Minggu, 19 Maret 2017

Obat Memang Pahit, Namun Bisa Membantu Menyembuhkan







.
Suatu ketika, ada suatu penyakit mendera tubuh kita. Kita harus menelan beberapa butir pil pahit untuk membantu agar penyakit tersebut enyah dari tubuh, sehingga kondisi kesehatan bisa kembali pulih seperti sedia kala, dan aktivitas sehari-hari kembali berjalan dengan lancar.
.


Hidup ini terkadang ibarat harus menelan ‘pil pahit’. Mau tidak mau harus ‘ditelan’.  Jangan buru-buru ‘dimuntahkan’, sebab pil pahit itu bisa jadi ‘obat’ yang menyembuhkan. Mungkin pernah dalam hidup kita mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan. Anggap saja itu adalah ‘pil pahit’. Terkadang hinaan, cacian, makian sempat ‘mampir’ dalam hidup, itu adalah hal yang wajar. Tidak selamanya hidup ini selalu yang ‘enak-enak’ saja (menurut kita).
.

Hal inipun pernah saya alami. Kejadian-kejadian tidak menyenangkan yang pernah mampir, sempat membuat diri tidak percaya diri, menyalahkan keadaan bahkan merasa sebagai orang paling tidak beruntung di dunia. Pernah mengalami masa penuh olokan dari teman-teman sekolah akan kondisi tubuh dengan berat badan berlebih (bahkan ada beberapa teman yang memberi julukan yang membuat sakit hati, bagi anak usia sekolah dasar saat itu), juga masa ketika belum menikah di usia yang sudah melewati seperempat abad, dan mendapat omongan yang kurang enak didengar telinga dari orang-orang terdekat tentang diri pribadi, membuat saya merasa sebagai orang paling malang. Hidup seolah tidak berpihak pada saya.
.

Pengalaman-pengalaman ‘pahit’ juga pernah dialami dalam menulis. Ketika masa awal-awal menulis, mendapat kritik dan saran yang ‘keras’ (sebagai penulis pemula pasti pernah merasakan hal seperti ini), membuat diri hampir menyerah dan tidak melanjutkan menulis. Sempat merenung, apakah dengan berhenti menulis saya akan lebih bahagia? Bukankah diri yakin bahwa menulis adalah salah satu cara untuk meraih kebahagiaan?
.

Kembali bertanya pada diri, apakah saya sudah siap meninggalkan dunia menulis? Siap mengubur cita-cita menjadi seorang penulis? Bukankah itu sama artinya ‘memuntahkan’ pil pahit dan tidak ingin ada ‘kesembuhan’? Bukankah itu artinya menyerah pada keadaan dan membiarkan ‘penyakit’   itu terus ada dalam tubuh? Bukankah itu sama saja saya tak ingin menjadi manusia yang lebih baik dan berguna, setidaknya untuk diri sendiri?
.

Kembali saya merenung. Kekurangan-kekurangan yang ada pada diri memang akan selalu ada. Bila tak ingin menjadi insan yang lebih baik dan memanfaatkan waktu di dunia sebaik mungkin, sama artinya bahwa diri ini termasuk golongan orang-orang yang merugi. Menjalani kehidupan dengan penuh sia-sia. Sungguh, saya tak ingin hidup berlarut dalam penyesalan.
.

Saya harus meyakinkan diri bahwa perubahan harus dilakukan! Dengan cara, memperbaiki cara pandang akan segala sesuatu, mencoba menjalin komunikasi yang baik dengan orang lain, tidak berhenti belajar dan tidak takut dianggap jelek, tetap berpikir positif, lebih menerima dan ikhlas menerima kekurangan diri, harus lebih sabar menjalani kehidupan yang penuh warna, dan tentu saja mensyukuri segala anugerah dan karunia yang telah diberikan Tuhan pada saya.
.

Setiap ‘pil pahit’ kehidupan memang harus kita telan, karena untuk membantu ‘menyembuhkan’ penyakit yang ada dalam tubuh. Setiap peristiwa tidak menyenangkan dalam hidup sebenarnya untuk memberi kesempatan pada kita memperbaiki diri. Semoga disisa usia, saya bisa memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya untuk terus berusaha menjadi manusia yang lebih baik dan bisa memberi manfaat bagi orang lain. Aamiin.
.

Semoga yang sedikit ini memberi manfaat.



Nova DW
Kota Bayu, 19 Maret 2017


#PengingatDiri
#Inspirasi
#Motivasi

11 komentar:

  1. pagi mbak, obat itu mayoritas pahit, tapi hasilnya insaa allah dengan izinnya kita akan sembuh. begitu juga setiap awal usaha dimanapun kita kerjakan.
    selalu semangat untuk menulis dan menjadi penulis profesionalnya, mbak nova

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mas Fajar atas apresiasi dan doa untuk saya. Aamiin 😊

      Hapus
  2. justru yang pait pait itu sebenarnya yg bikin sehat,klo saya pribadi biasanya minum jamu kak Dian..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah ... Keren. Jarang orang muda mau minum jamu, lho 👍😊

      Hapus
  3. Inspiratif mbak artikel ny..
    Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mas Hanif. Semoga bermanfaat 😊

      Hapus
  4. Allah selalu memberikan cobaan yang sesuai kemampuan kita, ya kan :)
    kadang kita lupa itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Manusia memang tempatnya lupa ya mbak Ninda

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...