Sabtu, 13 Mei 2017

Ketika Harus Kehilangan Harapan





“Hei, dengarkan berita baru ini. Si Fulan kalah dalam pilihan kepala desa. Padahal dia sudah habis biaya banyak, lho.”

“Sampai berapa duit, tuh?”

“Ada kalau 300 juta!”

“Hah? Duit segitu banyak hanya untuk mencalonkan kepala desa? Kalau aku ya lebih baik buat daftar haji plus sekeluarga saja. Kalau ada sisa, buat renovasi rumah. Sayang banget, kan, sudah habis duit banyak, tapi nggak jadi. Lagipula, si Fulan kenapa juga pingin jadi kepala desa? Bukannya selama ini dia sudah sukses jadi pedagang?”

“Yaa … mungkin dia ingin jadi terkenal, punya wibawa. Kan jabatan keren, tuh. Kepala Desa, gitu lho! Tapi …”

“Tapi apa?”


“Dengar-dengar, duit sebanyak itu didapat dari hasil penjualan sawah orangtua, juga hutang ke saudara-saudaranya. Kasihan ya. Sudah kalah, masih juga harus menanggung hutang sebanyak itu.”

“Itulah, kalau berharap terlalu tinggi. Tidak mengukur kemampuan. Rezeki sudah ada yang ngatur. Dia sudah jadi pedagang sukses, masih merasa kurang juga. Itu akibatnya.”


Mungkin kita sering mendengar dialog seperti di atas. Tentang seseorang yang sudah terlanjur menghabiskan banyak biaya untuk ambisi menjadi seorang kepala desa. Padahal biaya tersebut bukan dari kantong sendiri, melainkan dari hasil penjualan warisan orangtua dan hasil hutang sana-sini. Ketika harapan tak bisa menjadi kenyataan, mimpi tinggallah mimpi. Tinggallah otak yang harus berpikir keras untuk bisa melunasi hitang-hutang itu. Sungguh ironis.

Terkadang kita memang kurang mensyukuri nikmatNya yang telah diberikan pada kita. Semua terasa kurang. Mempunyai angan terlalu tinggi, juga inginnya lebih saja. Namun seringkali lupa akan kemampuan diri. Terlebih lagi suka memaksakan kehendak tanpa mempertimbangkan akibatnya. Ketika jatuh dan gagal, tidak siap menghadapi kenyataan.

Tidakkah kita sadari, bahwa Allah sebenarnya telah memberi peringatan, agar kita menginfakkan sebagian harta yang kita miliki kepada yang berhak menerima? Bukan untuk menuruti nafsu duniawi?

“Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah : 195)

Semoga ini bisa menjadi pengingat bagi kita semua. Aamiin.


Nova DW
Nganjuk, 13 Mei 2017


#PengingatDiri
#Tantangan ODOP








22 komentar:

  1. Terimakasih sudah di ingatkan kak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekaligus reminder buatku, mas Ian

      Hapus
  2. Banyak orang yang memandang harta, tahta dan wanita itu penting untuk prestise...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, mbak Elin. Semoga kita tidak termasuk di dalamnya. Aamiin

      Hapus
  3. Mba NOva, terima kasih sudah mengingatkanku di pagi hari ini. InsyaAllah rejeki sudah ada yang atur ya. Kita hanya bisa berusaha :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biarlah Allah yang menilai usaha kita, ya mbak Ida :)

      Hapus
  4. Semoga kita termasuk orang2 yg senantiasa bersyukur dan yakin kalau sedekah itu melipatgandakan harta ya mba, biar terus termotivasi untuk bersedekah,aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Sayapun berharap begitu, mbak Shine. Menjadi insan yang bermanfaat bagi orang lain :)

      Hapus
  5. Manusia kan gitu, selalu merasa kurang. Hihihi.
    Punya satu pengen dua, punya yg sesuai kebutuhan, masih beli yg lain cuma karena ingin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah mbak. Padahal belum tentu yang diinginkan itu juga yang kita butuhkan lho hehe

      Hapus
  6. Reminder buatku juga, mb. Kadang masih pengin belanja belinji ngikutin hawa nafsu padahal mgkn ga butuh banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu naluri kok mbak Ila. Tapi memang harus bisa menekan hawa nafsu kan? Hehe

      Hapus
  7. padahal cukup lebih mendekat lg kepada Allah, Allahlah yang akan mengangkat derajat kita di mata manusia :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, mbak Ninda. Mendekatkan diri padaNya maka hal-hal baik termasuk derajat yang terangkat adalah salah satu cara menjadi insan yang mulia :)

      Hapus
  8. Yang mirisnya kita tahu, ketika mengikuti hawa nafsu akan bahaya. Bahaya lahir maupun batin. Bahkan dalam tingkatan tertentu bisa terjerumus ke dalam syirik akbar, krn memperbudakkan dirinya dan menyembahnya. Naudzubillah mindzalik..

    Solusi untuk tidak membiarkan hawa nafsu tak berarah sesungguhnya telah Allah SWT perintahkan melalui petunjuk Agama Islam dan menggunakan akal sehat agar selamat dari bahaya tsb.

    Jadi, bila seseorang sampai terjerumus, maka dapat dipastikan salah satu atau kedua penentu selamat itu tidak digunakan.

    Ya Allah, semoga Engkau senantiasa memudahkan kami menuju ridhoMu, terutama dalam mengelola hawa nafsu ini. Aamiin ya Robbal alamiin..

    Makasih mbak Nova atas reminder mu kali ini.

    Salam tetap semangat untuk keberkahan ya mbak... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih untuk apresiasinya, Pak Dedi. Semoga kita selalu dalam keadaan saling mengingatkan dalam kebaikan :)

      Hapus
  9. Mau jadi pemimpin daerah modalnya besar. Miris.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan hasilnya belum tentu sesuai harapan ya, Mbak Ardiba :(

      Hapus
  10. Kejujuran buat raih sesuatu itu yang utamanya, kalau kek gini rasaya mmm klau aku pribadi mending ya dananya buat yang lain :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, mbak Herva. Jabatan itu juga amanah (seharusnya), bukan ajang jual beli :(

      Hapus
  11. Sifat manusia emang nggak penah puas dgn keadaan ny

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kita termasuk golongan yang pandai bersyukur, mas Ahmad :)

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...