Minggu, 12 November 2017

Arti Sebuah Nama







"Saya punya teman sekolah, dulu sering dipanggil 'se**eng'. Seingat saya, rumahnya dekat rumah mbak, tapi ke arah timur. Entah sampai sekarang, dia sudah pindah atau masih di rumah itu."

Begitu yang disampaikan seorang wali murid saat berbincang-bincang, sambil menunggu anak-anak kami keluar dari kelas masing-masing. Saya mencoba mengakrabkan diri, sekadar ngobrol ringan dan berkenalan, meskipun anak-anak kami beda kelas.

Saat mengobrol dan bercerita tentang alamat masing-masing, wali murid tadi teringat tentang salah seorang teman sekolahnya, yang tinggal beberapa gang dari rumah saya. Karena termasuk penduduk baru, saya sampaikan bahwa saya tidak begitu kenal dengan teman yang dimaksud.


Perbincangan kami tidaklah lama, karena bel tanda waktunya anak-anak pulang telah berbunyi. Kamipun saling berpamitan, lantas menghampiri buah hati masing-masing.


Satu hal yang menjadi catatan dalam benak saya adalah, tentang nama yang tadi sempat disebut oleh wali murid tadi. Bukan nama asli sebenarnya (wali murid tadi bahkan lupa dengan nama asli dari temannya itu), tetapi itu adalah julukan. Pendapat dari beberapa orang, menurut wali murid tadi, karena temannya itu bila diajak ngobrol sering tidak nyambung, tidak fokus, akibat perbuatan yang sering mengonsumsi obat-obat terlarang. Na'udzublillah! 

Sungguh ironis. Saat kita harus mendapat julukan yang sangat jauh berbeda dengan nama asli, hanya karena terjerumus dalam perbuatan yang dilarang oleh Allah. 


Begitulah. Terkadang kita juga pernah mendengar atau mengalami sendiri, ada sebagian teman yang dijuluki dengan sebutan yang jauh dari nama aslinya. Entah itu karena postur tubuh, perilaku, atau hal lainnya.


Tak terkecuali saya. Dulu saat masih bersekolah, saya pernah mendapat julukan yang bikin miris terdengar di telinga. Hal ini disebabkan oleh postur tubuh saya yang gemuk. Ada beberapa teman sekolah yang menjuluki saya dengan sebutan "potongan bom". Duh ... Sakitnya mendengar kata-kata ini. Kalau istilah sekarang, baper jadinya.


Saat itu memang tiada marah sedikitpun mendapat julukan yang menyakitkan. Meskipun jengkel, tapi saya biarkan saja ulah beberapa teman. Meladeni sikap mereka hanya akan menimbulkan pertikaian. Diam adalah sikap yang tepat menurut saya. Toh, semua itu akan berlalu.


Pemberian nama dari orangtua merupakan salah satu hal yang patut disyukuri. InsyaAllah tidak ada orangtua yang memberi nama yang tidak patut bagi anak-anak mereka. Nama juga merupakan untaian doa. Orangtua berharap, dengan memberikan nama-nama yang indah pada anak-anak mereka, hal tersebut sekaligus merupakan doa terbaik yang senantiasa terpanjatkan, berharap Allah akan mengabulkan.


Begitulah. Mari kita berikan nama terbaik bagi buah hati, panggillah seseorang dengan namanya, bukan dengan julukan yang tak mempunyai arti. Bukankah hal ini sekaligus menciptakan kebiasaan yang baik?


Tidakkah kita juga bertanya pada diri sendiri, bila berada pada posisi orang yang dipanggil tidak sesuai dengan nama asli? Walaupun panggilan itu bernada positif, misalnya 'cantik' atau 'geulis'. Kita punya nama. Alangkah lebih nyaman bila kita mendapat panggilan sesuai nama asli.


Bila ada pepatah menyebutkan : apalah arti sebuah nama, buat saya pribadi, itu sangat berarti. Kelak, nama itu juga yang tetap melekat hingga saat saya dipanggil oleh Sang Kuasa.


Semoga kita selalu saling mengingatkan dalam kebaikan.


Aamiin.

2 komentar:

  1. Jaman kecil dulu juga ada beberapa tetangga yang punya nama julukan karena berkaitan dengan fisiknya. Lama-kelamaan, nama aslinya jadi terlupakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Panggilan saat masa kecil biasanya terbawa hingga dewasa. Nama aslipun terlupakan.

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...