Selasa, 28 November 2017

Membukukan Kenangan



Sebuah sampul buku terlihat di linimasa seorang teman. Sekilas dari judul, buku tersebut menggambarkan tentang perubahan. Semacam perubahan pribadi seseorang.

Lantas saya mencoba menanyakan hal tersebut pada sang teman. Ternyata, sampul itu adalah penampakan sampul buku solo yang sedang ditulisnya. Sedikit kaget, karena selama ini tak pernah terlihat dia mempunyai minat dengan menulis. Kami pun ngobrol lebih jauh, meskipun hanya lewat daring dari gawai masing-masing.


Teman saya bercerita, bahwa sebagai seorang pendidik, sudah sewajarnya bisa menulis, bahkan bisa dikatakan hal tersebut merupakan sebuah kewajiban. Kebetulan di tempatnya mengabdi, diselenggarakan pelatihan menulis, bekerjasama dengan sebuah lembaga khusus yang mempunyai mentor menulis berpengalaman. Pelatihan ini bertujuan agar kelak bisa terwujud seorang pendidik bisa menulis, setidaknya satu guru satu buku.


Pada awalnya teman saya merasa bahwa menulis itu tidak semudah yang dia bayangkan. Menganggap bahwa memulai untuk menuang kata merupakan hal yang sulit. 


Namun dalam pelatihan tersebut, sang mentor tak kenal lelah untuk selalu memberikan semangat pada peserta. Hal ini dilakukannya secara terus-menerus, tak terkecuali pada teman saya.


Hingga akhirnya, sebuah tulisan berhasil diselesaikan oleh teman saya.


Sejak saat itu, dia semakin rajin menulis. Bahkan tidak ragu untuk membuat sebuah postingan di sebuah blog, khusus untuk para pendidik.


Dia juga bercerita, bahwa menulis itu ternyata menyenangkan dan membuatnya ketagihan. Bahkan saat sampul calon buku solo yang diunggahnya di akun media sosial, beberapa temannya sudah melakukan pre order. Sungguh suatu kebanggaan tersendiri baginya. Saya juga turut bahagia mengetahui hal ini.


Teman saya menambahkan, bahwa dia menulis bukan untuk benefit (keuntungan) semata, tapi untuk membukukan kenangan. Wah ... Keren juga dia, begitu pikir saya. Menulis untuk membukukan kenangan.


Ya, betul. Menulis merupakan salah satu cara agar kita bisa mengenang segala peristiwa yang telah lewat, membukukan setiap jejak sejarah hidup yang tertinggal. Berharap kelak, ada hikmah yang bisa bermanfaat bagi para pembaca, juga sebagai warisan abadi bagi anak cucu kelak.


Menulislah untuk membukukan kenangan.




2 komentar:

  1. Impian saya banget tu punya buku sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga impian mbak Swastikha segera terwujud. Aamiin ^^

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...