Sabtu, 17 Juni 2017

Belajar Bertanggungjawab pada Diri Sendiri



sumber foto : google



Mempunyai keinginan dan harapan itu sudah fitrahnya manusia. Namun terkadang kita mempunyai keinginan tetapi tidak melihat kondisi diri sendiri. Maksud saya, apabila terwujud apa yang kita harapkan, bisakah nanti kita menjaga dan bertanggungjawab akan hal tersebut?


Sedikit saya berbagi cerita kali ini.

Jadi ceritanya, di tempat tinggal saya, rutin diadakan pertemuan lingkungan atau istilahnya arisan, yang dihadiri oleh ibu-ibu yang berminat untuk bergabung dan menjadi anggota dalam perkumpulan itu. Kenapa saya sebut berminat? Karena pada kenyataannya, tidak semua ibu yang menjadi warga di lingkungan kami berminat untuk bergabung. Entahlah. Mungkin memang tidak berminat atau memang kurang suka srawung (bergaul dalam bahasa Jawa). Ya, itu hak dia kan? Kita tidak boleh memaksa.

Dalam setiap pertemuan, selain ada arisan dengan besaran yang tidak seberapa, hanya 10 ribu rupiah untuk ‘ikut’ satu ‘kocokan, per orang, juga ada tabungan dan simpan pinjam. Untuk tabungan, jumlah minimal uang yang ditabung tidak dibatasi. Ada yang menabung 5 ribu rupiah setiap bulan bahkan ada yang hingga ratusan ribu rupiah.

Dari tabungan-tabungan tersebut, lantas disepakati bersama oleh para anggota untuk bisa dipinjamkan bagi yang membutuhkan, dengan jumlah dan jangka waktu pengembalian yang telah disepakati antara peminjam dan bendahara simpan pinjam.

Tentu tidak akan menjadi suatu masalah bila proses simpan dan pinjam ini berjalan dengan lancar. Namun pada kenyataanya, tidak seperti itu. Terjadi beberapa permasalahan dalam hal ini. Misalnya, ada saja anggota yang sedikit ‘nakal’ dengan tidak mengembalikan pinjaman pada waktunya. Ada juga yang belum melunasi tetapi memaksa untuk menambah pinjaman.

Permasalahannya adalah, ketika uang yang disimpan oleh anggota yang lain dan seharusnya diterimakan menjelang lebaran, belum bisa dibagi karena beberapa anggota yang meminjam, belum menunaikan kewajiban untuk mengembalikan. Tentu hal ini menimbulkan keresahan bagi anggota yang lain, mengingat saat menjelang lebaran, tentu banyak yang ingin membelanjakan uang tabungan untuk berbagai keperluan. Sementara anggota yang meminjam, selalu saja mengelak dan seolah ingin lepas dari kewajibannya untuk melunasi pinjaman. Hal yang menjengkelkan, bukan?

Nah, disinilah letak sebuah tanggungjawab. Ketika memutuskan untuk meminjam, tentu anggota memahami bahwa ada kewajiban untuk mengembalikan, sebab uang yang dipinjam milik anggota-anggota yang lain.  Meminjam berarti berani bertanggungjawab, bisa menjaga amanah dan mengetahui hak anggota yang lain dan tentu harus bisa menunaikan kewajiban untuk mengembalikan.

Namun hal ini seringkali tidak disadari oleh anggota yang meminjam. Bahkan kerap terjadi, melakukan pinjaman dengan jumlah nominal jauh lebih besar dari jumlah uang yang ditabungnya. Selain itu, ada sikap kurang menyadari kemampuan diri, dengan kata lain kemampuan finansial, apakah sanggup memgembalikan pinjaman tepat waktu atau tidak. Tidak menyadari bahwa sikap tersebut sangat merugikan banyak orang.

Lebih menyedihkan lagi apabila melakukan pinjaman hanya untuk menuruti ego. Misalnya, hanya untuk membeli telepon pintar keluaran terbaru. Padahal benda itu bukan kebutuhan primer. Lain halnya bila untuk kebutuhan pokok atau untuk kebutuhan anak sekolah. Begitulah yang kerap terjadi. Seringkali memaksakan diri dan tidak bisa mengukur batas kemampuan, lantas abai akan tanggungjawab.

Hidup bermasyarakat, tentu harus bisa menghormati norma-norma yang telah berlaku di dalamnya, tak terkecuali hal yang menyangkut kepentingan banyak orang. Menunaikan kewajiban sebagai anggota masyarakat merupakan salah satu cara untuk belajar bertanggungjawab pada diri sendiri.

Semoga kita terhindar dari sifat-sifat yang merugikan orang lain dan bisa menjadi insan yang berguna. Aamiin.



Nova DW
Nganjuk, 17 Juni 2017


#PengingatDiri
#Inspirasi

6 komentar:

  1. Kalau di dasawisma tempatku, ada arisan dan simpan pinjam. batas pelunasan pinjaman adalah menjelang hari raya. Hukumnya wajib. Bendaharanya rajin menagih, mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang ditagih masih ngelak, mbak Nur. Bendahara juga rajin nagih kok :) semoga yang ditagih segera menyadari kewajibannya :)

      Hapus
    2. nah iya... susah ya mba kalau tak bisa mengendalikan antara need dan want. Apalagi sekarang semua serba kelihatah mdah. Setuju semoga makin banyak orang yang bertanggung jawab pada diri dan lingkungan dan org2 sekitar ya..

      Hapus
    3. Itulah mbak Ira. Terkadang kita memang tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan :)

      Hapus
  2. iya mbak saya sepakat banget
    orang sekarang mudah sekali berhutang dan mudah melupakan kewajibannya
    :(

    BalasHapus
  3. Wah, bikin kesel banget tuh orang semacam tuh. Tapi memang sering banget terjadi, suruh bayar utang, nanti nanti dan nanti

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...