Rabu, 05 Oktober 2016

Gehing

Sumber foto : google



“Aku ndak bisa meneruskan, Dik,” ujar Mas Bimo. Kata-katanya mengagetkan.
“Apa maksudnya, Mas?” membuat dahi berkerut. Kenapa Mas Bimo tiba-tiba bilang begitu, bingungku.

“Mmm … bagaimana ya, Dik. Aku bingung bilang ini ke kamu,” sembari kedua tangan saling meremas. Kebiasaannya bila gelisah. Lalu kepalanya menunduk.  Aku tak sabar ingin mendengar kelanjutan kata-katanya.


“Mas mau bilang apa, ndak bisa meneruskan bagaimana? Soal hubungan kita? Atau apa?” cecarku.

“Maafkan aku ya, Dik,” ucapnya pelan.

“Ahh … Mas Bimo bikin bete deh. Sudah, bilang saja, ada apa? Aku siap mendengar apapun yang akan Mas katakan,” emosi mulai tersulut. 

“Sekali lagi, aku minta maaf, Dik Retno. Aku tidak bisa meneruskan hubungan ini,” kata-katanya bagaikan petir. 

“Apa??? Kenapa, Mas?” kurasakan mata ini panas, isak mulai memenuhi rongga dada. Menyesakkan.

“Maafkan, aku, Dik. Aku tak kuasa,”

“Katakan, apa alasanmu! Katakan, Mas.”

“Aku … aku. Ibu … “

“Kenapa dengan Ibumu? Apa dia akan menjodohkan kamu, dengan gadis pilihannya?”

“Bukan itu, Dik. “

“Lantas apa? Sudah, tidak usah muter-muter. Katakan alasanmu!”

“Karena weton kita, Dik.”

“Ada apa dengan weton kita?

“Ibu bilang, bila weton kita disatukan, tidak bagus jadinya. Akan membuat celaka dalam keluarga. Makanya, kemarin Ibu menanyakan wetonmu, Dik. Reaksi Ibu sangat kaget. Ibu bilang, mumpung hubungan ini belum jauh, Ibu minta kita tidak melanjutkan hubungan ini.”

Aku terhenyak. Lemas. Hanya karena weton, jalinan asmara kami terancam kandas. Wetonku Pahing, weton Mas Bimo Wage, bila disatukan menjadi ‘Gehing.’ Menurut hitungan Jawa, bila kedua weton disatukan tidak baik bagi kelangsungan hidup berumah tangga, akan menimbulkan banyak bencana.

Ahh … kenapa Ibunya berpikiran seperti itu? Menganggap bahwa mitos atau apapun kepercayaan yang sudah turun temurun dipercayai masyarakat, terutama di Jawa, seakan menjadi tolok ukur kehidupan manusia, bila dilanggar akan timbul bencana besar? 

Bukankah takdir masih bisa diubah, dengan ikhtiar dan tawakal yang sungguh-sungguh? Kitalah yang menentukan nasib kita sendiri. Apakah mereka lupa, bahwa ada Dia penentu segala?

Kepalaku rasanya sakit sekali, serasa sebongkah batu jatuh di atasnya.


Catatan :
-         Muter-muter       :   keliling-keliling tidak jelas
-         Weton                :   hari pasaran lahir (Jawa)
-         Pahing, Wage   :   hari pasaran (Jawa)


#OneDayOnePost
#Batch3
#HariKe-3
#Cerpen

18 komentar:

  1. Orang yang tinggal di kampung masih banyak yang kental akan adat, ya ka. Gak cuma di Jawa ckck

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Dek. Masyarakat kita masih kental dengan budaya. Hanya saja, terkadang terlalu percaya hal-hal yang bertentangan dengan agama.
      Terima kasih sudah mampir di blog aku ya :)

      Hapus
  2. Memang masih banyak yang percaya ini

    BalasHapus
  3. Memang masih banyak yang percaya ini

    BalasHapus
  4. Memang masih banyak yang percaya ini

    BalasHapus
  5. Waduh..terlalu pendek tuh ceritanya mbk Nova..saya pikir masih panjang hehe..ceritanya bagus klo dibikin konflik rada panjang asyik juga tuh ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo dipanjangin konfliknya, ndak jadi cerpen, tapi cerpan dong mbak hehe. Becanda, Mbak Tita.
      Makasih udah mau mampir, juga krisannya ya :)

      Hapus
  6. Iya. Kadang pusing sendiri dengan ini. Ada-ada saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi memang hal ini masih terjadi di sekitar kita,Mbak Rahayu.
      Thx udah mau mampir ya :)

      Hapus
  7. Memang faktor budaya yang sudah mengakar kuat sangat mempengaruhi pola pikir sebagian orang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, mbak Ane dan masih terjadi di tengah masyarakat kita.
      Terima kasih sudah mau mampir :)

      Hapus
  8. Ih idenya bagus mbak. Bikin baler...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baler apaan mbak Vinny? :)
      Makasih udah mau mampir

      Hapus
  9. Dan akhirnya, odop membuat kita curhat di blog.. haha
    Kerennn mba nova, sepertinya aku akan jadi penggemar tulisan" fiksimu.. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga jadi curhat yang manfaat ya Mbak Indah hehe

      Hapus
  10. Wah kasihan kayak cerita hayati dan zainuddin hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi memang masih ada lho mbak, cerita kayak gini hehe
      Terima kasih sudah mau mampir

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...