Jumat, 29 September 2017

Hidup Damai Tanpa Ambisi




Membaca postingan salah satu teman, membuat saya kembali merenung tentang hidup yang dijalani. Teman tersebut mengungkapkan, bahwa hidupnya kini menjadi lebih tenang, ketika dia memutuskan untuk tidak lagi memupuk ambisi dan memaksakan diri menjadi sesuatu seperti orang-orang di sekitarnya. Dia tidak ingin hidup hanya sekadar menunjukkan kehebatan pada dunia.

Kamis, 28 September 2017

Yang Penting Action Dulu!



Ada percakapan yang menarik di grup #OneDayOnePost, khususnya grup kentang. Kentang? Mungkin pertanyaan itu yang ada di benak teman-teman. Tidak ada alasan khusus untuk penamaan grup ini. Yang jelas, idenya dari salah satu pengurus di komunitas menulis kami, yaitu #OneDayOnePost.

Rabu, 27 September 2017

Tinggal Beberapa Hari Lagi






Kemarin, seseorang menghampiri saya, lantas mengucapkan sesuatu.

“Aku minta maaf ya, bila selama ini banyak berbuat salah padamu, sering menggoda. Sungguh tidak ada maksud apapun, hanya sekadar bercanda saja. Maafkan aku, ya,” begitu katanya panjang lebar.

Selasa, 26 September 2017

Menebar Kebaikan dengan Menulis




Kemarin saat blogwalking ke blog teman-teman dari komunitas #One Day One Post angkatan ke-4, saya merasakan keseruan juga senang. Mereka sangat antusias membagikan link postingan juga aktif ngobrol di grup (meskipun ada juga yang obrolannya out of topik, hehe. Ini sih udah biasa di grup manapun, wekawekaweka).

Senin, 25 September 2017

Hargailah Jerih Payah Penulis






Sebuah inbox mampir ke gawai saya, di suatu hari. Dari seseorang. Saya belum mengenalnya. Inti dari isi inbox tersebut seperti ini :


“Perkenalkan, saya X. Langsung saja ya, mbak. Kami menawarkan kerjasama dalam bentuk penulisan artikel. Untuk setiap artikel yang ditulis sebanyak 300 kata, kami akan memberikan fee sejumlah lima ribu rupiah. Bagaimana, mbak?”


Whattt? 300 kata cuma dapat lima ribu? Apa-apaan ini?’ begitu pikir saya. Cenut-cenut deh. Murah amat ya? Meskipun masih kaget dan bertanya-tanya, sayapun menjawab inbox tersebut.


“Saya pikir-pikir dulu ya, mbak. Jawabannya akan sesegera mungkin saya berikan,” begitu jawaban yang saya berikan.



“Ditunggu ya mbak, kepastian jawabannya hari ini. Bila mbak tidak berkenan, nanti segera kami alihkan penawarannya pada orang lain,” jawabnya.


“Oke,” singkat jawaban dari saya.


Hmm … benak jadi berpikir tentang inbox dari seseorang yang tentu saja masih begitu asing bagi saya. Tentu saja yang terpikir adalah tentang fee yang didapat ketika saya bersedia menulis untuk artikel sejumlah 300 kata.


Berbagai pertanyaan muncul memenuhi pikiran. Kok murah banget ya? Apakah memang hanya segitu harga yang pantas untuk seorang penulis? Apakah pihak yang menawarkan itu tidak tahu atau memang tidak peduli, bahwa menulis itu juga harus menggunakan otak dan perasaan juga? Okelah, mungkin ada penulis yang sukanya asal copas dari tulisan orang lain, tinggal klik-klik saja, beres. Tapi masih banyak lho, penulis yang tulisannya memang murni buah dari pikirannya sendiri.


Menulis sebanyak 300 kata itu kurang lebih bisa 2 halaman, lho. Apalagi menulis artikel yang terkadang memerlukan riset dan data, jadi tidak asal menulis saja. Data pendukung didapat darimana? Bisa dari hasil browsing di internet, pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain, atau dari buku yang dibaca. Lha kalau dari browsing, mungkin perlu ke warnet, perlu beli paketan (perlu biaya), walaupun bisa juga sih pakai wifi gratisan (tetapi kan perlu cari lokasi yang pas, juga). Nah, kan. Tetap harus ada pengorbanan dari penulis. Saya jadi ingin mengajukan pertanyaan deh ke pihak yang menawarkan tadi : situ waras? *makin geregetan dan ingin garuk-garuk tembok.


Meskipun hati nurani mengatakan untuk menolak saja tawaran tersebut, tapi saya ingin mendapatkan saran dan pendapat dari beberapa teman penulis. Hasilnya semua menyarankan agar saya tidak menerima tawaran tersebut. Bahkan ada masukan dari seorang blogger senior (kebetulan saya menjadi salah satu anggota komunitas yang diasuhnya), agar jangan ‘melacurkan’ intelektual kita sebagai penulis. Menjadi penulis itu, lebih baik tidak dibayar asalkan ada kepuasan batin. Sharing is caring.
 

Nah, itu! Kepuasan batin. Bagi seorang penulis, lebih baik tetap menulis, asalkan batinnya puas, daripada menulis tapi dibayar nggak pantas. Udah merasa nggak happy, tertekan pula. Ngenes kuadrat, deh!


Eh … tetapi ini murni pendapat saya, lho. Kalau ada yang hepi dengan bayaran segitu, ya monggo saja.


Well, akhirnya saya putuskan untuk menolak tawaran kerjasama tersebut. Tentu dengan kalimat yang sopan dan tidak menyinggung. Ya, siapa tahu dia akan menawarkan lagi kerjasama dengan harga yang lebih pantas, kan?


Menghargai karya orang lain tentu akan lebih baik, termasuk juga karya para penulis. Hargailah pengorbanan para penulis, termasuk juga memberikan fee yang pantas atas jerih payah mereka. Meskipun sebenarnya, banyak penulis yang tidak hanya mengejar materi saja, tetapi cukup senang bila karyanya ada yang membaca. Percaya, deh!


*postingan ini murni curhatan saya, sebagai orang yang pernah mendapatkan tawaran untuk menulis, sejumlah 300 kata dengan fee sebanyak lima ribu rupiah.

Jumat, 22 September 2017

Tips Agar Anak Tidak Bergantung pada Gawai






Sudah hampir 1 bulan ini, si kecil Rafa tidak lagi asik dengan gawai. Lho, anak umur 5 tahun sudah sering main gawai? Mungkin begitu yang ada di pikiran Anda semua. Iya. Hiks. Dan itu jelas murni kesalahan kami sebagai orangtua yang kurang mengontrol penggunaan gawai pada anak, meskipun hanya untuk mengoperasikan aplikasi permainan yang ada di telepon pintar tersebut.

Kamis, 21 September 2017

Semoga Menjadi Lebih Baik





Hari ini, Kamis, 21 September 2017, adalah hari pertama di tahun baru Islam. Setahun sudah bersama dengan 1438 Hijriah, dan sekarang telah berada di 1439 Hijriah.

Rabu, 20 September 2017

Tips Menghalau Bad Mood



Sudah 2 minggu batuk menyerang, membuat saya menjadi tidak nyaman untuk melakukan aktivitas apapun. Jengkel dan rasanya ingin marah saja. Tiada kunjung reda sakit ini, membuat bad mood sering menghinggap.

Selasa, 19 September 2017

Menyemangati Orang Lain Sejatinya Menyemangati Diri Sendiri



‘Aku gagal,’ sebuah chat mampir ke whatsapp saya. Dari seorang teman. Dia menyampaikan kegagalannya untuk bisa lolos di sebuah even menulis yang baru saja diikuti. Saya tahu dia kecewa, pun pernah merasakan hal yang sama. Merasa sudah berusaha sebaik mungkin, namun ternyata hasilnya nihil. Tapi mau bagaimana lagi? Keputusan dewan juri sudah ditetapkan, tidak bisa diganggu gugat.

Senin, 18 September 2017

Melepaskan, Merelakan dan Mengikhlaskan





Judul postingan kali ini semoga tidak membuat siapapun jadi baper. Maafkanlah saya yang sedang tidak berhasil membuat judul yang menarik. Apakah selama ini saya sudah bisa membuat judul yang menarik? Entahlah. Sepertinya belum berhasil juga. Ini sebenarnya mau cerita tentang apa sih? >.<

Jumat, 15 September 2017

Usia Kita, Pencapaian Kita



Pernahkah Anda merasa takut tua? Atau selalu ingin kembali ke masa muda? Mempunyai rasa iri dengan yang muda?

Kamis, 14 September 2017

Jangan jadi Penunggu





Sering nggak sih, teman-teman merasakan gelisah saat tidak satupun ide terlintas untuk menulis? Saya sering. Ngaku nih. Jujur lho.

Rabu, 13 September 2017

Ingin Punya Blog Sepertimu




Sebuah chat mampir di whatsapp saya. Dari seorang teman. Dia bilang, ingin punya blog seperti milik saya. Hmmm ... Maksudnya apa ya?

Selasa, 12 September 2017

Disiplin Diri dan Komitmen




Hari ini, Selasa, 12 September 2017, adalah hari kedua, kami para anggota #OneDayOnePost, sebuah perkumpulan orang-orang keren #ehem, yang ingin turut serta memajukan dunia literasi di Indonesia, berkomitmen untuk mendisiplinkan diri dengan menulis setiap hari di blog pribadi.

Senin, 11 September 2017

Menulis itu harus enjoy dan ikhlas



Seorang teman menyampaikan pada saya, bahwa menulis itu sebaiknya harus dalam keadaan enjoy dan ikhlas. Hal ini dimaksudkan agar tulisan kita menjadi enak dibaca. Apalagi bisa bermanfaat untuk pembaca, dan tentu saja bagi penulisnya sendiri.

Jumat, 08 September 2017

Membaca dan Menulislah, Tinggalkan Jejakmu di Sana




Aktivitas membaca dan menulis itu erat sekali kaitannya. Dua hal ini bila dipadukan akan menghasilkan sebuah karya yang mengagumkan, tentu saja bila disertai niat yang kuat disertai kerjasama yang bagus antara rasa dan pikir yang dimiliki seseorang. Setiap orang yang bisa menulis, pasti bisa membaca. Namun sebaliknya, orang yang bisa membaca, belum tentu mempunyai kemampuan menulis yang baik.

Kamis, 07 September 2017

Biarkan saja Mereka Berkomentar tentang Kita






Ceritanya, tempo hari saya berpapasan dengan seorang tetangga. Ngobrollah kita. Sebenarnya bukan menggosip sih, tetapi lebih pada membicarakan diri sendiri.

Rabu, 06 September 2017

Maaf, Saya sedang Ingin Sendiri!



Duh, apa-apaan ini judulnya? Kok berasa galau banget ya? Memang iya, hehe. Galau tetapi tetap ingin menulis ya, begini ini jadinya hahaha.

Pernah nggak sih, teman-teman merasa sedang mengalami masalah yang teramat berat, belum bisa menemukan solusi terbaik, dan ingin sendirian dulu untuk menenangkan diri? Pasti pernah kan ya *sok tau.

Selasa, 05 September 2017

Choice




Kita patut bersyukur masih diberi kesempatan untuk menikmati indahnya hidup ini. Bisa merasakan hangatnya mentari juga merdunya kicau burung beterbangan. Kita juga harusnya bersyukur disaat orang lain tidak mempunyai pilihan, justru kita diberi kebebasan untuk menentukan pilihan-pilihan dalam hidup kita.

Senin, 04 September 2017

Ya Sudah, Menulis Saja!



Ini sudah hari ke-4 bulan ini dan saya belum menulis apapun di blog kesayangan! Sedih? Iya.

Perasaan seperti ini seringkali menghinggap pada diri. Rasanya memang ada yang kurang bila tidak menulis. Hari-hari serasa sepi tanpa menggores kata, menuang pena *eh kebalik ya? Biarlah. Sesekali membolak-balik kata tak mengapa, kan? Hehe.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...