Jumat, 05 Mei 2017

Jiwa yang Mulia, Tak Mau Jatuh dalam Kehinaan



sumber foto : pixabay



“Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan, dan tidak ada lagi syafaat. Orang-orang kafir itulah orang yang zalim.”  (Al Baqarah : 254)
.


Ada sebuah kisah tentang seorang janda tua, yang kesehariannya hanya berdagang kue keliling kampung dengan hasil tidak seberapa. Dia hidup sendirian, tanpa sanak keluarga. Dia tinggal di emperan rumah orang lain atas kebaikan sang tuan rumah.  Suatu hari, dia mengundang beberapa orang untuk selamatan di ‘rumahnya’.
.

Hari itu, selepas salat Jumat, dia ingin mengadakan syukuran. Diundanglah beberapa orang, termasuk seorang ustaz, yang datang tepat pada waktunya. Kemudian datang pula ketua RT, imam masjid dan seorang marbot. Lantas disusul kehadiran tuan rumah,  yang selama beberapa tahun memberikan emperan rumahnya untuk ditempati nenek tua itu.
.

Setelah setengah jam berlalu, namun sepertinya tidak ada lagi undangan yang datang, lantas sang ustaz menanyakan pada nenek itu, “ Masih ada yang ditunggu, Nek?” Nenek itu menggeleng, “Tidak ada, Ustaz. Yang saya undang hanya 5 orang, termasuk Ustaz. Maklum, tempatnya sempit.”
.

Sang ustaz sangat tersentuh. Ustaz beranggapan bahwa ‘orang kecil’ seperti nenek ini masih mau mengadakan syukuran kepada Allah dalam ketidakberdayaan, sementara banyak orang yang mempunyai rumah besar dan mewah tidak pernah mengajak tetangganya untuk selamatan di rumahnya. Ustaz bertanya maksud diadakan syukuran tersebut. Tahukah jawaban sang nenek?
.

“Begini ustaz, saya bersyukur kepada Allah karena sejak bulan depan saya bisa mengontrak kamar ini, dengan harga sangat murah. Tadinya tuan rumah menolak, tidak mau menerima uang saya.  Tapi akhirnya tuan rumah tidak keberatan, sehingga utang budi saya tidak terlalu berat.” Subhanallah.
.

Alangkah mulianya hati nenek ini. Dia yang sebetulnya masih perlu disedekahi, tapi berusaha untuk bersedekah, dan tidak mau membebani orang lain tanpa imbalan.  Inilah manusia yang sesungguhnya. Manusia yang memiliki rasa tanggungjawab pada hidupnya, harga diri dan kemuliaan. Meski kondisi hidup dalam keadaan sulit, namun tetap berusaha merasakan nikmat dari hasil keringat sendiri dan tak lupa untuk bersedekah.
.

Orang yang mulia pasti tak mau jatuh dalam kehinaan. Tidak mau hidup meminta-minta dan menjadi beban orang lain.  Rasulullah bersabda :


Nova DW
Nganjuk, 5 Mei 2017


#PengingatDiri
#KisahInspirasi

12 komentar:

  1. Balasan
    1. mohonijin follow nomer punggung 26 yah

      Hapus
  2. Balasan
    1. Aamiin... Terimakasih sudah mampir ��

      Hapus
  3. aaaamiiiin.....semoga kita semua yang baca artikel ini mendapatkan hidayah-Nya dan ngga masuk kedalam kehinaan...aaamiiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin :)

      Terimakasih sudah mampir

      Hapus
  4. Semoga kita menjadi bagian orang-orang dengan jiwa mulia. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.
      Terimakasih apresiasinya ��

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...