Kamis, 05 Oktober 2017

Jangan Ada Kebohongan Lagi




Pernah nggak sih, teman-teman dibohongi? Atau merasa dibohongi? Saya pernah. Mungkin juga sering. Tanpa tahu alasan si pembohong melakukannya pada saya. Tentu saja diri ini tidak tahu persis kenapa diperlakukan seperti itu. Bahkan bisa jadi baru menyadari setelah beberapa waktu berlalu, setelah menemukan bukti-bukti kebohongan tersebut. Tak jarang bukti kebohongan datang tanpa harus bersusah payah menemukan. Ini namanya kebetulan.


Tidak seorangpun manusia di dunia ini luput dari dosa. Tentu saja tak terkecuali saya. Melakukan suatu kebohongan tentu juga pernah saya lakukan. Pasti saat itu merasakan ada kekhilafan, tetapi mungkin juga ada alasan dengan terpaksa melakukan. Sesudahnya pasti ada penyesalan, tetapi ketika kondisi tidak memungkinkan untuk mencabut kebohongan tersebut, apalah daya. Berpikir bahwa suatu saat akan mengakui kebohongan sebagai suatu tindakan yang terpaksa dilakukan. Berharap ada maaf juga ampunan dari Yang Maha Kuasa.


Merasa dibohongi itu sangat menyakitkan memang. Mungkin tidak seberapa bila hanya sekali atau 2 kali kita menerima perlakukan seperti itu, tetapi bila angka kebohongan sudah lebih dari itu, rasanya kok jadi kurang mempunyai rasa percaya pada orang lain yang telah berbohong pada kita, ya. Lepas dari kebohongan itu dilakukan dengan sengaja ataupun tidak.


Jujur saja, saya termasuk tipe orang yang tidak suka dibohongi (pasti semua orang juga merasakan hal yang sama). Kebohongan, ketidakjujuran, merupakan sebuah pengkhianatan kepercayaan bagi saya. Bila seseorang yang saya percaya melakukan perbuatan yang tidak baik ini, duh … saya jadi sakit hati. Sedih. Kecewa. Rasanya ingin menghindar saja bertemu dengan orang-orang yang telah berbuat bohong pada saya. Tidak ingin menjalin komunikasi dengan mereka untuk beberapa saat, atau dalam jangka waktu tidak tertentu, atau mungkin sama sekali putus komunikasi. Tentu saja hal ini saya lakukan, bila kebohongan tersebut sudah tidak bisa ditoleransi lagi.


Bagi saya, orang-orang yang pada awalnya melakukan atau mengucapkan sebuah kebohongan kecil dan itu dimaafkan begitu saja, maka ini adalah langkah awal untuk melakukan kebohongan-kebohongan berikutnya, bahkan dengan kadar yang jauh lebih besar. Tanpa disadari, kita telah membenarkan perbuatan yang salah.


Well … mungkin teman-teman berpikir, sebaiknya saya memaafkan saja kesalahan mereka yang telah berbuat bohong. Toh, tidak ada manusia yang sempurna. Semua orang mempunyai kesalahan. Tentu saya memaafkan, meskipun memerlukan proses yang cukup panjang. Tapi tidak begitu saja melupakan perbuatan tersebut. Mengambil sikap lebih berhati-hati dan waspada, mungkin lebih penting.


Bagi saya, lebih baik menyampaikan kejujuran meskipun menyakitkan, daripada selalu ada kebohongan lagi, lagi dan lagi. Sebuah kepercayaan akan tumbuh bila kita bisa jujur satu sama lain. Bukankah begitu?




Postingan ini diikutsertakan dalam Program One day One Post yang diselenggarakan oleh Blogger Muslimah Indonesia.


#ODOPOKT4

27 komentar:

  1. Mau ikutan odopnya gimana ya caranya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Daftar di blogger muslimah Indonesia, mbak. Tapi sepertinya sudah ditutup. Bisa menunggu periode berikutnya :)

      Hapus
  2. Memang dibohongi itu menyakitkan... 😢

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas Jee ... Sakitnya dibohongi itu bikin nyesek :(

      Hapus
    2. Biarlah kita yang dibohongi, asal jangan membohongi

      Hapus
    3. Semoga tidak terus dibohongi :(

      Hapus
  3. Saya sering menemukan orang tua yang membohongi anaknya. Gara-gara si anak merengek minta sesuatu, akhirnya terjadilah kebohongan. Biasanya satu kebohongan akan berlanjut pada kebohongan berikutnya. So sad...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus mulai jujur pada anak ya mbak, sampaikan saja apa adanya. Ini sekaligus edukasi agar anak tahu bahwa tidak setiap keinginannya harus terpenuhi :)

      Hapus
  4. Balasan
    1. Jujur dari hati terdalam, mas :)

      Hapus
  5. Sekali dua kali berbohong, seterusnya orang susah memercayainya.. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu prinsipku, mbak. Sulit rasanya percaya pada orang yang tidak mau jujur setelah kita memberi kepercayaan :(

      Hapus
  6. Wuuuuiiihhh...paling sebel kalo orang dewasa bohongin anak kecil.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga mbak Denik tidak termasuk golongan orang dewasa itu :)

      Hapus
    2. Semoga mbak denik bukan termaduk golongan yang dewasa itu hehe

      Hapus
  7. Semoga terhindar dari sifat ini.. Aamiin

    BalasHapus
  8. Duh, kesentil nih. Jangan2 selama ini saya terjerat ke dalam kebohongan. Semoga Allah mengampuni ;(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak bermaksud begitu, mbak Nia. Postingan ini curahan hatiku :(

      Hapus
  9. Duh, kesentil nih. Jangan2 selama ini saya terjerat ke dalam kebohongan. Semoga Allah mengampuni ;(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak bermaksud begitu, mbak Nia. Postingan ini curahan hatiku ;(

      Hapus
  10. Waaaah, sepertinya tema ODOP dari Blogger Muslimah ini seru-seru ya mbak.. Mau ikutan deh... ^^

    BalasHapus
  11. kao urusan sama orang tuh susah ya, beberapa dari mereka tidak menyadari akibat kebohongannya akan membuat dia kehilangan kepercayaan. mungkin kita bisa memaafkan, tapi untuk berurusan lagi dgn dia pasti mikir sepuluh kali

    BalasHapus
  12. Iyess. Kita tidak mau mengambil resiko kerja bareng orang suka bohong ya

    BalasHapus
  13. lebih baik sampaikan kejujuran meski pahit..ya Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak Dian. Lebih baik jujur meski menyakitkan, daripada pingin nyenengin tapi bohong :(

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...