Senin, 24 Oktober 2016

Brosur Rahasia (Bagian 2)







“Ayolah, nunggu apalagi sih? Ndak usah pilih-pilih, deh, ntar dapat bangkotan baru tau rasa!”

“Merasa cantik, sukses, trus ndak mau ama yang biasa-biasa aja?”

“Malming cuma di rumah doang? Ih … merana sekali hidupmu!?”

“Sampai kapan mau ngejomblo?”


“Inget umur …! Mau … disebut perawan tua?”

Dan bla … bla … bla …

Komentar-komentar nyinyir yang sering mampir di telinga membuatku senewen, jengkel, marah, tapi tak tahu harus bagaimana melampiaskan. Rasanya ingin saja berteriak.

Woooiiii … ini hidup gue! Mau ngapain aja, ya terserah gue! Suka-suka gue! Apa urusan lu, ngatur-ngatur! Ingin rasanya menyumpal mulut-mulut usil itu dengan bersendok-sendok sambal super pedas biar mereka berhenti bicara! Jahat ya? Biarin! Bodo amat! Duh!

Tapi …

Gimana kalau yang berkomentar ortu sendiri? Ehem …

“Nduk, kamu sudah punya pacar apa belum? Kalau sudah, mbok ya dikenalin sama Bapak dan Ibu. Ajak main ke rumah. Sudah bukan saatnya lho, mikirin pacar. Seusiamu dulu, Ibu malah sudah punya dua anak. Masmu dan kamu. Wes to, ngenteni opo maneh?” (1) lembut Ibu bertutur padaku sore itu.

Injih,(2) Bu,” ucapku seraya menunduk tak berani menatap Ibu. Jengah.

“Ibu juga pingin segera menimang cucu, lho. Lha, Masmu yo belum mau nikah. Masih ingin berkarir. Bapak dan Ibu tidak mempermasalahkan, wong (3) dia juga sudah punya pacar. Lha kamu. Ibu lihat kok belum pernah ada lagi pria istimewa selain pacarmu di SMA dulu. Siapa namanya? Heru? Atau Heri? Ah … Ibu lupa. Wes, ndang nggolek pacar, dikenalke Bapak Ibu, trus suruh nglamar! (4)” panjang lebar Ibu memberi petuah dan mendaulatku bak raja memberi perintah pada pengawal istana.

Etdah. Ibu ini bagaimana? Dikira jodoh kayak beli cabe di pasar? Tanpa perlu menawar langsung bawa pulang? Duh …

Aku cuma manggut-manggut tanda mengiyakan. Lalu berlalu sambil garuk-garuk kepala.

*

Bukannya aku tidak peduli dengan pernikahan. Bukan pula aku lebih mementingkan karir. Tapi, aku merasa memang belum ketemu jodoh. Klise ya kedengarannya? Tapi memang ini kenyataannya.

Menikah bagiku tidak semata menyatukan dua hati, dua kepala, dua rasa dan dua-dua lainnya. Namun aku ingin, kelak laki-laki pilihan adalah yang bisa jadi imam, pembimbing menuju jannahNya. Aku ingin laki-laki itu bisa menggenapkan separuh dienku dan bisa mengiringi langkah menggapai ridho Ilahi.

Hingga saat tengah surfing di dunia maya, iseng kuketikkan situs beberapa biro jodoh islami. Mungkin dengan cara ta’aruf seperti ini aku bisa menemukan ikhwan dambaan. Ya … meskipun aku terkadang masih suka bicara blak-blakan, siapa tahu, bisa ketemu ikhwan yang bisa merubah perangaiku menjadi lebih lembut. Ehem …

Setelah menemukan apa yang kucari, kumantapkan hati mengikuti prosedur yang diinginkan biro-biro itu.

*

Tapi … sore itu!

Kudengar Ibu meneriakkan sesuatu yang tidak terduga sama sekali.

“Lho … ini kertas apa? Kok ada foto mantan pacarmu? Kok kayak ada yang berubah ya? Oh ini dia! Sekarang pakai kacamata, ada jenggotnya sedikit kayak ustadz yang ngisi pengajian di perumahan sebelah. Ini apa to, Nduk?” (5) tanya Ibu bertubi-tubi sambil menyodorkan beberapa lembar kertas padaku.

Aku tercenung. Memaku diri sembari mengingat kealpaan tidak menyimpan rapi dan membiarkan brosur-brosur itu berserakan di meja ruang keluarga.

Catatan
(1)        Sudahlah, nunggu apa lagi?
(2)        Iya
(3)        Orang
(4)        Sudahlah, segera cari pacar, kenalkan Bapak Ibu, terus langsung suruh melamar
(5)        Panggilan untuk anak perempuan di Jawa


#OneDayOnePost
#Batch3
#HariKe-16
#Cerpen

8 komentar:

  1. Waah apakah ini kisah nyata kak nova???
    Keren kak... Hehe...
    Jadi penasaran itu kelanjutannya gimna....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lhaa ... dilanjut lagi ini? Hmmm mikir lagi deh hehehe

      Hapus
  2. Balasan
    1. Lanjut nih? Penasaran ya? Hehe. Thx udah mengapresiasi tulisanku ya :)

      Hapus
  3. Eh keren, akhirnya jadi tulisan bersambung.

    Ditunggu lanjutannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ecieee, Mbak Wid nunggu kelanjutannya nih :D

      Hapus
  4. jangan disumpel pake sambel mbak. cabe mahal mending pake batu krikil

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...