Minggu, 18 Juni 2017

Lakukan Saja yang Terbaik



sumber foto : google





Hari ini, alhamdulillah, sudah memasuki minggu terakhir Ramadhan pada tahun ini. Puasa teman-teman lancar kan? Kalaupun ada halangan, semoga bukan perintang untuk menjalani ibadah puasa kita, ya. Aamiin.

Bersyukur banget deh, kita bisa menikmati ibadah di bulan suci ini. Pengertian nikmat di sini relatiflah ya. Kan kita memaknainya juga beda-beda. Mungkin ada yang merasa nikmat karena bisa bertadarus Alquran dengan lancar dan sudah mau khatam, ada yang bahagia bisa selalu berjamaah untuk sholat 5 waktu juga tarawih, ada yang bisa berbagi takjil untuk berbuka puasa bagi tetangga sekitar rumah, atau ada yang sudah menyelesaikan orderan kue kering untuk lebaran nanti *eh, ini termasuk ibadah bukan ya? Hehe.


Intinya adalah kita tak lupa untuk selalu bersyukur. Teman-teman ingat nggak, kapan terakhir kali bersyukur. Jangan-jangan sudah lupa nih *eh, nggak boleh suudzon ya?

Kalaupun lupa, semoga segera ingat untuk selalu berdoa dan memanjatkan syukur atas segala nikmatNya, ya. Bukan karena mumpung lagi puasa saja terus di hari-hari yang lain, lupa atau menyengaja untuk tidak bersyukur. Jangan, ya. Kan kita sudah banyak diberi nikmat oleh Allah. Diberi kesehatan, bisa mencari rejeki yang halal, bisa beribadah dengan baik, bisa bersedekah dan lain sebagainya.

Tapi ya, memang ada sih, yang sedang lupa untuk bersyukur karena begitu sibuk dan mengabaikan banyak hal di dalam dirinya.

Mungkin sebagian diantara kita ada yang selalu melihat kehidupan orang lain begitu menyenangkan, begitu mudah, begitu beruntung, dan jauh dari masalah.

Semua yang terlihat membuat kita merasa bahwa orang lain selalu ‘lebih’ dibanding diri sendiri. Lantas mulai sibuk dengan menghitung semua yang dimiliki orang lain, yang kita tidak punya. Kesibukan yang hanya melihat dan menilai sesuatu yang dimiliki oleh orang lain, seolah tidak ada hal lain yang bisa dilakukan dan membuat lalai untuk bersyukur atas segala nikmatNya.

Tidak salah sih ya, jika melihat dan menyaksikan kelebihan dan keberuntungan orang lain. Apalagi bila hal tersebut membuat diri lebih bersemangat dan terpacu untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi setelah menyaksikan semua itu.

Namun pada kenyataannya, hal tersebut malah membuat kita membandingkan apa yang dimiliki orang lain dengan kekurangan yang kita miliki. Misalnya, merasa tidak sepintar orang lain, tidak secantik atau setampan orang lain, tidak sekaya dan sehebat orang lain dan berbagai keluhan lainnya.

Lantas, sampai kapan kita akan menghabiskan waktu, dengan terpaku dan membayangkan diri seperti orang lain, yang kita anggap ‘lebih’ hidupnya dibanding kita? Apalagi hingga timbul rasa benci dan kecewa karena diri tidak bisa menyamai. Akhirnya berbagai keluhan tentang hidup yang dijalani muncul, lantas menyalahkan keadaan, menyalahkan diri sendiri karena menganggap tidak cukup baik dibanding orang lain, bahkan menyalahkan Allah SWT. Na’udzubillah!

Bukankah Allah SWT telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya bentuk? Tidak bisakah kita menghargai dan menghormati diri sendiri, dan menyadari bahwa kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan mampu menjadi yang terbaik? Kenapa kita tidak fokus saja memperbaiki diri daripada harus selalu melihat hidup orang lain yang kita anggap ‘lebih’ dibanding hidup kita?

Sekecil apapun nikmat yang diberikanNya, hendaknya kita syukuri. Hidup terlalu sayang untuk dilewatkan bila kita menjalaninya dengan melakukan hal-hal yang tidak berguna, termasuk terlalu sibuk melihat kehidupan orang lain.

Teruslah fokus dan sibuk melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki diri. Lakukan saja yang terbaik dalam hidup ini. Kualitaskan diri agar kita pantas dan layak untuk bahagia dengan segala karuniaNya.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat.




Nova DW
Nganjuk, 18 Juni 2017

#PengingatDiri
#Inspirasi







10 komentar:

  1. Istilahnya rumput tetangga lebih baik ya mbak. Tapi mereka kadang hanya melihat dari sisi luarnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, mas Ian. Terkadang kita memang belum bisa menerima dengan ikhlas diri sendiri :(

      Hapus
  2. Teruslah fokus dan sibuk melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki diri. Lakukan saja yang terbaik dalam hidup ini. Kualitaskan diri agar kita pantas dan layak untuk bahagia dengan segala karuniaNya.

    Benar sekali, lakukan saja yang terbaik...terbaik terbaik..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang penting tetap berusaha ya mbak :)

      Hapus
  3. Nah itu yang kadang syusyah... gak ngeliat kelebihan orang lain tanpa iri hahaha..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga kadang masih iri pada orang lain, mbak Khusnul *hiks. Susahnya bisa ikhlas yah :(

      Hapus
  4. Orang Jawa bilang, sawang sinawang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, mbak Nur. Kadang apa yang terlihat tidak seperti yang kita pikirkan

      Hapus
  5. Self reminder nih. Saya kadang suka lupa dengan nikmat yang saya dapet. Apalagi menjelang Lebaran gini. Suka tiba-tiba sedih kalo sesuatu gak tercapai. Padahal kalo diitung,nikmat yang saya dapet itu banyaaaaak banget. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Moga kita segera tersadar untuk selalu bersyukur atas segala nikmatNya, ya mbak Nia. Aamin :)

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...