemudian bisa membaik.
    Ikut berdoa semoga teman mba selalu diberi kesabaran dan kekuatan menghadapi semuanya.

    BalasHapus
  11. Lho DB kok bisa dikira amandel ya? Rasanya DB pasti ada bercak-bercak merah kan? Aku penderita amandel soalnya. Kalau panas ya nggak keluar apa2 di badan. Cuma tenggorokan yang sakitnya naudzubillah. Semoga diberi ketabahan ya buat temannya :') Pasti sedih sekali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. DB ada yang tidak timbul bercak-bercak mbak. Entahlah kok saat itu diagnosanya amandel. Semoga teman saya selalu diberi kesabaran dan ketabahan. Aamiin

      Hapus
    2. Orang kehilang butuh waktu,waktu yang memproses dengan baik arti ikhlas,hanya kepada Allah agar tidak menjadi salah arah

      Hapus
    3. Semoga kita termasuk orang-orang yang 'ingat'. Aamiin

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...