Senin, 26 Desember 2016

Cerbung Bunga Kemuning Bagian 16






“Kamu harus bisa menjaga diri, Pandu. Harus bisa menahan godaan apapun yang terjadi. Bapak merasa ada sesuatu antara kamu dengan Sekar,” urainya malam itu. Nalurinya mengatakan terjadi hubungan lebih dari sekadar pertemanan antara anak laki-lakinya dengan gadis muda itu, namun urung diutarakan.


“Kalian masih muda, pasti ada gejolak yang menghentak mempengaruhi kalian saat bersama. Ingat Pandu, kamu harus bisa lebih bersikap dewasa dan ngemong. Harus bisa mengingatkan Sekar bila mulai menunjukkan sikap lain. Bukan Bapak menganggap dia perempuan penggoda, tapi sebagai laki-laki, kamu harus bisa lebih menahan diri,” kalimat terakhir disampaikan Bapak dengan sedikit penekanan. Ada getar dalam dadanya.

Pandu masih diam tertunduk. Membenarkan penjelasan Bapak, namun tak mampu menanggapi. Peristiwa demi peristiwa yang tak mampu dielaknya kembali berkelebat. Kedua tangan saling meremas pertanda hati yang gelisah. Sikap Pandu tak luput dari pengamatan Bapak. Beliau tahu, ada yang disembunyikan dari anak mbarep(1)-nya ini.

“Besok kamu harus mengantar Sekar pulang. Bila bertemu orangtuanya, sampaikan dengan jelas kejadian yang menimpanya. Kamu harus bersikap baik, tenang dan dewasa. Jangan sampai mereka berpikiran yang tidak-tidak karena anak gadisnya menginap di rumah laki-laki yang belum halal baginya. Kamu juga harus siap bila sikap mereka mungkin kurang menyenangkan. Terimalah sebagai konsekuensi. Tetaplah santun, jaga sikap dan bicaramu. Ingat itu!” perintah Bapak.

Injih(2), Pak,” santun Pandu menjawab.

“Oiya, kalian besok naik motor saja. Tidak perlu membawa mobil,” sambung Bapak tanpa menjelaskan maksud dari perintah tersebut agar Pandu tidak berkendara, dengan mobil kijang grand extra biru metalik keluaran tahun 1995 milik mereka. Lantas Bapak beranjak dari ruang keluarga, meninggalkan Ibu dan Pandu. Perempuan yang sedari tadi diam lantas mendekati anak laki-lakinya dan mengelus kepala penuh sayang.

Dalam diam, laki-laki muda ini tahu, kasih Ibu yang begitu dalam telah dibalasnya dengan luka. Lembut terasa tangan perempuan yang telah melahirkannya, membuat Pandu begitu menyesal dan semakin merasa bersalah.

Sementara itu, Sekar yang menguping pembicaraan mereka dari balik tembok yang menghalangi dinding kamar tamu dan ruang keluarga, berjingkat pelan dan kembali ke kamar, demi dilihatnya Bapak beringsut menuju kamar pribadi.

Sekar duduk di tepi tempat tidur. Hatinya gelisah. Bilakah kedua orangtuanya bertemu Mas Pandu? Apa yang akan terjadi?



Catatan :
(1)    Mbarep        :   anak sulung (Jawa)
(2)    Injih            :   iya (Jawa)




≠OneDayOnePost
≠TantanganCerbung
≠Bagian16






2 komentar:

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...