Jumat, 13 Oktober 2017

Ketika Merasa Ditikam




Hmm … judulnya bikin ngeri nggak sih? Ditikam … ditusuk dari belakang. Sakit? Tentu saja. Ada yang pernah mengalami seperti hal ini? Apalagi yang menikam adalah orang yang selama ini dipercaya. Duh, jadi semakin merasakan sakit. Merasa dikhianati.

Begitu juga yang dirasakan suami saya. Dia bercerita bahwa salah satu orang yang dipercayai telah mengkhianati. Selingkuh dibelakangnya #eh, maksudnya berbuat tidak jujur tanpa dia ketahui (ya iyalah namanya juga selingkuh sembunyi-sembunyi).

Jadi ceritanya, beberapa hari yang lalu, suami bercerita, bahwa dia habis ditegur salah satu pegawai kelurahan setempat, karena ketidakhadirannya membahas suatu permasalahan di lingkungan tempat tinggal kami.

“Bun … aku mendapat teguran dari Pak X,” begitu kata suami di suatu pagi sambil menikmati segelas teh hangat.

Lho, ada apa, Ayah? Kok tumben,” tanya saya penasaran. Tidak biasanya pagi-pagi suami curhat begini.

“Ayah diberitahu Pak  X, kok tidak hadir dalam pertemuan lingkungan (kelurahan) sebanyak 3 kali. Apalagi yang dibahas persoalan penting,” terlihat raut wajahnya sedikit kecewa. Keningnya berkerut.

Kok Ayah bisa tidak tahu tentang pertemuan itu? Biasanya kan ada undangan. Bunda juga tidak merasa menerima atau dititipi undangannya.”

Hening sejenak. Lantas suami berkata lagi. Saya jadi semakin penasaran.

“Informasi dari Pak X, undangan dititipkan pada  istrinya Pak Y (kebetulan Bu Y adalah salah satu kader di lingkungan tempat tinggal kami, dan sering berinteraksi dengan orang-orang di kelurahan), dan tidak disampaikan ke Ayah. Bahkan yang menghadiri pertemuan tersebut adalah Pak Y (yang notabene suami dari Bu Y). Ayah merasa ditikam dari belakang, Bun. Kok tega ya mereka berbuat seperti itu,” terdengar nada kecewa dari mulut suami.

Saya hanya terdiam mendengarnya, mencoba tidak menambah beban pikiran suami. Melihat saya tidak mengeluarkan sepatah katapun, suami berujar,

“Ayah sudah klarifikasi ke Pak X kok, Bun, kalau tidak menerima undangan tersebut. Bahkan Pak X bilang, undangan pertemuan sebanyak 3 kali. Tak satupun pertemuan yang dihadiri. Ayah tidak tahu maksud dari suami istri itu. Padahal selama ini, Pak Y adalah orang kepercayaan Ayah. Ah … sudahlah…”

Lantas suami beranjak dari kursi dan bilang mau mencuci motor kesayangan. Saya merasakan kekecewaan yang mendalam.

Begitulah. Terkadang memang tidak semua orang yang kita percaya bisa berbuat jujur. Bahkan tanpa sedikitpun ada dalam benak, bahwa suatu saat kita akan dikhianati.

Kita percaya bahwa orang kepercayaan ya bisa dipercaya, bisa diajak bekerjasama dengan baik, tidak berkhianat, apalagi menikam dari belakang.

Semoga kejadian ini menjadikan saya dan suami tetap berpikiran positif pada semua orang. Berusaha tetap berkomunikasi yang baik dengan siapapun. Tidak membalas perbuatan tidak baik (kejahatan) dengan hal yang tidak baik pula.




Postingan ini diikutsertakan pada Program One Day One Post yang diselenggarakan oleh Blogger Muslimah Indonesia.


#ODOPOKT12




10 komentar:

  1. Sakit banget Mba dikhianati orang yang sudah kita percaya itu. Pernah merasakan soalnya... hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga pernah dikhianati. Rasanya sulit untuk percaya kembali :(

      Hapus
  2. Apa mungkin Bu Y orangnya pelupa ya?
    Eh tapi kalau udah 3x gak ngasiin undangan ya gak mungkin lupa kyknya ya...
    Mungmkin lain kali dibilangin aja kalau ada undnagan jgn nitip org lain tapi sampaikan langsung gtu mbk...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, kalimat terakhir tuh mbak yang aku setuju.

      Hapus
  3. Kadang, kita memang gak boleh terlalu percaya atau dekat dengan seseorang. itu pelajaran yang saya dapat. tetep berpikir positif aja yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, mbak. Pelajaran berharga nih. Jangan terlalu percaya pada orang lain ^^

      Hapus
  4. Betul, ada kalanya menyisakan sedikit ruang untuk tidak percaya 100%

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh percaya, asal tetap waspada ya mbak Lisa ^^

      Hapus
  5. Kadang yang berani seperti itu justru memang orang dekat, sudah jadi kepercayaan. Pernah mengalami juga, tapi insya Allah ada hikmahnya/. Allah tunjukkan siapa yang tidak patut menjadi teman kita..dan harus sabar...^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. MasyaAllah... Betul mbak, semoga bisa jadi pelajaran dan kita ambil hiknahnya saja

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...