Senin, 26 September 2016

Ketika Harus Resign



Sumber : google

“Kegiatanmu apa saja sekarang? Aku dengar udah resign ya? Apa suamimu melarang? Ndak sayang tuh, gaji gede ditinggalin begitu saja?” tanya Arie pada sahabatnya, Ayu yang baru saja menikah. 

“Ya, aku jadi ibu rumah tangga. Ini sudah keputusanku dengan Mas Rio kok,” jawab Ayu diplomatis.


Arie tidak mau bertanya lagi. Lebih tepatnya, malas. Percuma saja menanyakan lebih lanjut pada Ayu. Hanya tidak habis pikir saja, hari gini,  disaat orang lagi susah nyari  kerjaan, eh, si Ayu malah keluar dari pekerjaan. Mana gajinya gede, pula.

Sebelum menikah, Ayu memang bekerja di sebuah perusahaan dengan posisi manager supervisor. Keputusan resign merupakan kesepakatan antara Ayu dan suaminya. Selain itu, Ayu beralasan ingin menjalankan kewajiban sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya kelak. Bukan hanya alasan klise, namun sudah melalui berbagai pertimbangan kala memutuskan resign. Toh, suaminya sudah menyatakan kesanggupan akan kewajiban menafkahi keluarga.

Bagi perempuan bekerja seperti Ayu, sebelum mengambil keputusan untuk resign, selain karena larangan dari suami, tentu ada beberapa hal yang perlu menjadi bahan pertimbangan langkah yang dilakukan sebelum resign, antara lain :
1.     Siapkan psikis Anda
Terbiasa dengan berbagai kesibukan lantas berhenti karena telah resign dari pekerjaan, bagi perempuan yang pada awalnya bekerja, bisa menimbulkan gangguan psikis tersendiri.  Oleh sebab itu, sebelum resign, persiapkan diri dengan sebaik-baiknya agar tidak menimbulkan stress.  Bantuan pasangan dalam hal ini sangat diperlukan, terlebih bila alasan resign adalah karena larangan bekerja dari pasangan.

2.     Bicarakan tentang finansial keluarga dengan pasangan
Berhenti bekerja, tentu akan mempengaruhi kondisi finansial keluarga. Bicarakan baik-baik dengan pasangan, dan ingatkan kewajibannya (suami) untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

3.     Belajar bijak mengatur keuangan keluarga
Mempersiapkan diri untuk belajar mengatur keuangan keluarga merupakan salah satu langkah yang bijak. Diskusikan dengan suami tentang hal ini. Buatlah beberapa kesepakatan tentang pos-pos pengeluaran. Biasakan terbuka dalam masalah keuangan.  Uang adalah hal yang vital dalam hidup ini, bukan?

4.     Tetap produktif meski di rumah
Meskipun sudah tidak berstatus sebagai karyawan, Anda tetap bisa menjadi perempuan produktif di rumah. Lakukan aktivitas yang menyenangkan.  Bila memungkinkan dan mendapat ijin dari suami, lakukan kegiatan positif dan menghasilkan dari rumah. Misalnya Anda hobi memasak atau membuat kue, cobalah untuk menjual pada tetangga, teman dan sahabat. Anda juga bisa menjualnya secara online. 

5.     Jangan lupa untuk bahagia
Berhenti bekerja bukanlah akhir hidup Anda. Tetaplah lakukan kebaikan dimanapun Anda berada. Belajar untuk ikhlas, tetap bersyukur dengan hidup Anda, dan kebahagiaan akan datang.

Semoga bermanfaat.

2 komentar:

  1. apapun keputusan wanita, bekerja di rumah dan di luar rumah selalu ada alasan tersendiri dan konsekwensi dari setiap keputusan yang diambilnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak Wiwid, being a full time or working mom, perempuan harus siap melakukan tugasnya :)

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...