Sabtu, 04 Maret 2017

Rumah Pensiun









Ada sebuah kisah tentang seorang pekerja (tukang bangunan) yang akan mengajukan pensiun dini karena ingin lebih banyak meluangkan waktu untuk keluarga. Sang bos yang seorang pemborong menyetujui permintaan tersebut, dengan pertimbangan si pekerja sudah cukup lama ikut dengannya dan reputasi kerja cukup baik.
.



Namun sang bos mengajukan persyaratan bahwa sebelum si tukang pensiun, dia harus membangun satu rumah terlebih dahulu. Si tukang bangunan menyanggupi permintaan tersebut.
.


Karena merasa bahwa permintaan tersebut adalah target kejar tayang, maka dia merasa harus segera menyelesaikan rumah tersebut. Akibatnya, dia mengerjakan dengan asal-asalan yang penting segera jadi.
.


Akhirnya rumah itu sebagai bangunan terkahir yang dikerjakan selama menjadi tukang bangunan jadi juga. Diserahkannya kunci rumah pada sang bos yaitu si pemborong tadi. Apa yang terjadi?
.


Sang bos ternyata mengembalikan kunci rumah dan mengatakan bahwa rumah itu diberikan pada si tukang bangunan, sebagai hadiah dan penghargaan karena telah bekerja cukup lama padanya. Betapa terkejutnya si tukang bangunan. Juga rasa sesal menghinggap karena rumah yang akhirnya hendak ditempati dikerjakan dengan asal-asalan.
.


Dari cerita tersebut ada sebuah hikmah . Ibadah yang kita kerjakan selama ini, ‘ibarat’  rumah yang sedang kita bangun untuk kita nikmati nanti setelah ‘pensiun’ dari kehidupan di dunia. Bisa dibayangkan, bila kita membangun rumah itu dengan asal-asalan, maka pastilah hanya penyesalan  yang  ada pada diri. Segala sesuatu yang tidak serius dikerjakan dan asal-asalan, maka hasilnya pasti tidak bagus. Tidak sesuai harapan.
.


Hidup ini hanya sekali. Sudah itu mati. Akankah kita mengisinya dengan hal-hal tak berarti? Akankah siap dengan penyesalan diri? Siapkah sakit hati ketika semua sudah terlanjur terjadi? Ingatlah bahwa saat panggilan nanti tidak akan menunggu pagi.
.


Jadi, marilah kita bangun rumah untuk pensiun kita di dunia ini dengan sebaik-baiknya. Dengan beribadah yang sungguh-sungguh. Yakinlah bahwa rumah yang sesungguhnya telah menanti kita di surga.
.


Semoga yang sedikit ini memberi manfaat.


*tulisan ini terinspirasi dari cerita seorang teman




Nova DW
Kota Bayu,  4 Maret 2017





#SelfReminder
#Inspirasi


5 komentar:

  1. Balasan
    1. Semoga kita bisa mempersiapkan 'rumah' itu sebaik-sebaiknya dan sungguh-sungguh ya, Mbak Dewi :)

      Hapus
  2. Sama-sama, mbak Wid :)
    Pengingat diriku terutama

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...