Senin, 11 April 2016

GELIAT EMBRIO


   "Ini sudah memasuki bulan keempat, Bu," kata bidan. Sontak kaget menyerang. Kuarahkan pandang pada sosok di sebelah yang makin menunduk. Setelah membayar biaya periksa, kami keluar ruangan.

        Motor kulajukan dengan pelan. Banyak hal berkecamuk dalam pikiran.Aku merasa gagal. Tidak bisa mendidik anak dengan baik, kukutuk diri.


        Lamunan terhenti kala kurasa ada yang tidak beres dengan motor. Jalannya oleng. Bergegas kami turun. Kulihat ban depan kempis. Terpaksa motor dituntun. Untunglah, tak begitu jauh, kami temukan tukang  tambal ban dan menjelaskan keluhan motor. Sambil menunggu, aku dan si cantik duduk di kursi yang tersedia, pandangan beralih ke sosok di sebelahku. Perempuan mungil berambut lurus sebahu. Lesung pipit menambah ayu. Kulitnya putih bersih. Dengan mata yang agak sipit mirip keturunan Cina, ditambah hidung mancung, semakin menambah cantik paras wajah. Wajar banyak lelaki terpikat padanya. Dia adalah Fitra, anak perempuan kami satu-satunya. Kupandang lekat dia, sadar bahwa aku kurang memberi perhatian dan kasih sayang padanya.

        "Bu ... ini sudah selesai. Ban sudah tidak bocor lagi." Santun anak muda itu berkata. Sedikit kaget dan salah tingkah. Merasa ketahuan melamun.
"Ah ... ya. Terima kasih. Berapa ongkosnya?" tanyaku.
Setelah menyebut sejumlah angka, bergegas kubayar dan kami melanjutkan perjalanan. Fitra lebih banyak diam. Aku bisa merasakan kegalauan hatinya. Sesekali ada cengkeraman kuat di jaketku dari tangannya.

        Setibanya di rumah, bertiga di ruang keluarga, kusampaikan pelan pada suami tentang kondisi Fitra. Sontak berdiri sembari menahan amarah. Suamiku siap melayangkan tangan di pipi Fitra. Aku pun berdiri, berusaha mencegah tindak anarkis suami. Memohon tidak melanjutkan aksi. Sekilas kulihat Fitra makin menunduk, menyembunyikan tangis. Ah ... teriris rasa hati tatkala belahan jiwa terluka seperti ini. Aku harus mengambil keputusan bijak sebagai penengah antara suami dan Fitra, meski hatiku remuk bukan kepalang.

        Akhirnya, dengan kelembutan seorang ibu, kucoba mengajaknya bicara dari hati ke hati. Berharap dia mau jujur dan terbuka, menceritakan semua padaku. Dalam kamarnya, kupeluk erat tubuh mungil kesayangan kami ini. Membelai rambutnya dengan penuh sayang. Ingin rasanya menyampaikan bahwa aku sangat mencintainya. Namun bibir terasa kelu, tak sanggup mengurai kata. Aku mencoba mengusap punggungnya, dan kurasakan tubuhnya lebih kurus dari sebelumnya. 'Berat nian bebanmu, nak,' batinku.

        Tiba-tiba, Fitra bersimpuh. Mencium kakiku. Memohon ampun.
"Ma ... aku minta maaf. Aku ... aku ..." terbata sambil menahan isak, Fitra meminta maaf padaku.
"Sudahlah, nak. Mama sudah memaafkanmu. Ayo, sini, duduk di samping mama." Kupegang lengannya, sembari mengajak duduk disampingku.

        Kembali aku memeluknya. Lebih erat lagi. Membelai lagi rambutnya. Mencium keningnya. Aku ingin menunjukkan bahwa meski dia telah menyakiti perasaan papa dan mamanya, namun sepenuhnya bukan salah Fitra. Aku dan papanya terlalu sibuk dengan urusan kami, hingga kurang memberi perhatian dan kasih sayang pada Fitra. Papanya yang sering keluar kota dengan bisnis pengadaan spare part kendaraan bermotor, dan aku yang sering kewalahan memenuhi orderan kateringku, hingga tak punya banyak waktu untuknya. Nyaris tak ada komunikasi diantara kami bertiga di rumah. Kesalahan kami juga menjadi salah satu faktor yang membuatnya terjerumus melakukan perbuatan nista.

        Tapi kurasakan bagai petir menggelar dan tak sanggup lagi mendengar kata-kata Fitra saat dia menceritakan bahwa janin yang ada di perutnya merupakan hasil hubungan asmara dengan kedua pacarnya.

        Apa pula ini ? Kenapa harus dua ? Satu saja sudah membuat pening kepala. Fitra hanya menjawab sambil menangis bahwa mereka bertiga terlibat cinta segitiga. Fitra sayang keduanya, dan tak mau melepaskan salah satu diantara mereka. Kesepian dan kurangnya perhatian serta kasih sayang kedua orangtua membuatnya masa bodoh. Lena dan nafsu cinta remaja menggelegak dipenuhinya. Tiba-tiba semua menjadi gelap bagiku.


Kota Angin, 11 April 2016



   

2 komentar:

  1. Semoga anak2 kita terhindar dr hal demikian.. Aammiin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ...
      Terima kasih sudah berkunjung ke blog aku, Bang Syaiha :)

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Pastikan Anda mencantumkan nama dan url blog, agar saya bisa berkunjung balik ke blog Anda. Semoga silaturahmi kita terjalin indah ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...