Rabu, 07 Desember 2016

Cerbung Bunga Kemuning Bagian 1






Pagi masih menampakkan remang, saat kulipat mukena dan sajadah setelah menunaikan kewajiban padaNya.

Aku beranjak dan melangkah ke ruang tamu yang letaknya tak jauh dari kamarku. Sebuah ruangan tak seberapa luas, bercat putih dengan satu set kursi sudut dari kayu jati berwarna coklat.


Hanya ada satu hiasan dinding berupa ukiran jepara bertuliskan asmaul husna. Pintu kupu tarung sebagai pintu utama yang diapit jendela kecil memanjang disamping kanan kirinya, serta korden coklat susu dengan vitrase putih transparan bermotif bunga tulip keemasan.

Kuraba gerendel pintu masih terkunci rapat. Berarti belum ada yang membuka, mungkin Bapak dan Ibu masih wiridan (1), pikirku. Gegas kuputar anak kunci.

Aku ingin segera menikmati wangi semerbak bunga kemuning di pelataran. Sebuah pohon kemuning setinggi kurang lebih 1,5 meter dengan kanopi melebar, memberi kesempatan bunga-bunga putih bertebaran. Pohon itu berada di halaman depan rumah kami, tepatnya di tepi pagar halaman.

Perlahan pintu utama terbuka. Dan …

Masya Alloh, pekikku dalam hati! Reflek kedua tangan ini menutup mulut.

Terlihat sosok yang sangat kukenal tengah tertidur sambil bersandar di tembok, berselebahan dengan pintu yang baru saja kubuka. Kedua tangannya bersedekap dengan kaki berselonjor.

Hatiku penuh tanya. Kenapa dia bisa tertidur di sini? Hampir semalaman? Kenapa dia tidak mengetuk pintu agar bisa masuk ke rumah? Bukankah dia bisa mengetuk jendela kamarku yang berada paling depan diantara kamar-kamar di rumah ini? Tapi … semalam aku tidak mendengar deru motornya.

Meskipun banyak tanya berkelebat dalam benak, kucoba merunduk dan mendekatinya. Lelah seolah menghinggapi wajah kakak sulung, sekaligus anak laki-laki satu-satunya Bapak dan Ibu.

Celana jeans dan jaket yang membalut tubuh terlihat kedodoran menambah nyata tubuh kurusnya. Rambut ikalnya terlihat lebih gondrong. Kumis dan jambang mulai tumbuh. Ah, mungkin dia lupa bercukur atau sengaja membiarkan, pikirku. Penampilan yang tidak seperti biasanya. Mas Pandu-ku ini biasanya terlihat rapi dan klimis (2).  Kemana saja aku sampai tidak memperhatikan perubahan dirinya?

Saat tanganku terulur hendak menyentuh pundaknya untuk membangunkan, terdengar lirih dia menyebut sebuah nama.

“Sekar …”




Catatan :
(1)  wiridan : dzikir
(2)  klimis   : licin dan berkilap




#OneDayOnePost
#TantanganCerbung
#Bagian1

10 komentar:

  1. Aiiih cantiiik cerpennya! Deskripsinya mantapp!

    BalasHapus
  2. Terimakasih, Mbak. Masih belajar. Ini buat tantangan bikin cerbung :)

    BalasHapus
  3. Mantap euy.. cerbungnya mba Nova..
    Menyimak terus ni..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Pak Dedi. Semoga saya bisa menyelesaikan cerita ini dengan baik. Aamiin :)

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Balasan
    1. In syaa Alloh, Mas Ikhtiar. Terimakasih supportnya :)

      Hapus
  6. Mas Pandu itu apanya Sekar?
    Penasaran ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baca terus deh, Mas Heru biar tidak penasaran hehe

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...