Sabtu, 10 Juni 2017

Memaknai Ngabuburit di Bulan Ramadhan



sumber foto : dok. pribadi



Assalamu’alaikum.

Salah satu momen yang terjadi dan identik selama bulan Ramadhan adalah ngabuburit. Istilah ini sebenarnya berasal dari bahasa Sunda, yaitu burit yang artiya waktu menjelang sore hari. Jadi ngabuburit adalah kegiatan yang dilakukan saat menunggu atau menghabiskan waktu di sore hari, hingga azan maghrib atau saat berbuka puasa tiba.


Beberapa kegiatan yang dilakukan saat ngabuburit tiba, antara lain dengan jalan-jalan, mampir ke tempat keramaian, membaca buku, mengaji, bahkan ada yang menghabiskan waktu bersama keluarga di dekat rel kereta api, menunggu kereta yang akan lewat. Tidak mengherankan bila saat-saat menjelang magrib, jalanan selalu ramai dengan orang-orang yang hendak ngabuburit.

Fenomena ini juga terjadi daerah saya, yaitu Kabupaten Nganjuk. Meskipun kota kecil, kalau waktunya ngabuburit di bulan puasa kayak gini, wuih … ramai banget deh. Yaa … kapan lagi Nganjuk terasa padat. Beragam kendaraan, mulai roda 2, roda 3, roda 4, atau tidak beroda *eh, beragam penjual makanan, minuman, baju-baju dan sebagainya, tua, muda, anak-anak, laki-laki maupun perempuan, semua tumplek blek. Terutama di ruas jalan menuju Alun-alun Nganjuk.

Seperti sore itu, saya merengek pada suami ingin jalan-jalan sebentar melihat keramaian. Aneh ya? Keramaian kok ditonton. Ya, kali ini biarkan saya menjadi aneh. Kapan lagi bisa menikmati kepadatan di Nganjuk, bila tidak saat peristiwa-peristiwa tertentu, seperti Ramadhan kali ini. Biar dibilang kekinian dan bisa merasakan sensasi ngabuburit, maka cuzz … berangkatlah saya, suami dan anak kami, Rafa. Let’s go, babe!

And the story goes on

Masyarakat kita cenderung memaknai ngabuburit dengan cara menghabiskan waktu dengan jalan-jalan, baik sendiri, berdua dengan orang yang spesial atau berombongan ke tempat keramaian. Tentu di tempat ini akan didapati para penjual takjil untuk berbuka puasa dan penjual lainnya, mulai dari penjual jilbab, baju-baju dan sebagainya. Tak jarang dengan melihat banyaknya beragam kuliner atau segala macam pernik Ramadhan, membuat keinginan untuk membeli menjadi tinggi. Padahal belum tentu keinginan tersebut sesuai dengan yang kita butuhkan.

Secara tidak langsung, ada sebuah kesia-siaan bila memaknai ngabuburit di bulan Ramadhan dengan cara seperti itu. Bahkan tanpa terasa telah melakukan dosa di bulan suci. Pergi berduaan dengan orang (yang) dianggap spesial, lantas bercanda dan bergandengan tangan, hingga menimbulkan hasrat yang tidak pada tempatnya, tentu hal ini hanya akan mengotori iman.

Tidak bisa mengendalikan hawa nafsu dengan menuruti keinginan untuk membeli beragam kuliner, dengan alasan untuk berbuka puasa, padahal yang dibeli sudah lebih dari cukup untuk dikonsumsi, tentu saja hal ini juga tidak dibenarkan. Apalagi sampai lupa untuk bersedekah dan berbagi dengan sesama.

Islam tidak pernah mengajarkan menunggu berbuka puasa dengan bersenang-senang, berduaan, jalan-jalan dan menyia-nyiakan waktu. Masih banyak kegiatan positif dan bermanfaat, yang dapat mendatangkan pahala yang bisa dilakukan untuk menunggu berbuka puasa.

Alangkah baiknya bila waktu yang digunakan untuk menunggu berbuka puasa, dimanfaatkan dengan membaca buku-buku yang bermanfaat, berzikir, mendengarkan ceramah agama, membaca Alquran, dan bersedekah dengan berbagi makanan untuk buka puasa kepada tetangga, kerabat dekat atau pada siapa siapa.

Bagaimana dengan acara ngabuburit kami? Tidak seperti yang saya bayangkan, memang. Situasi terlalu padat dan tidak memungkinkan untuk meneruskan menuju alun-alun. Meskipun hanya berjarak beberapa puluh meter dari tempat kami berhenti, akhirnya diputuskan putar balik dan kembali ke rumah. Bila nekad, maka terpaksa buka puasa dalam perjalanan karena terjebak macet. Apakah saya kecewa? Sedikit sih. Tapi kami bersepakat untuk buka puasa di rumah saja.

Benak saya berpikir. Boleh saja ngabuburit, asalkan dimaknai dengan banyak melakukan kegiatan positif, tidak bertentangan dengan agama dan untuk menambah pahala. Jangan sampai kita menyesal telah melewatkan bulan suci ini dengan melakukan kesia-siaan. Semoga Ramadhan ini dan seterusnya, menjadikan kita insan yang lebih baik lagi. Aamiin.

Wassalamu’alaikum.


Nova DW
Nganjuk, 10 Juni 2017



#PengingatDiri
#PernikRamadhan







29 komentar:

  1. Saya biasanya ngabuburit sambil masak, atau baca buku dan jalan2 muterin kompel, biar sambil olah raga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keren dong. Jadi tambah sehat juga ya, mbak Lis :)

      Hapus
  2. Tulisan mbak nova selalu penuh Mb...bermanfaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah bila bisa bermanfaat. Terimakasih apresiasinya, mbak Wid :)

      Hapus
  3. Tulisan mbak nova selalu penuh Mb...bermanfaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah bila bisa bermanfaat. Terimakasih apresiasinya, mbak Wid :)

      Hapus
  4. Kalau aku ngabuburit di jalan karena nyari makan. Kalau lagi nggak masak, hihi.. Tapi jika tidak ada tujuan jelas, sepertinya cuma sia-sia ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seperti aku ya, mbak Nurrochma. Ngabuburit kok cuma pingin lihat kemacetan. Yah, maklum, tinggal di kota kecil dan nyaris tidak kena macet, sekalinya ada kemacetan malah jadi tontonan hahaha

      Hapus
  5. Aku ngabuburit nya ngapain ya kak?? Tingtung... Masak nih kalau lagi di rumah.... Tulisan sejenis ini dikatakan apa kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tulisan gado-gado, mbak Aaraa hehe. Aku sih nulis ya nulis ajalah :)

      Hapus
  6. Aku juga suka ngabuburit nyari yang seru-seru.. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kereeen ... Yang seru-serunya mbak Denik yang bagaimana ya? Ntar posting di blog ya mbak :D

      Hapus
  7. Semoga postingan ini bermanfaat

    BalasHapus
  8. Balasan
    1. Hihi ... Ya nggak pa2, mas Ian. Mungkin mas Ian banyakin tilawah ya, atau baca buku buat nunggu waktu berbuka puasa

      Hapus
  9. Ngabuburit, menunggu waktu berbuka, selama kegiatannya positif ya bolehlah. Aku biasanya kalau di rumah ku gunakan untuk baca-baca buku. Kadang juga jalan-jalan keluar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang penting memanfaatkan waktu menunggu buka puasa dengan kegiatan yang bermanfaat ya, mbak Yanti :D

      Hapus
  10. Aku ngabuburit kalau hari libur cuma di rumah saja mbak, menyiapkan menu berbuka puasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, mbak Titis masih dapat meluangkan waktu menyiapkan menu berbuka puasa untuk keluarga :)

      Hapus
  11. Balasan
    1. Nggak pa-pa lah mbak Rika, kan ngabuburit tidak wajib untuk dilakukan. Masih banyak hal yang dapat dilakukan kan? ��

      Hapus
  12. Istilahnya anak muda, dulu juga suka kayak begitu sama temen-temen. Tapi sekarang ngabuburitnya ganti nang dapur, masak sama ngurus anak wakakak..

    Yang salah itu.. mereka cenderung keliatan pacaran ngabuburitnya (sama orang spesial tapi bukan mahrom), dan menurutku sekarang kayak gitu udah gak penting.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga ngabuburit seringnya di rumah, di dapur, nyiapin buat buka puasa. Tos dulu, mbak Khusnul ��

      Hapus
  13. ngabuburit seringnya di rumah aja.. nyiapin buka puasa (yang dapet dari beli, heheee)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang penting kan nyiapin buka puasa ya, mak Ofi. Beli atau masak sendiri, lain soal hahaha

      Hapus
  14. makasih mbak nodi sudah diingatkan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mbak Eva :)
      Pengingat diriku juga kok :)

      Hapus
  15. kalau saya ngabuburit keliling cari bukaan bersama anak dan istri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekaligus menikmati kebersamaan bersama keluarga, ya mas Ahmad :)

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...