Senin, 06 November 2017

Rezeki Pasti Datang




"Saya percaya kok, Mbak. Kalau memang itu sudah rezeki, pasti pelanggan yang tadi balik lagi." Katanya sambil terus mengipasi sate tahu yang saya pesan.


Tak terlihat sedikitpun rona kecewa tampak dari wajahnya. Kembali dengan cekatan dia membolak-balik sate tahu yang ada di hadapan.




Lantas dia sedikit bercerita, bahwa tadi seorang pelanggannya ingin membeli sate tahu, tetapi ketika mendapati lapak tidak ada yang menunggu, pelanggan tersebut lantas pergi. Informasi ini diperolehnya dari pemilik warung nasi padang di seberang jalan, yang lokasinya tepat di depan lapak penjual sate tahu.


Padahal si pelanggan sudah diberitahu oleh pemilik warung nasi padang, bahwa si penjual sate tahu sedang salat zuhur. Namun karena si pelanggan sedang buru-buru atau memang ada keperluan lain, lantas dia meninggalkan lapak penjual sate tahu.


Meskipun begitu, penjual sate tahu tidak menunjukkan rasa kecewa. Dia yakin, bila hari itu memang sudah rezekinya, si pelanggan pasti kembali ke lapaknya. Saya salut padanya. Jarang ada orang mempunyai sikap seperti ini.


Kejadian tersebut membuat saya merenung.


Seringkali diantara kita ada yang merasa kecewa saat apa yang diharapkan tidak menjadi kenyataan. Sedih karena tidak mendapat apa yang diinginkan.


Ketika mempunyai usaha, misalnya berjualan. Tidak setiap hari semua barang dagangan laku terjual. Tentu saja ada kecewa menghinggap. Namun pernah suatu hari, ketika hari masih pagi, dagangan sudah ludes terjual. Alangkah bahagianya hati hingga tak sadar menyikapi dengan berlebihan.


Begitulah. Manusia memang seringkali lalai akan kewajiban untuk mensyukuri segala nikmatNya.


Diberi cobaan sedikit, lantas mengeluh. Merasa hidup tidak adil. Lalu menyalahkan keadaan. Diberi kesenangan sedikit, lantas menyikapi dengan berlebihan. Lupa bahwa semua itu datangnya dari Yang Maha Segala.


Banyak sedikitnya rezeki yang kita terima, sudah sepatutnya kita syukuri. Rezeki bukan melulu tentang uang. Rezeki itu beragam bentuknya.


Kita diberi ilmu yang bermanfaat, suami atau istri yang baik, anak-anak yang saleh dan salehah, teman-teman yang selalu mengajak pada kebaikan, kemudahan dalam beribadah, raga yang sehat untuk bekerja, dan masih banyak lainnya. Hal-hal tersebut merupakan bentuk-bentuk rezeki yang diberikanNya pada kita.


Sepatutnyalah kita mensyukuri atas segala rahmatNya.


Bukankah Allah akan menambah nikmat bila kita senantiasa bersyukur?


Kita harus yakin bahwa Allah telah mengatur semua rezeki untuk kita. Apapun bentuk rezeki itu, kapan datangnya, melalui siapa, hanya Allah yang tahu. Tugas kita hanya berusaha sebaik mungkin dengan kemampuan yang ada, dan selalu berdoa memohon kemurahanNya.

6 komentar:

  1. Terima kasih untuk postingannya yang jadi pembelajaran aku pagi ini mbak.
    Aku tanpa sadar kadang mengeluh, padahal banyak sekali hal-hal yang patut untuk disyukuri.. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga masih sering mengeluh kok mbak. Hiks

      Yuk jadi pribadi yang pandai bersyukur ^^

      Hapus
  2. rejeki, jodoh....
    kalau memang sudah Allah peruntukkan buat kita bakalan di tangan juga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah, mbak Ninda. Allah memberikan semua itu di saat yang tepat bagiNya, bukan menurut perhitungan manusia ^^

      Hapus
  3. Kadang memang contoh kehidupan ada banyaak di sekitar kita ya mba, contohnya si penjual sate tahu ini. tinggal kita yang harus peka biar lebih banyak bersyukur ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga kita menjadi pribadi yang lebih banyak bersyukur ya mbak Rachma :)

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...