Jumat, 29 September 2017

Hidup Damai Tanpa Ambisi




Membaca postingan salah satu teman, membuat saya kembali merenung tentang hidup yang dijalani. Teman tersebut mengungkapkan, bahwa hidupnya kini menjadi lebih tenang, ketika dia memutuskan untuk tidak lagi memupuk ambisi dan memaksakan diri menjadi sesuatu seperti orang-orang di sekitarnya. Dia tidak ingin hidup hanya sekadar menunjukkan kehebatan pada dunia.



Sebuah kisah pahit dan kehilangan yang menerpa hidupnya beberapa tahun yang lalu, telah mengubah pandangannya tentang hidup. Banyak hikmah dan pelajaran telah diambil. Dia merasa, hidup ini sudah berat, tidak perlu disikapi dengan lebih berat lagi. Menjalani hidup tidak selalu tentang menaklukkan dan memenangkan.

Dia tidak ingin lagi terlalu sibuk dengan urusan dunia dan target yang tinggi akan banyak hal, dan memilih untuk lebih banyak memupuk syukur. Sebuah langkah yang nyaris terlupakan saat dirinya terlalu sibuk dengan urusan dunia.

Suatu hal yang membuatnya semakin mensyukuri hidup adalah, saat memutuskan untuk tidak lagi menjalani hidup penuh ambisi dengan target-target yang tinggi, sehingga dirinya melupakan hakikat hidup yang sesungguhnya, justru Allah melimpahinya dengan banyak rejeki, yang tidak dia sangka. Rejeki yang tidak hanya dalam bentuk materi, tetapi dalam berbagai hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Syukur tiada terhinggapun senantiasa semakin dia panjatkan padaNya.

Teman saya pun mengungkapkan, bahwa hidup ini akan sangat melelahkan bila terus dibuat untuk berlomba demi memenuhi ambisi yang tanpa batas. Memberi jeda pada waktu dan tempat yang tepat, telah membawanya pada sebuah pemaknaan hidup yang baru. Kini dia merasa semakin mematangkan diri, dan menggenapkan bahagianya.

Sepenggal cerita yang dialami salah seorang teman, membuat saya terinspirasi untuk menjalani hidup seperti dia. Boleh saja kita mempunyai ambisi dan target, semata agar hidup yang dijalani lebih terarah menuju tujuan yang hendak dicapai. Tetapi bukan lantas melupakan makna hidup yang sesungguhnya, melupakan hak Sang Pemberi agar kita tetap selalu mengingatNya, dan melupakan syukur karena kita telah dipilih menjadi salah satu hamba yang diberi kesempatan menikmati hidup di dunia. Saya tidak ingin menjalani sisa hidup ini dengan kesia-siaan.

16 komentar:

  1. Ah bunda, ini sama seperti yg sedang aku rasakan. 😂

    Kuncinya banyak-banyak syukur pokonya mah biar hidup tenang itu. Nice bun 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ungkapan hati temanku itu yang jadi reminder buatku, mbak.

      Semoga bermanfaat :)

      Hapus
  2. inspiratif mbak....hidup tak melulu tentang menang dan menaklukkan..tapi hidup dijalani dengan penuh rasa syukur..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semakin banyak bersyukur, akan semakin merasakan nikmat karuniaNya :)

      Hapus
  3. memang kunci hidup itu harus banyak bersyukur ya mba,makasi sudah diingatkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, mbak Erna. Saling mengingatkan :)

      Hapus
  4. Setuju Mbak, karena kebahagiaan itu berbanding lurus denganrasa syukur.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semakin banyak bersyukur, insyaAllah akan semakin bahagia ya mbak Ane

      Hapus
  5. huhu
    mulai lebih banyak bersyukur mmg paling penting ya mbak :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga masih belajar supaya lebih banyak bersyukur, mbak Nin
      :'(

      Hapus
  6. syukur pasti mujur. Terima kasih mba Nova

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mbak. Semoga bermanfaat :)

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...