Selasa, 01 Agustus 2017

Menjaga Lisan, Menjaga Hati




sumber foto : google

Pernah suatu ketika, kami sekeluarga melihat sebuah tayangan di televisi. Tiba-tiba, si ayah menyelutuk dan (mungkin) tanpa sadar mengeluarkan sebuah kata yang tidak pantas didengar. Yang menegur adalah si kecil kami. Kata-kata itu memang mengarah pada ucapan yang tidak pantas (kalau tidak salah, si ayah mengeluarkan kata g****k, karena tayangan tersebut tidak sesuai dengan jalan pikirannya). 



Saat mengetahui si kecil menegur, si ayah langsung terdiam. Mungkin menyesal. Mungkin menyadari kekeliruannya. Atau barangkali si ayah malu, karena telah mengucapkan kata yang tidak pantas untuk didengar.


Kejadian seperti di atas, mungkin saja pernah atau sering dialami juga oleh kita. Terlanjur mengucap kata yang tidak pantas, tanpa disadari telah menimbulkan reaksi pada lingkungan sekitar.


Mungkin tanpa kita sadari, kata-kata yang terlanjur keluar dari lisan kita merupakan hal yang tidak seharusnya kita lakukan. Namun terkadang kita menyadari hal tersebut setelah kejadiannya berlalu dan tinggallah penyesalan. Tak jarang diri menyadari telah melakukan sebuah perbuatan yang sia-sia (tidak bermanfaat).


Begitulah. Seringkali kita melakukan hal-hal yang sia-sia tanpa kita sadari. Berawal dari lisan yang tidak terjaga. 

Tanpa kita sadari, kadang ucapan kita meninggalkan sesuatu di kepala orang lain yang bisa saja membuat mereka menjadi kehilangan seluruh kepercayaan diri, tidak bisa lagi hidup tenang, bahkan membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk kembali bangkit. Sementara kita yang melakukannya, karena lisan yang tidak terjaga, melakukan pembelaan atau beralibi bahwa hal itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan. 

Tanpa kita sadari, lisan telah mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas, sehingga bisa dianggap bahwa saat itu, lisan yang tidak terjaga, menunjukkan hati kitapun tidak terjaga. Kata-kata yang tidak baik merupakan cerminan hati yang sedang tidak baik. 


Hal inipun juga bisa terjadi pada setiap tulisan. Tulisan yang baik, tentu datang dari hati yang baik pula. Untuk tujuan yang baik, tentu saja.


Kecuali bagi orang-orang yang sengaja tidak menjaga lisan maupun tulisan-tulisannya, untuk suatu tujuan tertentu yang bisa merugikan orang lain, sungguh merupakan suatu perbuatan yang tiada manfaatnya. 


Marilah kita menjaga lisan dan tulisan kita, karena hal itu merupakan cerminan dari apa yang ada di hati kita. Jika apa yang keluar melalui lisan maupun tulisan merupakan hal yang baik, maka itulah cerminan baiknya hati kita. Demikian pula sebaliknya.


6 komentar:

  1. saat ini lisan, tulisan, jempol duh harus bener2 dijaga y mba kayak kasus yang sedang booming ini seorang psikolog ternama aku siy ga nyangka sampe mengeluarkan statement sepeerti itu melabelkan sesuatu yang belum tentu kebenarannya dan ini tentunya menuai kemarahan. Makanya mau didunia maya dan realita menjaga itu perlu makanya jika tidak mampu aku kebanyakan diam jika ngobrol dengan orang lain takut lisan ini ga kekontrol hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, mbak Herva. Mending diam aja, untuk menjaga agar lisan kita mengeluarkan kata-kata yang baik :)

      Hapus
  2. Iya semakin hari banyak yang tidak bisa menjaga lisan baik bertemu langsung dan bahaya pas chating juga ikutan tangan mengetik tak terkontrol.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kita tetap bisa menjaga lisan dan terhindar dari melakukan perbuatan yang nggak baik ya mbak Erna :)

      Hapus
  3. aq juga kadang biasa suka keceplosan kalau ngomong huhuh, kalau marah juga blum bisa tahan2 lisan,, berharap semoga makin bisa menjaga lisan dan tulisan juga ya. makasih postingan remindernya mbak ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebagai reminderku juga, mbak Qiah :)

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...