Jumat, 09 Desember 2016

Cerbung Bunga Kemuning Bagian 5




Oleh : Nova DW




Ibu masih duduk diam membisu. Sesekali disekanya airmata yang jatuh perlahan membasahi pipi. Semesta seolah membisu turut merasakan pilu perempuan ayu berambut sebahu ini.


Terlihat kedua tangan yang berulang kali saling meremas karena gemas. Bahu yang naik turun dengan helaan napas terdengar berat menambah lara.

Semua itu tak sekejappun lepas dari pandangan Pandu, yang duduk di hadapan perempuan itu. Laki-laki itu tahu, dialah penyebab pilu hati sang bunda.

“Pandu …,” lirih suara Ibu memecah sunyi diantara mereka.

Dalem (1), Bu,” santun Pandu menjawab. Lembut suara Ibu yang memanggil namanya terdengar menyayat hati.

“Ibu jadi bingung harus bagaimana, Le (2). Harus bilang apa pada Bapakmu tentang masalah ini. Tak bisa kubayangkan murkanya. Duh Gusti … hamba mohon ampunanMu. Berat nian cobaan ini untuk keluarga hamba. Ampunilah dosa-dosa kami, ya Alloh.”

Kembali Ibu terisak sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.

Melihat Ibu seperti itu, Pandu pun sontak bangkit dari tempat duduknya dan bersimpuh di kaki perempuan itu.

“Maafkan, Pandu, Bu. Aku khilaf, aku berdosa pada Ibu,” tangis Pandu kembali menderas membasahi pipi. Tak dipedulikannya diri berurai airmata sembari sesenggukan seperti anak kecil yang direbut mainannya. Dia hanya ingin menumpahkan yang menyesak dalam dada.

Kedua tangan memeluk erat kaki Ibu. Ditumpahkannya tangis di sana. Ego laki-laki itu meluruh seiring duka.

Ibu hanya bisa mengelus dada. Dibelainya rambut Pandu perlahan. Beliau tahu, jiwa anak sulungnya tengah terguncang.

Badai prahara tengah hadir ditengah keluarga mereka. Ombak yang besar sedang menghadang laju kapal. Namun perempuan yang telah berpuluh tahun menjalani hidup penuh coba itu, berusaha tegar.

Tak seharusnya berkalung duka berpanjangan. Diyakinkannya diri bahwa setiap ujian pada setiap insan adalah bentuk kasih sayangNya pada umat manusia, dan untuk meningkatkan derajat manusia.

Namun tak dipungkirinya, hatinya memang lara. Helaan napas yang berat kembali terdengar.

.

Sementara, di sebuah rumah, tepatnya di sebuah kamar, seorang perempuan muda, berkulit kuning langsat yang membalut tubuh mungilnya, tengah terisak dan berulang kali menyebut sebuah nama.

“Mas Pandu…”



Catatan :
(1)      Dalem                                 :   apa (bahasa Jawa halus)
(2)      Le, penggalan kata Thole       :   panggilan untuk anak lai-laki (Jawa)





Baca juga : 
-          Cerbung Bunga Kemuning Bagian 1
-          Cerbung Bunga Kemuning Bagian 2
-          Cerbung Bunga Kemuning Bagian 3
-          Cerbung Bunga Kemuning Bagian 4





#OneDayOnePost
#TantanganCerbung
#Bagian5

4 komentar:

  1. Penasaran nih dg lanjutan lainny...

    BalasHapus
    Balasan
    1. In sya Alloh, ada lanjutannya, Mas Rohmat :)

      Hapus
  2. Wah saya belum baca edisi sebelumnya. Dibuat list dari yg pertama sampe sekarang biar urut.

    Pastiin ada link artikel

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...