Selasa, 25 Oktober 2016

Tolong Bantu Doa Saja!





Membaca sebuah tulisan dari seorang teman tentang jodoh, seolah mengingatkan akan diri, bahwa saya pun pernah mengalami hal seperti itu. Menanti sang pangeran menjemput dengan kereta kencana untuk dibawa ke istana cintanya (ehem ehem).

Ketika usia sudah melebihi seperempat abad, dan status masih sendiri, berbagai komentar mampir ke telinga. Tentu saja komentar yang tidak jauh dari status kesendirian saya. Macam-macam isinya, mengira saya pilih-pilih lah, sok cantik lah, dan sebagainya (tak perlu diungkap lah), membuat rasa tak nyaman menjalari diri.


Apalagi kalau yang bertanya teman-teman yang udah duluan nikah. Tiap kali ketemu, yang ditanya sama (apa pada kompakan ya?). ‘Kapan kamu nikah?’

Pertanyaan yang sangat bikin galau. Jujur, saya pun ingin segera menikah. Ingin segera menggenapkan dien.

Ikhtiar dong. Doanya kurang kenceng, kali.  Ada pula yang berpendapat begitu. Kalau soal itu sih jangan diomongin lagi. Namanya juga usaha. Tapi kalau memang belum datang sang pangeran cinta, karena memang kehendak Alloh, bagaimana?

Tapi saya punya keyakinan, kalau memang Alloh sudah kasih itu waktu buat kita menikah, pasti datang kok! Dengan caraNya, yang kita tidak akan duga! Dan alhamdulillah, Alloh memang menyegerakan saya bertemu dengan suami.

Kejadian-kejadian yang dialami teman-teman (terutama perempuan) yang masih belum menikah, membuat empati timbul untuk mereka.
Dari sini pula lantas terbersit untuk mengubah kebiasaan yang mungkin saja membuat mereka menjadi tidak nyaman. Misalnya, saat bertemu, tidak langsung membombardir dengan pertanyaan seputar ‘kapan nikah’. Saya pun mulai belajar membiasakan untuk terlebih dahulu menanyakan kabarnya, kesehatannya, orangtuanya, pekerjaannya dan sebagainya.

Bahkan mungkin tak ada obrolan ke arah jodoh.  Meski tak terucap dengan lisan, saya cukup mendoakan dalam hati agar si teman segera bertemu jodohnya. Mungkin itu cara yang lebih baik.

Bahkan mungkin itu juga yang digaungkan teman-teman yang masih ‘sendiri’. Tolong bantu doa saja! Daripada ‘kami’ mendengar komentar-komentar yang membuat tidak nyaman. Bukankah mendoakan kebahagiaan orang lain adalah suatu kebaikan juga? Bahkan bisa berbuah pahala?

Dan sayapun hanya bisa berharap dan mendoakan, semoga yang belum bertemu jodohnya segera dipertemukan oleh Alloh SWT. Aamiin.


#OneDayOnePost
#Batch3
#HariKe17





6 komentar:

  1. kegalauan umum yang dirasa para jomblowan jomblowati

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, mbak Febie. Moga mereka segera dipertemukan dengan jodohnya, aamiin :)

      Hapus
  2. Iya, nggak usah nanya kapan nikah. Jodoh bukan seperti kerupuk yang tinggal beli diwarung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau beli kerupuk kan langsung dibawa pulang ya, Mbak? Hehe

      Hapus
  3. Sangat menarik, lugas & solutif.
    Tetap semangat after ODOPnya ya mbak Nova...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih untuk supportnya, Pak Dedi :)
      Salam santun dari saya.

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...