Selasa, 07 Maret 2017

Kasih Sayang







Ingatkah ketika masa kanak-kanak, saat hujan lebat, kita bergembira ria bermain air, tertawa menjerit bersama teman-teman. Namun tak lama, Ibu datang menyuruh pulang, tapi kita tak menghiraukan Ibu hingga beliaupun murka. Diri bertanya, kenapa Ibu menghalangi kesenangan dan kegembiraan?
.



Kenangan itu membasahi ingatan. Lantas diripun tersenyum saat pemahaman datang. Ibu melarang karena kasihnya. Ibu murka karena sayang. Dia tidak membenci. Beliau tahu apa yang anak-anak tidak tahu. Saat kita masih usia kanak-kanak, yang diinginkan adalah apa yang disuka. Larangan Ibu adalah ujian, sebagai bentuk penjagaannya pada kita. Meski terkadang terasa menyedihkan.
.


Demikian pula dengan ujian-ujian Allah. Kadang begitu perih, pahit dan menyakitkan. Kita inginkan kesuksesan, Allah berikan kegagalan. Kita inginkan pertemuan, Allah takdirkan perpisahan. Manis yang kita impikan, pahit yang menjadi kenyataan. Hatipun resah bertanya, kenapa Allah memberlakukan demikian? Jawabannya tak lain adalah karena Allah tahu yang terbaik untuk kita.
.


Ujian Allah seumpama ‘larangan Ibu’. Ibu murka lantaran kasih sayangnya. Allah pun berkasih dengan kita, bahkan kasih sayangnya jauh melebihi kasih seorang Ibu pada anaknya.
.


Namun sayang, kita seringkali ‘buta’. Tak mampu melihat dibalik pedih dan sakit bahwa ujian dariNya adalah bentuk kasih sayangNya. Kita tak mampu tunduk dan pasrah pada ketentuanNya.
.


Seberat apapun ujian yang Allah timpakan, pasti ada kasih sayang yang mendasari. Hanya kematangan akal yang mampu berpikir dan hati tenang penuh dzikir yang dapat merasai hikmah dibaik setiap ujian.
.


Allah telah berfirman :
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal ini tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 216)
.


Semoga yang sedikit ini memberi manfaat.




Nova DW
Kota Angin, 7 Maret 2017



≠SelfReminder
≠Inspirasi

6 komentar:

  1. Balasan
    1. Mungkin karena belum bisa memaknai arti sebenarnya, mbak Wid.

      Sering manusia tak mampu melihat bahwa ujian dariNya adalah bentuk kasihNya. Manusia lebih suka menyalahkan daripada mengevaluasi. Termasuk aku. Hiks :(

      Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita

      Hapus
  2. Aku terharu, sekaligus sedih. :'D

    BalasHapus
  3. Semoga bisa jadi pengingat diri ya, Mbak Anisa.

    Terimakasih sudah mampir :)

    BalasHapus
  4. Tapi kebanyakan manusia tidak peka akan maksud Tuhan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, mbak Anik. Manusia cenderung membenarkan pemikirannya sendiri

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...