Rabu, 18 Januari 2017

Keinginan dan Kebutuhan






“Mbak, ini bagus lho. Limited edition, pula. Sudah, ambil saja ya,” rayunya.


“Mmm … gimana ya?” ragu saya menanggapi. Otak mulai membuat sinyal-sinyal antara mengambil tas itu atau tidak. Modelnya yang sederhana dengan warna kesukaan sungguh menggoda iman . Bolak-balik saya pegang, membuka resleting dan melihat isinya. Binar mata yang hadir di sana tidak menampik ketertarikan. Sungguh embuat hati tergoda.



“Lihat deh, Mbak. Tas ini kualitasnya bagus, lho. Warnanya juga nggak bikin bosan. Terdiri dari dua tas, yang besar untuk dicangklong, yang kecil bisa dislempang. Meskipun sekarang lagi musimnya tas dalam bentuk ransel, tapi tas model begini itu bisa mengikuti mode, deh. Selalu up to date,” berapi-berapi si Mbak ini menjelaskan.


Bikin saya tambah galau, gelisah antara lanjut atau udahan #eh.


“Mmm … harganya berapa, Mbak?” tanya saya penasaran sekaligus dag dig dug. Terbersit dalam benak bahwa harga ta situ pasti mahal.


“Ah, nggak mahal kok, Mbak. Terjangkau  banget buat Mbak. Cuma sekian (sambil dia menyebut sejumlah angka).  Jangan khawatir, Mbak, bisa dicicil, kok. Jadi diambil ya, Mbak. Tas ini cocok buat Mbak, deh,” kembali dia melontarkan jurus rayuan mautnya.


Mengetahui harga tas dengan sejumlah angka meskipun si Mbak tadi bilang bisa dicicil, kening saya berkerut. Harga yang tidak murah tentunya. Otak kembali berputar mempertimbangkan antara lanjut atau udahan, eh, antara membeli atau tidak.


Setelah beberapa saat berpikir, dan nggak enak juga si Mbak-nya menunggu lama, sayapun akhirnya mengambil keputusan. Antara keinginan dan kebutuhan harus dipilih salah satu. Meskipun tergiur, namun logika ternyata lebih bisa memberontak dan menjadi pemenangnya.


“Mbak, maaf  ya. Sepertinya lain kali saja saya mengambil tasnya. Bagus banget lho sebenarnya modelnya. Tapi, terus terang saja, saya itu kalau ke kantor memang jarang membawa tas. Yang penting, dompet dan handphone tidak ketinggalan itu sudah cukup. Sekali lagi saya minta maaf. Nggak apa-apa, ya?” saya mencoba santun mengajukan permintaan maaf atas penolakan tawarannya.


“Ya, tidak apa-apa sih, Mbak. Lain kali ambil tas di saya, ya? Eh, atau Mbak mau ambil lainnya? Ini ada gamis, bagus-bagus lho. Ada blus juga. Model terkini. Nggak mahal kok, tetap bisa dicicil,” kembali semangatnya menyala menyodorkan beberapa baju pada saya.


Alamak.


Ya, seperti itulah. Mungkin beberapa diantara kalian ada pula yang mengalami hal seperti saya. Ketika menghadapi suatu kejadian, yang membuat kita berada di persimpangan jalan (eh), membuat otak dipaksa berpikir antara keinginan dan kebutuhan.


Memang sih, semua kembali pada diri masing-masing. Memilih untuk tetap memenuhi keinginan meskipun tidak sesuai kebutuhan, atau memilih untuk menahan hasrat dan godaan atas dasar pertimbangan masih banyak hal lain yang lebih penting sesuai kebutuhan.


Tapi, sssttt … tas yang tadi memang saya idamkan lho. Hahahaha


Semoga yang sedikit ini memberi manfaat.
                                            




≠SelfReminder
≠Inspirasi


4 komentar:

  1. Balasan
    1. Betul bahwa apa yang kita inginkan belum tentu kita butuhkan, bukan begitu Mbak Asni? :)

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...