Kamis, 02 Februari 2017

Resensi Novel Karti Kledek Ngrajek







dok. pribadi






Judul                      :       Karti Kledek Ngrajek
Penulis                    :       SW. Warsito
Editor                      :       Prisca Primasari
Penyelaras Akhir      :       Diky K. Dixigraf
Desain Sampul         :       Santana Dixigraf
Penerbit                   :       JARING PENA (Lini Penerbitan JP Books) Surabaya
Tahun Terbit            :       2009
Tebal                       :       215 halaman
ISBN                       :       978=979-1490-53-5







Kledek adalah salah satu profesi penari yang ada di kalangan masyarakat Jawa. Seorang kledek biasanya melakukan aksi panggung saat ada tayuban. Tayuban adalah sebuah acara menari bersama antara pria dan wanita yang diiringi gamelan dan gending-gending Jawa, khususnya gending-gending tayub.



Menjadi seorang kledek harus selalu bisa menjaga penampilan agar tetap menarik. Selain wajah, dia harus bisa menjaga body, gaya, pakaian dan kepandaian bergaul. Selain itu juga harus bisa menjaga diri agar tidak tampak kampungan, tidak dianggap perempuan murahan dan sejumlah patokan lain yang harus dilakukan.


Kledek harus pandai menyesuaikan diri, menarik perhatian orang lain namun tetap santun. Juga dilengkapi ilmu pengasihan yang mengakibatkan orang lain penuh kasih padanya, bahkan terhipnotis untuk tertarik padanya, baik pria maupun wanita.


Selain itu, seorang kledek harus mempunyai daya tarik dan kelebihan tersendiri, daya pikat yang kuat sehingga para lelaki mabuk kepayang dibuatnya. Ia mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki ibu rumah tangga secara umum, terlebih bagi para perempuan desa pada umumnya.


Menjadi kledek merupakan impian bagi sebagian gadis di Desa Ngrajek. Mereka terpengaruh oelh lingkungan yang ada. Di desa itu banyak sekali  kledek yang hidup serba berkecukupan. Rumah bagus, pakaian bagus, punya kendaraan bermotor dan sering bepergian untuk bersenang-senang. Impian yang juga menghinggapi seorang gadis bernama Karti.


Karti kecil berdiri di depan cermin, memperhatikan wajahnya yang cantik, rambut ikal panjang, lesung pipi yang manis, alis yang tebal, mata yang blalak-blalak dan tubuh indah nan ramping. Dalam hati ia berujar bahwa kelak saat dewasa ingin menjadi seorang kledek yang mengalahkan para kledek, termasuk Lik Sariyem yang kata orang sangat cantik, terkenal dan laris mendapat job dimana-mana. Karti bercita-cita mengalahkan Lik Sariyem dalam segala hal. Cantiknya, larisnya, maupun kekayaannya. Cita-cita yang menjadi rahasia besar dalam kehidupan Karti.


Karti tidak melanjutkan sekolah selepas SD. Ada dua alasan yang menjadi penyebab. Pertama dan utama adalah karena ia ingin segera menjadi kledek. Kedua adalah karena ketiadaan biaya dari orangtuanya. Karti menjelaskan pada kedua orangtuanya bahwa ia ingin menjadi kledek yang sukses, terkenal dan kaya. Gambaran akan kesuksesan Karti yang berimbas pada kehidupan mereka, telah mengabaikan nurani. Jurang kemiskinan selama berpuluh tahun dan mentas dari keadaan itu membuat mereka begitu mudahnya menyetujui keputusan Karti untuk menjadi seorang kledek dan berguru pada Lik Sugimin, seorang penabuh kendang terkenal di desa mereka.


Lik Sugimin memang mengajarkan banyak hal tentang semua yang harus dilakukan seorang kledek, termasuk berbagai mantra dan ritual yang harus ditempuh serta beberapa pantangan yang tak boleh dilakukan. Pasrah dan patuh sepenuhnya pada sang guru pun dilakukan Karti bahkan ketika dia harus menyerahkan sepenuh diri dengan kehilangan kegadisannya sebagai syarat agar bisa menjadi kledek terkenal, laris dan kaya raya. Bayangan agar hidup dan keluarganya lepas dari jerat kemiskinan telah membuat Karti hanya menuruti tipu muslihat sang guru, meskipun hatinya hancur. Namun dalam lubuk hatinya, Karti meyakini bahwa Lik Sugimin akan menerima karma atas perbuatannya.


Berkat kegigihannya belajar untuk menjadi kledek yang sukses, Karti berhasil mewujudkan cita-cita. Hidupnya serba berkecukupan, dia menjadi terkenal juga kaya raya. Namun, ternyata, itu semua masih belum cukup untuk menjamin hidupnya bahagia. Lantas, apa yang dilakukan Karti untuk bisa meraih kebahagiaannya?


Novel dengan judul Karti Kledek Ngrajek yang ditulis berdasar kisah nyata namun tentu saja nama-nama tokoh hanya rekaan belaka ini berhasil menguak kehidupan seorang kledek. Gaya penulisan yang cenderung bercerita dan minimnya penggunaan dialog memang terkesan membosankan.


Namun novel ini mampu memberikan wawasan baru bagi masyarakat awam yang belum tahu tentang kehidupan seorang kledek, serta memberi wacana agar kita turut memelihara dan melestarikan budaya bangsa.




≠OneDayOnePost
≠TantanganResensiNovel





6 komentar:

  1. Masya Allah...buat yg rajin nulis, kelihatan yh hasilnya mba...ngaliirr ajah. Enak penyampaiannya, pas diksinya :)

    Top mba Nova!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mbak Hikmah. Masih belajaran ini hehe

      Hapus
  2. Dulu, ketika kecil, saya dan teman-teman suka ikut 'MBESO' (menari) saat ada Tayuban. Tetapi dengan cara sembunyi-sembunyi di tengah kebun yang tak jauh dari orang yang punya hajatan (yang nanggap Tayub). Anak-anak memang dilarang untuk ikut masuk ke 'KALANGAN' (arena Tayub).

    Kini, ketika sudah besar, justru tayub menjadi pentas yang nyaris punah.

    Miris :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah satu agenda untuk mengangkat budaya yang ada di Nganjuk sekaligus melestarikannya adalah diadakan Wisuda Waranggono (Kledek). Acara ini diadakan setiap setahun sekali, juga di Desa Ngrajek. Nama kledek diganti waranggono untuk menghindari konotasi negatif.

      Mas Heru, jan sip tenan. Dari kecil sudah nguri-uri budaya :)

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...