Rabu, 28 Desember 2016

Cerbung Bunga Kemuning Bagian 18






Bagai langit runtuh menimpa Papa dan Mama kala mendengar kalimat yang keluar dari mulut Sekar. Bergetar tubuh mereka seolah tak percaya dengan apa yang didengar. Papa yang tak bisa menahan emosi pun menggelegarkan suaranya.


“Apa? Kok bisa? Siapa yang menghamilimu? Laki-laki gembel itu? Dasar b****gan!” geram Papa. Tangan terkepal dan wajah memerah menahan amarah.

Sekar hanya tertunduk diam. Tak tahu harus menjawab apa. Tangisnya menderas. Mama terduduk lemas di tepi tempat tidur kamar Sekar. Tiba-tiba Papa keluar dari ruangan itu dengan tergesa. Dituruninya anak tangga dengan langkah-langkah lebar. Saat itu hanya satu yang diinginkannya. Menemui pemuda itu, dan …

‘Plak!!!’

Pandu yang sedari tadi diam tertunduk, segera berdiri kala melihat Papa-nya Sekar datang menghampiri. Belum juga posisi tegak berdiri, orangtua itu sudah mendaratkan telapak tangannya di pipi kiri anak muda itu. Sedikit terhuyung, Pandu sontak kaget dan memegang pipi yang terasa panas. Ada sedikit darah segar keluar di sudut bibir. Perih.

“Dasar gembel! Kamu apakan anakku? B****at! Laki-laki tidak berguna!” hardik Papa yang ditujukan pada Pandu. Tak hanya itu, bertubi-tubi kata demi kata dan sumpah serapah pun terus mengalir deras dari mulutnya.

Pandu hanya tertunduk diam. Sebenarnya dia sudah siap dengan perlakukan itu, namun tak ayal tubuhnya bergetar dan dada terasa sesak mendengar cacian dari Papa-nya Sekar. Dalam diam terselip harap dan doa agar diberi kekuatan menghadapi sikap laki-laki berperawakan sedang, berkulit bersih dengan kacamata yang selalu bertengger di hidungnya yang tengah murka itu.

Melihat Pandu hanya diam saja, Papa yang masih dalam keadaan emosi, lantas mendekati, mencengkeram kerah baju pemuda itu dan bersiap melayangkan bogemnya. Bersamaan dengan itu, terdengar teriakan.

“Papa!!!” seru Mama dan Sekar bersamaan mencegah tindak anarkis Papa. Mereka berdua sontak menuruni anak tangga demi mendengar teriakan Papa yang begitu membahana memenuhi ruang tamu mereka.

“Sudah, Pa. Sudah …” cegah Mama demi melihat suaminya hendak memukul pemuda itu. Tangan Mama erat mencekal lengan Papa. Isak perempuan bertubuh mungil, langsat warna kulit tubuh dan selalu berdandan layaknya wanita karir masa kini itu mulai terdengar. Make up-nya mulai luntur tersapu tangis yang menderas.

Tiba-tiba …

“Papa, maafkan Sekar. Aku yang salah. Mas Pandu tidak bersalah, ampuni dia. Aku mohon,” Sekar pun bersimpuh dan memeluk kaki Papa yang masih berdiri terpaku dengan tangan terkepal, memandang penuh kebencian pada Pandu.

Hening beberapa saat. Hanya isak tangis dari Mama dan Sekar masih terdengar. Napas Papa yang tersengal menahan emosi mulai surut.

Melihat situasi panas mulai reda, Pandu pun angkat bicara.

“Bapak dan Ibu, mohon maaf atas kelancangan saya ini. Perkenankan saya menyampaikan sesuatu. Saya …” belum selesai Pandu berbicara, Papa sudah menyela.

“Diam kamu! Apalagi yang mau kau katakan?” emosi Papa tersulut kembali.

“Pa, biarkanlah dia bicara. Tahan emosi Papa. Beri dia kesempatan menjelaskan semua. Kita memang sedang kalut. Tapi menghadapi masalah ini dengan kepala panas tidak akan menyelesaikan masalah, Pa,” bijak Mama meminta pengertian Papa.

Sekar yang kaget dengan sikap Mama yang biasanya meledak-ledak namun kali ini bersikap tenang dan bijak, hanya diam sekaligus membenarkan sikap Mama, meski itu terucap dalam hati.

“Tapi, Ma …” Papa masih mencoba untuk bertahan dengan egonya.

“Mama mohon pengertian Papa,” tegas nada bicara terdengar dari mulut Mama. Lantas meminta Pandu untuk menjelaskan permasalahan yang tengah terjadi.

“Katakan apa yang ingin kau sampaikan pada kami. Siapa tadi namamu? Pandu?” Mama mencoba mengingat.

“Terima kasih, Pak, Bu atas pengertian dan kesempatan yang diberikan pada saya. Ijinkan saya memohon maaf atas kelancangan sikap dan tutur kata sehingga menimbulkan kekacauan di keluarga ini. Rasanya tak perlu panjang lebar yang ingin saya sampaikan. Pada intinya, saya dan Dik Sekar memang menjalin hubungan dan kami saling mencintai. Kami memang khilaf, tidak bisa menahan gejolak jiwa muda, hingga Dik Sekar hamil, berdasarkan hasil tes di dokter kandungan, dan usia kandungan sudah 2 bulan. Bapak dan Ibu tidak perlu khawatir, saya akan bertanggungjawab penuh pada Dik Sekar. Sekali lagi, saya mohon maaf atas semua ini,” dengan tenang Pandu mengatakan semua, meski gemuruh di dada tak bisa dicegah.

Ketenangan Pandu membuat suasana hening beberapa saat, hingga Papa kembali bicara.

“Apa kamu siap menafkahi? Memangnya mau dikasih makan apa anakku nanti?” tanya Papa dengan nada sinis.

“In syaa Alloh saya siap menafkahi, Pak. Saya sudah bekerja, meskipun dengan gaji tak seberapa, tapi saya rasa cukup untuk menghidupi Dik Sekar dan keluarga kecil kami nantinya. Apapun akan saya lakukan untuk Dik Sekar dan calon anak kami nanti,” mantap nada suara Pandu menjawab keraguan Papa.

“Kamu yakin?” selidik Papa.

“Yakin, Pak. Saya bisa membahagiakan Dik Sekar. Saya janji! Kami hanya butuh restu dari Bapak dan Ibu” ucap Pandu tanpa ragu.

Papa terdiam. Ada sesuatu dalam pikirannya, lantas memandang ke arah Mama dan Sekar





#OneDayOnePost
#TantanganCerbung
#Bagian17

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...