Kamis, 04 Mei 2017

Selalu Ada Jalan untuk Melakukan Kebaikan






Miris sekali melihat tayangan berita di televisi maupun membaca di portal akun media sosial, tentang sikap para pelajar saat kelulusan SMA. Mereka menyikapi kelulusan dengan melakukan hal-hal yang tidak seharusnya. Perbuatan yang tidak mencerminkan sikap pelajar yang baik. Kejadian yang terus berulang setiap tahun dan sungguh memprihatinkan.
.


Kelulusan SMA seolah menjadi ajang untuk hura-hura dan bersenang-senang secara berlebihan. Banyak yang beranggapan bahwa lulus SMA adalah selesai menempuh pendidikan formal, tidak perlu lagi mencari ilmu. Lulus SMA berarti lulus juga (baca : berhenti) jenjang pendidikan yang harus ditempuh. Tentu saja ini adalah anggapan yang salah besar. .
.

Namun pendapat bahwa hal itu tidak benar, tentu ditepis sebagian dari mereka yang menyikapi dengan melakukan perbuatan yang tidak mencerminkan sikap seorang pelajar. Beberapa diantara mereka melakukan konvoi beramai-ramai tanpa mengindahkan keselamatan. Seolah bangga ketika bisa melakukan aksi tersebut tanpa mengenakan helm sambil meneriakkan yel-yel serta membunyikan klakson berkali-kali, dengan suara yang memekakkan telinga. Bahkan ada juga yang berboncengan melebihi batas ketentuan berkendara. Padahal banyak diantara mereka yang tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) atau tidak membawa kelengkapan kendaraan (STNK).
.

Belum lagi yang beranggapan bahwa kelulusan belum bisa dirayakan apabila seragam SMA tidak ada coretannya, sebab setelah lulus SMA, menganggap bahwa baju itu sudah tidak digunakan lagi. Akhirnya banyak diantara para pelajar tersebut menunjukkan kebanggaan ketika seragamnya penuh dengan coretan dari teman-temannya, dengan menggunakan spidol, ataupun cat warna. Kebanggaan semu yang hanya sesaat dan tidak ada manfaatnya.
.

Namun yang lebih memprihatinkan adalah saat para pelajar tersebut ada yang berbuat anarkis dan mengarah ke tindak kejahatan. Beberapa diantaranya membawa senjata tajam. Entah untuk gagah-gagahan atau mungkin untuk menghalau siapapun yang menghalangi aksi mereka. Dengan membawa senjata tajam, mereka ingin dianggap sebagai orang yang kuat. Merasa bahwa dengan melakukan hal ini akan timbul kebanggaan dan percaya diri berlebih.
.

Perbuatan mereka yang tidak mencerminkan sikap seorang pelajar tersebut, menandakan bahwa mereka belum menemukan  cara untuk melakukan kebaikan dan berbuat positif untuk merayakan kelulusan. Anggapan yang keliru terus tertanam dalam benak bahwa lulus SMA adalah lulus segalanya (sekolah), berhenti untuk belajar dan menempuh pendidikan. Suatu pendapat yang salah besar, bukan? Belajar sebenarnya tidak mengenal usia, waktu, tempat dan orang-orang yang mendukung proses belajar. Banyak ilmu bertebaran dimuka bumi ini, kita tinggal mengambil dan memanfaatkan sebaik mungkin.
.

Lulus SMA bukanlah lulus dari semua proses belajar. Para pelajar yang tidak bisa menggunakan kesempatan selanjutnya untuk memperoleh ilmu, sejatinya mereka tidak menyadari bahwa masih banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan di usia belia mereka. Bersedekah, berbagi kebahagiaan dengan orang lain tentu lebih baik dilakukan, misalnya dengan berbagi nasi bungkus pada yang berhak menerima. Mereka seharusnya menyadari bahwa akan selalu ada jalan untuk melakukan kebaikan.
.

Mensyukuri segala nikmatNya karena telah diberi kesempatan untuk menyelesaikan sekolah di jenjang SMA, tidak harus dengan perbuatan hura-hura yang tidak bermanfaat. Perayaan dengan melakukan hal-hal yang tidak semestinya tentu tidak perlu dilakukan. Mereka seharusnya menyadari, bahwa tidak semua orang mempunyai kesempatan yang sama dalam hal pendidikan. Masih banyak saudara kita yang kurang beruntung memperoleh pendidikan hingga jenjang SMA.  Diusia remaja, seharusnya lebih banyak melakukan kegiatan postif, yang lebih bermanfaat dan tentu untuk kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain.



Nova DW
Nganjuk, 4 Mei 2017





8 komentar:

  1. Saya pas lulus nggak corat-coret. Cuma ke pantai sama teman-teman dan nongkrong. Bercerita akan kuliah dimana dan apa rencana ke depan. Itu saja...

    Semoga itu hal yang baik... hehe

    Tulisan yang bagus, mbak. Semoga kita semua senantiasa bisa menjaga semangat di dalam dada untuk tetap menulis...

    Bang Syaiha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga tidak corat-coret baju, Bang Syaiha. Eman-eman bajunya hehe.

      Terimakasih untuk supportnya.

      Salam

      Hapus
  2. Tulisannya inspiratif banget Mb..

    BalasHapus
  3. Fenomena yg terus berulang tiap tahun. Perlu ada tindakan agar anak2 kedepan mampu bertindak yg lebih bijak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perlu kepedulian pihak terkait yaitu orangtua, keluarga, pihak sekolah juga masyarakat agar para pelajar ini memiliki wadah untuk mengekspresikan diri melalui kegiatan positif ��

      Hapus
  4. Hal seperti ini tampaknya sudah menjadi tradisi ya mbak, semoga kedepannya generasi penerus nggak bersikap anarkis lagi. Ini harusnya jadi PR buat orangtua dan dewan guru agar dapat mengarahkan anak2 ke arah yang lebih baik dan manfaat.

    BalasHapus
  5. Aamiin ... semoga harapan ini bisa terkabul dan tercipta generasi yang bermental positif :)

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...